Yang ini ya gak seronok, patung Dewi Victory letaknya persis di Jantung kota Berlin. Patung di atas tower setinggi 68 meter ini sebetulnya luarbiasa cuantik, tapi dasar daku motretnya bego dan dari belakang pula, jadilah ya begitu. Tetapi patung ini merupakan jantung Berlin mengingatkan pada kita kejayaan Berlin dengan armada perangnya di jaman itu, di abad-abad 18-an.
Nah yang ini memang seronok banget, kok tega-teganya narok patung anak mewek mewek telanjang tititnya kemana-mana.....Lagipula siapa pula yang ngarang, pasti senimannya bengal banget... Lha...yang ini lebih gila lagi, kaki kok dibuat kaya kaki ayam, mana ngangkang pisan, eh bagian itunya pating kruwel binatang laut...wah wah.... ini bener-bener bizar dah... Tega-teganya pula para turis yang mengagumi patung cewek telanjang dada ini, buah dadanya kok ampe mengkilat dielus elus melulu.... hele..hele..  Patung yang ini buah dadanya gak terlalu dielus-elus rupanya, tapi yang lebih menarik justru pahanya yang semok, habis deh tuh....  Pengunjung kayaknya memang gak tertarik dengan patung berbuah dada kecil dan perut njembluk, jadi patung ini kelihatannya rada selamat.  Tapi, barangkali ngelus-ngelusnya memang harus di bagian belakang...sambil dicengengesi buaya...  Coba siapa yang bisa tahu patung ini menceritakan apa? Daku berdiri lama banget disana susah mengerti juga, sampai ada orang berdiridi dekatku kirain ikut nonton patung gak tahunya lagi nonton daku, nih ibu satu ngapain kok bingung sama patung?  Ini? Embuh.... Siapa yang mau ngelus idung kambing Bok? Jadi patung yang persis di trotoar ini selamat dari tangan2 manusia usil.  Sama-sama gak pakai celana yaks? Siapa terkuat ?
Beberapa minggu lalu ada berita di TV, kepala patung lilin Hitler di mesium Madam Tussoude Berlin dipenggal orang. Saat itu juga aku berteriak pada suamiku, eh gimana kalau kita melihat Berlin saja, bolak balik liwat sana gak pernah bermalam di Berlin. Sekali-kali dong. Kukontak BBI Reizen yang biasa menawarkan hotel-hotel yang sedang ngiklan bagi pemilik kartu Makro. Akhirnya, atas rancangannya, kita mendapatkan hotel menginap di Berlin tiga malam, Pilzen - Tjeko empat malam, dan Salzburg - Austria dua malam. Dalam perjalanan itu kita sempat juga keliling Polandia selama seharian. Mengikuti sejarah Berlin, merasakan panasnya musim panas, diantara sesaknya pengunjung  turis, pikiranku melayang-layang membayangkan betapa gilanya sejarah Berlin - sejarah yang paling panas di dunia. Di kota ini jugalah Karl Marx ribet kampanye aliran komunisnya, di kota ini jugalah Hitler memulai perang dunia kedua, kota ini jugalah yang telah membabat habis warga Yahudinya, dan di kota ini jugalah akhirnya dibelah oleh kekuasan politik komunis di bawah Rusia hingga penduduknya perlu dibagi dua dengan tembok Berlin yang barang siapa yang berani meliwatinya akan ditembak oleh tentara Rusia. Peringatan itu masih bisa kita rasakan jika kita memandang Brandenburg Tower - tempat peringatan kisah tembok Berlin.
Sejak lepas dari kekuasaan Rusia, diakhir perang dingin, tembok pemisah itu dihancurkan. Kini Berlin sibuk bebenah diri. Kota yang dahulu luarbiasa indah dengan bangunan-bangunan luar biasanya hancur oleh bom PD II, tetapi sisa-sisanya masih bisa kita rasakan. Banyak bangunan itu kembali dikonstruksi seperti aslinya. Namun diantara bangunan baru, flat-flat moderen masih menyisakan pecahan-pecahan sisa bangunan sebelum perang.
Misalnya bangunan ini - Katedral yang luar biasa Indah, ia tetap utuh. Tetapi istana yang letaknya di seberangnya dihancurkan dan pernah dibangun kantor pusat rezime komunis, kini dihancurkan kembali dan akan dibangun istana sebagaimana semula berdasarkan data-data dokumentasi. Masih banyak lagi bangunan yang indah-indah luar biasa, yang masih bisa kita nikmati. Kekayaan Berlin memang luarbiasa.
Kita masih bisa juga melihat tembok berlin di beberapa tempat. Atau membeli potongan-potongan tembok Berlin sebagai suvenir di toko-toko. Bukan hanya menikmati bangunan-bangunnya yang bisa kita liwatkan di Berlin, kita juga bisa membaca banyak buku sejarah pergolakan Jerman, mulai dari sejarah pergolakan pemikiran Karl Marx, pemikiran Hitler dalam bukunya Mien Kampf. Atau buku-buku berisi foto-foto yang menyayat saat kekuasaan Hitler yang menghabiskan penduduk Yahudi, maupun foto-foto betapa sedihnya dalam kehidupan rakyat Berlin yang dibelah dua dibawah dua kekuasaan politik yang berbeda. Tk ketinggalan kita masih bisa membeli berbagai video domukentasi sejarah Berlin.
Nyambi sakit beberapa bulan lalu itu, aku masih sempat menyelesaikan sebuah buku terjemahan dari bahasa Belanda ke Bahasa Indonesia. Judul Aslinya Het is ADHD, yang ditulis oleh direktur majalah Balans, Arga Patternote, dan JK Buitelaar guru besar psikiatri anak. Buku yang praktis bagi guru dan orang tua ini diberi kata pengantar oleh Kepala Direktorat PSLB. Draft yang sudah kukirim ke penerbit ini, sekarang sedang dalam proses. Mudah-mudahan bisa terbit secepatnya. Buku ini jelas NO Pseudoscience. Awalnya suatu kali Pak Fred Vrugteveen orthopedagog ahli autisme yang bekerja di Indonesia meneleponku, mengabarkan baru mendapatkan buku dari Prof Buitelaar. Omong punya omong, gimana kalau kita terjemahkan saja. Maka kusuratilah kedua penulis itu. Oke banget katanya. Buku sudah selesai, eh, Direktur PSLB memintaku supaya membuat resume2 berbagai masalah seperti itu, buku kecil - katanya, yang jelas untuk pegangan guru dan orang tua. Maka kukejarlah beberapa yang ahli dibidangnya supaya kita menulis bersama-sama. Kini sebuah buku lagi hampir selesai, yaitu tentang Gangguan Belajar. Buku yang diminta dengan bahasa sederhana ini, ternyata cukup pusing membuat bagaimana supaya sederhana bisa dibaca siapapun, tanpa kehilangan jalur ke ilmiahannya. Tetap NO PSEUDOSCIENCE. Yang edun adalah, berbagai buku acuan yang kupakai jelas menganjurkan: pendekatan psikologi-pedagogi untuk masalah gangguan belajar primer (Learning disabilities). Tidak membenarkan menggunakan obat-obatan karena akan percuma wae, sebab gangguan ini adalah gangguan neurologis dan genetik. Tetapi edunnya justru buku ini akan menjadi kontroversial buat Indonesia sebab publikasinya di Indonesia gangguan belajar bisa disebabkan segala macam, termasuk kurang gizi, alergi, keracunan, dan sebagainya. Bahkan kini di Indo sudah banyak berdiri klinik2 gangguan belajar, dengan pengobatannya pakai megadosis vitamin dan PIRACETAM yang sudah terkenal obat bohong buat masalah ginian....Kliniknya dibangun oleh dokter, padahal masalah gangguan belajar adalah masalah disekolah yang selayaknya menangani adalah orthopedagog dan psikolog sekolah. Menyusul - kita juga tengah merancang sebuah buku panduan buat guru dan orang tua, kali ini tentang autisme, yang lagi-lagi penulis yang kukumpulkan adalah kelompok NO PSEUDOCSIENCE. Lagi-lagi.... kontroversial dengan segala publikasi yang ada di Indonesia. Kontroversial itu nampaknya ,makin menjadi-jadi, sebab akhir-akhir di milis yang kubina banyak sekali yang masuk dari segala arah mencari info kontra. Masih kecil2, terlambat bicara tetapi diagnosanya semua autisme. Orang tua mencari info kontra karena merasa anaknya kok ternyata mempunyai karakteristik yang kurang cocok dengan autisme. Tetapi mengapa diberi diagnosa autisme juga? Bisa jadi selama ini terlambat bicara memang di bidang kedokteran dianggap sebagai kondisi yang mempunyai prognosis baik, jadi biasanya tidak diberi penanganan. Tetapi dunia kini telah mempunyai cara pandang berbeda untuk anak terlambat bicara. Sudah diketahui dengan baik bahwa anak terlambat bicara akan mengalami kesulitan saat bersekolah, ia merupakan anak berrisiko. Sekalipun berrisiko, tetap ia bukan autisme. Jadi oleh dokter anak-anak ini tetap dicekal dan diberi diagnosa autis. Tetapi apa itu fair engga sih buat yang punya anak? Maksud dokter, diberi diagnosa itu supaya orang tuanya gak lari dan tidak memberikan terapi apa-apa pada anaknya. Mengapa gak dikasih tahu saja secara fair? Kok pakai ditipu-tipu dulu diberi diagnosa autisme? Tak percaya kah dengan para orang tua yang sudah pasti akan setengah mati membina anaknya agar menjadi anak yang baik. Bagaimana strategi pembinaan masyarakatnya?
Gambarnya sih gak ada hubungannya dengan dongengku. Tapi foto ini kuambil bulan Maret lalu saat salju turun. Kuambil dari sofa di ruang belakang dimana aku setiap hari sepanjang hampir dua bulan gletakan melulu karena sakit "beraaaatttt..... "yang penyebabnya gak keren itu, diare... Kayaknya romantis ya, semua rumput dan pepohonan tertutup salju... Dua hari ini aku sudah mulai klayaban jalan-jalan. Sudah lama gak keluar-keluar rasanya kok ya kangen juga. Sekalipun kadang kaki masih kayak nenek-nenek letoy, tapi lumayanlah. Berat badan juga sudah mulai naik sedikit. Yang jelas dehidratasi sudah teratasi, dan otot gak glambiran lagi. Jalan-jalan di shopping center buat blanja-blanja, tentu saja ketemu orang sekampungku. Lho, setiap orang yang kenal dengan keluargaku, entah itu kenalan suamiku, kenalan sepupunya suamiku, kenalan mertuaku, maupun para orang tua anak-anak SD nya Entong dimana aku kerja volunteeran disana, selalu menyapa: "He... sudah sembuh ya?" "Gimana, akhirnya bisa ketemu juga penyakitnya?" "Akhirnya dapat obatnya?" "Obatnya kerja baik ya?" Wah wah... kok banyak bener yang tahu nasibku ini. Padahal mereka kan gak baca-baca MP ku ini. Wala.... dioreddel rupanya daku ini.... sakit mencret doangan beritanya sampai sekampung tahu semua, yakiisss....
Gifted visual spatial learner, adalah istilah yang digunakan oleh Linda Kregger Silverman, seorang psikolog ahli gifted children – direktur gifted center Colorado. Anak ini kuat dalam berpikir konsep, analisa, dan logic matematika. Ia berpikir mendahulukan yang global. Cara berpikirnya secara simultan, dalam bentuk gambaran gambaran di kepala, tanpa kata-kata dan sangat cepat.
Dalam berbagai buku tentang gifted visual spatial learner, dan berbagai laporan pendidikannya, anak-anak ini mengalami kesulitan di sekolah. Angkanya sering jelek di mata ajaran yang menggunakan bahasa. Roel de Groot dalam bukunya de beelddenkers (visual learner), anak-anak seperti ini memang akan mengalami masalah dalam bidang semantik (pengertian bacaan). Bukannya ia tidak mengerti karena kecerdasannya kurang, tetapi karena cara berpikirnya yang sering kebablasan. Begitulah yang terjadi dengan si Entong, angka matematika nyaris paling tinggi di kelas, geografi dan ilmu alam dapat sepuluh terus menerus, tetapi mengapa di bagian-bagian lain yang berkaitan dengan teks mendapat angka pas-pasan?
Apa yang sebenarnya terjadi, mengapa selalu saja menjawab pertanyaan dari suatu bahan bacaan ia mendapatkan angka jelek? Jika diulang secara mondeling, sangat baik, tetapi jika harus menjawab dengan tulisan, salah.
Kucoba dengan pertanyaan ini: “Joel akan pergi ke shopping center akan membeli es krim”….. lalu kutanya ia: “Apa sebenarnya yang tergambar di kepalamu?” Ia menjawab: “Joel sedang menjilati es krim horn. Karena es krim horn adalah kesukaannya, pasti ia membeli itu…”
Jawabannya tentu saja salah, yang benar adalah: Joel mau pergi ke shopping center akan membeli es krim. Jadi es krim belum di tangan. Barangkali Joel baru keluar pintu mau pergi…. Barangkali kali ini dia malah membeli es krim dalam cup, barangkali ia beli es wafel, barangkali ...
Saat kita diskusikan masalah ini antara aku, entong dan bapaknya, Entong tertawa terbaka-bahak atas ke-oón-nya itu. Bapaknya menimpali, barangkali Joel engga jadi ke shopping center karena gak dikasih duit sama ibunya, barangkali Joel mau berangkat sepedanya kempes, terus dia repot mompa sepeda dulu sambil ngomel-ngomel... Dalam satu kalimat, Entong menangkap objek benda yang bisa divisualisasikan dan dapat dikorelasikan, yaitu Joel dan es krim. Tentang menjilati dan es krim horn adalah intervensi kemampuan otak bagian analisa yang sudah membawanya pada bayangan menurut imajinasinya, yang tentu saja salah dengan apa yang dimaksud dalam kalimat tadi.
Knap lastig he? Cara berpikir yang loncat maju kedepan…bisa bikin raport kebakaran.
“ah, bau, sampai mual”, gitu kataku pada suamiku “bau enak, harum sabun mandi…” timpalnya Sehari dua kali aku ganti baju, kayak pragawati, gara-gara nenggak metranidazol megadosis yang diberi dokter dari RS Amsterdam buat ngebom parasit Giardia. Si parasit cemen import dari Indo gara-gara minum-minum es teller, es doger, es campur, es cendol dan segala es yang kemungkinan tercemar air……tinja…kekekek. Cuma para “aristocrat” yang gak bakal tahan dengan parasit ini (musti jadi perhatian kamerad aristocrat yaks…). Metranidazol yang kutenggak gak ki-ra ki-ra, 2000 mg sekali tenggak. Selama tiga hari. Jebul efek sampingnya luar biasa edun, persis kayak di chemo terapi. Orang Belanda edun memang, takut setengah mati sama binatang ataupun kuman import. Kutu rambut yang suka heen en weer masuk Belanda liwat pelancong pulang dari negeri panas juga suka diudak-udak gak keruan kayak gak ada kerjaan. Lah….kutu rambut aja sampai ada pasukan pemberantasannya… Kurab…. Tau kan kurab (scabies) yang bikin gatel di kulit…. Kalau ketahuan ada, langsung serumah diperiksa disuruh mandi karbol, pakaian dicuci air panas semua, sang penderita “diasingkan” di rumah sakit. Ngebayang gak, kalau kurab yang biasa diderita orang di Indo, trs musti pada nginep di rumah sakit buat berobat? Bisa penuh yaks rumah sakit kita… Saat aku teller yang gara-gara mencret cemen tapi lama banget, ada beberapa orang gak boleh mengunjungiku gara-gara aku sakit yang kubawa dari negara Tropik, katanya takut…. Kekekekek…. “Mbak, saya gak boleh nengok kesitu oleh suamiku, karena katanya mbak sakit dari tropic”…. Tersinggung? Hehe..iyalah ya. Langsung kesambut: “Wah bener juga, ini menular banget lho, sekarang sudah ketahuan….kena LEPRA”. Kekekek…. Biar suaminya yang Belanda lugu itu tambah pusing ….kekekekek… Balik mau ngedongeng metranidazol. Efek sampingnya ternyata gak kira-kira, sakit kepala, pusing, luar biasa sakit lambung hingga harus muntah-muntah, lemas, diare (sudah diare kena Giardia, plus makan obatnya….kekekek). Dan jadi kayak kena pilek. Kulitpun rada gatal. Efek terapuitiknya? Baru dua minggu baru akan kelihatan efeknya, karena si Giardia punya kista musti netes dulu trs keracunan metranidazol dulu. Halah..halah… ya daku teller dg Metranidazol setiap hari. Baunya itu lho, keringat, cairan hidung, pipis, eeq….semua harum, tapi bikin eneq. Jadi kuseimbangkan dengan makan pete, ikan dan daun kemangi….kekekek…… Suamiku ngomel panjang lebar. Goblok, katanya. Lho bau pete lebih sedap kok. Coba nih…sambil mulut kubuka dimukanya….”Yakiiiisss…” teriaknya.
Giardia lamblia? Lah ya kalau binatang bersel satu (protozoa) yang jadi parasit usus buat orang Indonesia ya jarang banget menyebabkan mencret. Tapi konon laporan dari lembaga mikrobiologinya Belanda, 65 persen pelancong dari Belanda ke negara tropik kayak Indonesia pulang bawa penyakit mencret disebabkan parasit ini. Ia sebagai penyebab pertama. Gak keren banget penyebabnya, berarti badanku sudah kolokan amat. Masak gara-gara parasit ini saja bisa sakit luar biasa kayak sakit tipes…kekekekk… Lagipula suspect yang diletakkan oleh dokter internisku ya Tipes dengan diagnosa pembandingnya Tropische Sprue. Bisa dimengertilah jika dokter puskemasku eh maksudku dokter keluargaku yang sampai 5 orang sudah kutanyai itu gak menduga ke arah ini, karena di Belanda memang gak dikenal sebagai penyakit manusia. Umumnya yang sakit mencret begini ya cuma kucing atau anjing yang memang jorok. Di Indonesia mencret karena parasit ini memang gak diobati biasanya akan mereda sendiri. Paling banter ditelankan Attapulgite (misalnya Enterostop) yang akan mengeraskan tinja. Makanya waktu kuceritakan pada dokter internisku di rumah sakit Amsterdam bahwa aku punya attapulgite di rumah, dia katakan gak kenal obat itu. Ya gak kenal wong attapulgite di Belanda cuma dipakai untuk kucing mencret. Sedang di Indonesia bisa beli di warung buat orang. Giardia lamblia, parasit usus ini ternyata susaaaahhhnya nyarinya. Tergantung kepiawaian pegawai lab dalam mengudaknya. Lagipula ia cepat sekali wafat meninggal dunia karena perubahan temperatur. Karena itu begitu tinja keluar dari dubur langsung harus difiksasi. Caranya, tinja langsung ditampung di sendok steril yang disediakan lab dan langsung dimasukkan ke tabung fiksasi yang kubawa dari rumah sakit. Fiksasi ini dilakukan tiga hari berturut-turut, selama itu yang sudah ditampung harus disimpan di temperatur kamar yang stabil. Duh susah gak tuh…kekekek, kusimpan di lemari yang cukup dingin, gak panas/anget dan gak deket heater, juga bukan di lemari es…(emangnya enak nyimpen tinja di kulkas? Kekekekek). Makanya kok pemeriksaan di rumah sakit di kotaku gagal, ternyata banyak ceritanya, terutama kepiawaian sang laboran. Jorok, atau kata-kata halusnya: higiene dan sanitasi tak memadai. Itu penyebabnya. Terutama minuman jajanan pakai es batu sembarangan, cuci sayuran buat salade dengan air sembarangan, cuci piring …gado-gado…. Es teller… nah itu dia enak tapi isinya bisa luar biasa banyak. Cara penyebarannya oral-rectal (mulut-pantat) istilahnya, maksudnya yang keluar dari pantat masuk ke mulut melalui media air. Waterborn disease gitulah. Jadi bisa diperkirakan bahwa daku ke Indo sampai diare dua kali asumsinya daku sudah menelan air tinja…..kekekekek… duh sedih amat… Obatnya? Daku mendapatkan tablet metronidazol megadosis, 2000 mg sekali telan selama tiga hari. Di bom? Iya. Lho kok ngebom? Ketimbang kumat lagi. Selanjutnya negara dengan sistem medik yang berdasarkan bukti (Evidence Based Medicine) ini repot amat sih. Saat kuminta print out apa saja yang sudah diperiksa, aku menerima tiga lembar …wuik banyaknya. Sang dokter mengajakku membaca satu persatu….semua beres…. Gak ada gangguan apa-apa, gak ada anemia, juga kondisi usus baik, enzym, dan sistem pencernaan jadi gak bisa disebut Tropische Sprue karena kondisinya masih prima. kecuali ada nilai fungsi hepar sedikit naik – ooo tapi gak papa katanya, itu terlalu minim untuk diambil kesimpulan. Tapi… tapi… daku masih harus mengikuti protocol lagi… jadi masih musti pereksa-pereksa selama sebulan dengan durasi 2 mingguan, mulai tinja lagi, darah lagi, dan…. USG perut terutama hepar… busyet maaakkk. Gak praktis amat… Tapi protokol joo…evaluasi pengobatan juga musti evidence based…dan ini teaching hospital, di depan saat di meja terima tamu sudah dikasih selebaran bahwa hasil pemeriksaan akan digunakan sebagai data penelitian….
 Waktu dua minggu lalu aku harus ke poli Tropische Ziekte - Teaching Hospital Amsterdam - dokter internisku meletakkan suspect alias dugaan (setelah sebulan gentayangan dari satu dokter ke dokter puskesmas lainnya): - TIFOID dengan diagnosa pembanding TROPISCHE SPRUW Tropische Spruw? Penyakit apa itu? Ah gak pernah denger. Dokter yang suka ngeledek pakai bahasa Indonesia (karena istrinya orang Indonesia ) gak njelasin apa-apa, cuma mengatakan: karena perut gak tahan jadi badan ngeluarkan lagi liwat muntah atau diare. Untuk melihat ini waduh, pemeriksaannya banyak banget. Aku harus mengumpulkan tinja setiap hari selama seminggu, untuk kultur dan penimbangan lemak (untuk melihat kemampuan usus mengabsorbi lemak), ditambah segala macam pemeriksaan darah. Pakai rontgen perut segala macam. Kuubek Tropische Spruw tea, ketemu sejarahnya, di tahun jamannya VOC tahun 1700 -an orang kapal jika di Indonesia suka ketimban mencret. Karena suka mencret mencret, badannya sampai kurus. Diobati susah banget, jadilah mencret kronis. Jaman itu orang masih gak ngerti melakukan pembiakan kuman. Dan gak ada antibiotik. Ternyata, buat mendiagnosa penyakit ini memang susah banget, buat dokter Belanda sih (dokter Indo mah kagak...). Karena kalau mencretnya asalnya dari negeri tropik (indonesia) maka harus juga dipikirkan kemungkinan2 lain penyakit mencret ala Indonesia kayak tipes, kolera, disentri - penyakit yg merupakan barang langka di Belanda. (Belum tahu dia di Indo masih banyak jenis mencret lainnya, termasuk yang akut maupun yang kronis; yang tokainya nyemplung maupun yang melayang atau ngambang karena ada lemaknya...). Negara Evidence Based Medicine ini kalau mau ngobatin harus pakai pemeriksaan panjang lebar, buat nyari kumannya. Jadi pemeriksaannya puanjaaaang lebar banget. Helaasss, sayangnya si Tropische Spruw ini konon susah banget dicari penyebabnya, karena gak jelas, apa virus - apa bakteria - apa racun - apa alergi - apa gak tahan (intoleransi). Karena Tropische Spruw adalah tinggal jejak-jejak penyebabnya yang baur2 dengan kuman baru yang enak-enakan hidup di dalam intestinal yang udah babak belur waktu mencret akut dulu. Jadi seringkali kalau ketemu kumannya sudah beranak pinak campur aduk dengan parasit2. Jadi gak jelas lagi penyakit itu penyebabnya apa, salmonella nya (tipes) atau parasit2nya, atau bakteri2 lainnya, kayak Colli dan kawan-kawannya. Saat suamiku kerja di Indonesia di jadoel, sekembalinya ia juga sakit-sakit begitu. Saat itu ia harus dikirim dari Belanda ke RS di Munchen, disana ia harus ngendon di rumah sakit buat membersihkan segala kuman yang ada. Caranya? Disuruh mencret sampai tuntas, lalu diberi probiotik. Kekekekek... Dongeg tentang Tropische Spruw ini ada dalam majalah kedokteran Belanda, cuma ada satu dongengnya di sana. Tahun 2005 dilaporkan ada orang Belanda kerja di Irian enam bulan lamanya. Disana dia kena mencret dua kali (kayak aku aja), waktu pulang masih mencret melulu sampai beberapa bulan. Beratnya sampai turun 18 kilo. Waktu diperiksa di perutnya ada segala macam bakteri dan parasit. Dikasihlah ia diagnosa keranjang sampah, Tropische Spruw (Tropical Sprue)saking susahnya mau nyebutkan sakit apa lah itu. Pasien ini kemudian diberi doxycyclin 100 mg 1 hari dalam sebulan dan diperbaiki segala macam akibat mencretnya yaitu diberi vitamin B12 dan Asam Folat. Dalam waktu singkat berat badannya naik, dan rasa lebih sehat. Tapi buatku....buat ngobatin mencret aja kok lama amat sih...kakakak.... tepat 1,5 bulan aku sudah ngelapor bahwa daku mencret2, demam, rasa lemah setengah mati, sakit kepala, dan gak ketinggalan pusying....... Beberapa teman sempet ngeledek: udah keenakan jajan melulu sih di Indo segala macam dimakan.... Iye, lama banget.... Kalau di puskesmas Indo penyakit model gini, kagak usah di periksa segala macam tetek bengek...kekekek...wong gak ada lab nya. Tancap dengan tetrasiklin plus vitamin.... Istilah Tropische Spruw atau Tropical Sprue ini sekarang dipakai oleh negara2 Eropa dan Us, buat diagnosa keranjang sampah diare kronis orang2 yang pulang dari negara2 tropik... ... dan gak ketinggalan..... tempat yang jorok.... Tropische spruw Wanneer iemand met chronische diarree zich meldt bij een arts wordt een relatie met een reis naar de tropen minder makkelijk gelegd. Toch moeten enkele tropische oorzaken meegenomen worden in de differentiaaldiagnose. Een voorbeeld hiervan is tropische spruw ofwel postinfectieuze tropische malabsorptie. Het gaat dan om een in de tropen verkregen chronische aandoening van onbekende oorzaak die gekenmerkt wordt door malabsorptie en mucosa-afwijkingen van de dunne darm met als gevolg meerdere deficiënties. Meestal wordt de diagnose gesteld door het uitsluiten van andere (infectieuze) oorzaken. In een klinische les in het Nederlands Tijdschrift voor Genees-kunde in oktober 2005 wordt een patiënt gepresenteerd die zich meldt met gewichtsverlies en algehele malaise na twee reizen naar West-Papoea binnen zes maanden. Tijdens beide reizen was er sprake geweest van gastro-intestinale klachten. Intussen is hij 18 kg afgevallen, sterk uitgedroogd en heeft een sterk verlaagde vitamine B12-spiegel. Na rehydratie en vitamine B12-suppletie knapt hij snel op. De patiënt wordt ontslagen met een recept voor foliumzuur 5 mg 1 dd en doxycycline 100 mg 1 dd gedurende een maand. Na deze maand is de patiënt 5 kg aangekomen en klachtenvrij. Door de gunstige effecten van antibiotica wordt vaak gedacht aan een infectieuze oorzaak voor tropische spruw. Een duidelijke verwekker is echter nooit gevonden. Tropische spruw komt met name voor in Zuid- en Zuidoost-Azie, de Caribische eilanden en Centraal- en Zuid-Amerika. De meest gangbare verklaring is dat een acute infectie van het maagdarmkanaal leidt tot een beschadiging van de mucosa, gevolgd door verstoring van de gastro-intestinale hormoonbalans, dat een vertraging geeft van de motiliteit en bacteriële overgroei. Meestal hebben patiënten dan ook eerst een acuut ziektebeeld gehad dat overgaat in een continue diarree die tot deficiënties leidt. Behandeling van deze deficiënties en van uitdroging zijn, wat betreft de therapie, het belangrijkst. Hoewel dit verbetering geeft, zijn antibiotica nodig voor een definitief herstel.[3] http://www.pharmaselecta.nl/psonline/archive/2006/10/main.1.html
Heheh... sudah sebulan lebih aku tidak memasak untuk keluarga. Jika hari mulai sore si Entong dan Bapaknya mulai gentayangan dari restoran satu ke restoran lain, dari cafe satu ke cafe lain (tour de cafe ceritanya) atau dari supermarket satu ke supermarket lainnya. Mencari makanan. Kesian deh ya. Akhir-akhir ini Entong selalu bilang, rindu masakan mama, terutama kalau Saptu dan Minggu pagi dengan pannekoek panas ditabur serbuk gula...hmh... Seperti kemarin, di sekolahnya ada pesta untuk pertukaran pelajar dari luar negeri. Tamu2nya disuguhi panenkoek. Biasanya jika ada pesta di sekolah bagianku adalah bagian konsumsi, menyediakan makanan. Kali ini austebliefffttttt kata si Entong, buatkan dong.....! Austebliefttttt Johan, mama masih pusyieeenggg... Aku hanya bisa membuat makanan untuk diriku sendiri (yang sudah bosan banget itu) yaitu beras dicampur ayam dan sayur plus sayur melulu dengan sedikit bumbu, lalu dimasak dalam rice cooker jadi bubur... Yach mau apa lageeee.... Eh tapi, minggu-minggu terakhir ini, para tetangga rupanya sudah ngeroddel (bergosip ria) bahwa si mevrouw van Tiel yang sudah berminggu-minggu gak keliatan keluar rumah itu, sedang sakit melulu.... tiduran melulu. Buurvrouw Willemijn dan suaminya René sepulang kantor nongol dulu liwat dapur di belakang : "Heh...hoe's met jou? Alles kit? " Aku cuma cengar cengir doangan. Setiap dua hari Buurvrouw bawa makanan enak-enak. Kayak di gambar itu, salah satu yang dibawanya. Schotel tertolini pakai saus roomkaas (sayangnya gua kagak bisa makan). Lain kali ia bawa spaghety isi daging dan champignon. Lain kali dia bawa pasta. Haduh...haduh Buurvrouw ini selalu menyempatkan membawa makanan melulu. Jadi suami dan anakku gak keleleran... Kadang datang tetangga lain bawa makanan, terutama tetanggaku yang orang Bali, dari seberang sana di telepon ia berteriak dengan logat balinya: "Mbakyuuuu..... nanti Pak Jan kalau liwat rumahku tulung ambil ini rantangan buat mbakyu makan ya.....!" Waktu rantang kubuka, kulihat ada nasi lengkap sayur keri dengan telur rebus, dan ayam saus asam manis. Aku berteriak lagi di telepon (tapi teriakanku rendah banget wong suaranya lagi tenaga rendah): "Menik Wayan... terima kasih ya.... lain kali gua dibawain sayur bening aja yaks...Sekarang dihabiskan oleh Pak jan!" "Wah mbakyu ini sudah kubuatin makanan minta yang lain...!" Tadi malam temanku dari kota tetangga tiba-tiba datang bawak rempeyek, sambel goreng tempe, coklat, dan dua dos berisi nasi dengan lauk-lauk sambel goreng dan lodeh... Sambil berucap terima kasih banyak, aku senyam senyum dalam hati: lain kali bawain aku sayur bening saja yaks.....kikikikik..... ada orang sakit tipes diajak makan sambel goreng... "Sayur bening gak usah dibuatin... buat sendiri, gampang" begitu protes Wayan di telepon...kekekekek... "Iya makananmu bikin gua ngiler.....!" Lebih ngiler lagi, heheheh....kalau saat menjelag sore, suamiku bilang: sore ini kita makannya diundang Bea - atau Barbara (sepupu-sepupunya). Lho...aku gimana kakangmas? Oh...kan dikau punya bubur sepanci....! Yah nasib deh makan bubur lagi. Bubur nasi, kentang puree, nasi tim, ..... itu lagi itu lagi...Nasib deh. Beberapa kartu yang manis dari para tetangga cukup sudah menhibur perutku..... Thanks para buurvrouwku yang baik hati. Begitu juga telepon dari istri2 (dan suami2nya) teman teman suamiku. Aku juga di roddel dikantornya rupanya, lha iya....wong bolak balik musti ngantar aku ke rumah sakit. Emangnya sakit apa sih, sakit mencret....kekekekek.... yang dokter dimari kebingungan diagnosanya apaan, padahal periksa lab dan rontgen sudah bertubi-tubi...kekekek....
 Mengenang Dr. Rachmat Widodo Adi Senin, 14 Apr 2008 15:43 Pada tgl 13 April 2008, salah satu Leader tim Indonesia ke APhO 2008 Rachmat Widodo Adi Ph.D. meninggal dunia terkena serangan jantung. Dia meninggal satu minggu sebelum keberangkatan tim Indonesia ke kompetisi fisika untuk siswa SMA terbaik di Asia (APhO) di Ulaanbaatar, Mongolia 20 – 28 April 2008. Rachmat lahir 10 September 1960 di Jakarta. Dia menyelesaikan pendidikan sarjana fisikanya dari Universitas Indonesia tahun 1984, Master of Science in Physics, 1986, dan Doctor of Philosophy in Physics (Experimental Solid State Physics), 1991, dari Department of Physics, Tufts University, Medford, Massachusetts, USA. Disamping itu juga telah berhasil meraih gelar DEA (Diplome d'Etude d'Approfondie) en Rayonnement et Imagerie en Medecine, Option 1: Physique et Radiologique et Medicale (equivalent to Master of Science in Radiological and Medical Physics), 2000, CPAT, Universite Paul Sabatier, Toulouse, France. Setelah berhasil menyelesaikan pendidikan S-3nya, dia langsung bekerja di departemen fisika, Universitas Indonesia, sebagai dosen dan peneliti. Pertama kali bergabung dengan TOFI pada tahun 2002 sebagai Deputy Leader di IPhO ke 33 Bali, Indonesia, yang membawa tim berhasil meraih 3 medali emas, 1 perak dan 1 perunggu. Sejak itu setiap tahun dia selalu menjadi Deputy Leader tim Indonesia baik untuk APhO maupun IPhO. Bahkan saat Indonesia menjadi tuan rumah APhO 6 tahun 1005 di Pekanbaru, Riau dipercaya sebagai Chairman oleh pemda Riau. Sebuah kenangan yang tak terlupakan ketika menjadi Deputy Leader tim Indonesia yang berhasil meraih gelar Absolute Winner pada IPhO 37 tahun 2006 di Singapura dan meraih 4 medali emas dan 1 perak, suatu prestasi yang gemilang dalam keikut sertaan Indonesia diajang kompetisi fisika tingkat Internasional. Kita telah kehilangan seorang fisikawan dan seorang teman yang baik. Berikut beberapa komentar dari rekan kerja Rachmat selama ini : Sahabatku Rachmat Widodo Adi Pagi ini kudengar berita itu…. Hati ini sedih… sedih kehilangan seorang sahabat. Bukan sekedar sahabat.. tapi sahabat sejati…. Rachmat sahabatku, masih teringat dalam ingatanku… Hari-hari bersamamu… bersama kita mengharumkan nama bangsa …. Masih teringat bagaimana engkau melatih TOFI (Tim Olimpiade Fisika Indonesia). Tanpa lelah.... Walaupun sakit… sering engkau paksakan untuk melatih dan melatih… Tanpa mengeluh…. Tanpa pamrih…. Engkau layak disebut pahlawan bangsa…. Masih teringat saat kita tegang bersama menunggu hasil olimpiade fisika 2006. Masih teringat saat kita bersorak kegirangan karena Indonesia menjadi juara olimpiade dunia di Singapura ini… Sahabatku… semakin ku ingat… semakin sedih hati ini…. Sahabatku… banyak yang telah kau lakukan untuk bangsa ini… Banyak yang telah kau lakukan untuk komunitas fisika…. Sahabatku… selamat jalan…. Semoga engkau di alam sana dapat tenang… Kami disini akan melanjutkan perjuangan… ya perjuangan kita… Perjuangan untuk membuat fisika Indonesia lebih disukai …. Perjuangan untuk terus mengharumkan nama bangsa… Perjuangan agar Indonesia menjadi bangsa yang dihormati… Sekali selamat jalan sahabatku…. Yohanes Surya Saya mempunyai beberapa kesempatan bekerja bersama beliau di IPhO 2002, IPhO 2004 dan APhO 2006. Juga semenjak awal tahun ini saya mulai full time membantu pembinaan TOFI di bagian theory, sedangkan beliau bersama Pak Sastra dan Pak Yoseph memegang training experiment. Beliau pekerja keras dan mau berkorban untuk Indonesia. Dalam berbagai olimpiade yang saya ikuti, beliau bekerja sampai pagi dalam menerjemahkan soal. Selamat Jalan pak Rachmat. Hendra Kwee (Wn) http://www.tofi.or.id/?mod=news&read=111
Terkejut rasanya saat Mas Bintoyo anggota milis AB yang satu almamater dengan Pak Rachmat Adi, memberitakan bahwa minggu pagi ini, 13 April 2008, Pak Rachmat Widodo Adi meninggal dunia. Siapa yang tidak terkejut, karena beliau adalah salah satu aktivis terkuat organisasi kami. Beliau ketua peduli pendidikan anak-anak cerdas istimewa Jakarta. Cepat kuhubungi Ibu Heni Supolo, salah seorang pengurus sekolah Al Izhar Jakarta, yang juga adalah famili beliau. Heart Attack - singkat berita dari Bu Heni. Kusampaikan salam duka kepada istri dan putra-putrinya. Tulisan-tulisan belaiu yang sarat dengan muatan greget pembangunan pendidikan, mengarahkan kita pada jalan sistem pendidikan masa depan yang harus kuat dilandasi oleh keilmuan.Ia sudah pula banyak memberikan sumbangan pada kita, para orang tua. Agar kita selalu mawas diri dalam mengantarkan dan membesarkan anak-anak kita. Kita masih mempunyai rencana jangka panjang untuk sebuah perjuangan yang baru saja dimulai, pendidikan anak-anak cerdas dan bakat istimewa (gifted & talented children) tapi Tuhan telah menggariskan hidupnya sampai disini. Tak bukan tak lain, kita hanya mampu memanjatkan doa agar ia diterima di sisi Nya, tempat yang terbaik.  Bukan hanya bagi kita, sudah pasti istri, dan putra-putrinya sanga berat dengan meninggalnya beliau. Indonesia pun kehilangan pakar terbaiknya, pembina tim olipiade fisika internasional, yang tak pernah lelah membina calon-calon itu. Depok - Karawaci dikebutnya dengan sepeda motor, bukan dengan mobil. Demi mengejar waktu, jalan macet Jakarta, melelahkan seorang pakar yang tak pernah mengenal lelah. Dengan tetesan air mata, doa kami senantiasa baginya, dan yang ditinggalkan oleh pahlawan kita. DR. Rachmat Widodo Adi Dosen Fisika UI
Pendidikan : Fisika FMIPA-UI 1984 Physics Tufts Univ. 1986 Dept. of Physics Tufts Univ., USA 1991 Universite Paul Sabatier, Toulouse 2000
Aktifitas : Himpunan Fisika Indonesia (no. 1018594540) Ketua HFICabang Jakarta (2000 - saat ini) Pengasuh TOFI dalam beberapa tahun terakhir
Kemarin dihubungi temen-temen e-livestyle Insya Allah, Minggu 13 April 2008 jam 09:00 diminta jadi narasumber di e-livestyle topik urusan blok-blokan situs
kalau gak salah narasumber satu lagi dari regulator :) .. - Onno
Persis sebulan ya daku sakit gak keru-keruan. Akhirnya terdamparlah daku di rumah sakit amsterdam (Amsterdam Medisch Centrum) poliklinik penyakit tropik. Kok bisa nyampe sini? Hehe...iya, karena sudah sampai bosan ke dokter2 "puskesmas" - sudah sampai 5 dokter gak ada yang berani memberi obat, karena gak tahu aku sakit apa. www.robert-jandevos.nl Akhirnya daku menghubungi ambasade Indonesia di Den Haag, kutanya apakah ada dokter Indonesia. Kebetulan hari itu ada. Langsung, oleh dokter ambasade daku dicarikan kontak dan janji dengan Rumah Sakit Amsterdam, Poliklinik penyakit tropik. Polinya sepi banget, buka jam 8 tutup jam 11. Hari itu, dari pagi hingga siang aku cuma melihat pasien 5 orang saja. Kebanyakan pendatang, ada yang dari India, ada yang dari Afrika. Di dinding tergantung lukisan2 dari Afrika, dipojok ada amben bersprei jarik di atasnya ada kelambu. Aduh deh...kayak warung stop stopan truk aja deh... Seorang internis khusus penyakit tropik yang kutemui, bertanya panjang lebar. Anamnesa sambil melihat berbagai catatan yang dikirim oleh dokter puskesmasku. Ah, kirain sekarang di Belanda sudah gak ada anamnesa mendalam lagi, cuma ngocok2 hasil lab saja. Waktu dokternya keluar sebentar suamiku berbisik : kita dua jam diubek gini jangan2 bayarannya mahal banget...kekekek. Sebab di husarts cuma diberi kesempatan 15 menit, di atas menit itu musti bayar dua kali lipat. Judulnya: double consult.... Waktu dokternya ngubek perutku tiba-tiba bertanya: "Senang di Belanda? " Lho kok berbahasa Indonesia, tanyaku. "Istri saya orang Padang..." Ia bertanya-tanya dahulu kerja dimana? kekekek...langsung kujawab..itu di puskesmas, seringkali jadi anggota tim penanggulangan muntaber....makanya expert jadi sakit perut melulu...kekekek... Waktu hampir selesai, jadi gimana nih pak dokter, saya jadinya sakit apa? Mungkin tyfoid, jawabnya. Kasih saya obat dong, sudah bosan, masak sebulan gak dikasih obat apa-apa malah dikasih yang lain-lain yang gak parah-parah amat diubekin melulu (lha ya mana tahu, wong dokter umum Belanda gak dapat pelatihan buat typhus, kecuali spesialis). "Ya, nanti saya kasih obat" Lega deh. Lega, ya engga, setelah order harus tes lab tinja yang berapa macam itu termasuk kultur2nya, masih ada kultur darah juga. Pak dokter nyerahkan resep... Wala, dikasih cuma obat pelancar beol karena harus ngumpulkan beolnya banyak... dan karena juga sudah seminggu sembelit. Cilaka lagi... gak dikasih obat lagi. "Kita ketemu tiga minggu lagi ya...lihat hasil lab nya" Masya Allah.... buat menegakkan diagnosa typhus doangan dibutuhkan hampir dua bulan. Aduh mak...aku kangen kerjaku dahulu, di puskesmas gak ada lab, tapi dokter bahkan perawatpun jago kalau cuma tipes maaaahhhh..... Dalam sebulan beratku sudah melorot lagi, tiga kiloan. Liat tuh di gambar di atas perutku ampe kempet. Hehehehe....
http://www.metrotvnews.com/berita.asp?id=56383 Ngumpatnya ampleng-amplengan...kikikikik.... kesimpulan yang diambil sering tunjuk langsung, siapa yang anti Islam artinya orang kristen. Orang Belanda = orang Kristen. Kasihan deh Kristennya jadi sasaran. Padahal orang Belanda justru kebanyakan sudah agnostik .... kikikikik
Huisarts, ibarat dokter puskesmas khusus klinik berobat di Belanda. Umumnya dokternya ramah, buka pintu dan salaman. Trs tanya, ada apa? Mendengar keluhan bentar, langsung utik2 komputernya. Trs ambil kertas pemeriksaan laboraturium : pereksa darah, tinja, urin, rontgen. Hasilnya? dua minggu lagi. Lalu disebutkan, oh sakitnya ini, obatnya ini. Lha daku mencret sudah berkepanjangan. Hasil labnya tak ada apa-apa kecuali gula darah naik sedikit dan fungsi hepar naik sedikit. Artinya arahan pekerjaan selanjutnya adalah turunkan gula, dan dua minggu lagi USG hepar. Tapi gak diurus diarenya dengan melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Lho terus mencretnya gimana? oo bisa jadi karena gulanya dan heparnya. sekarang gulanya dulu diturunkan. Katanya sambil utik utik komputernya. Kok mencret karena gula? padahal gula darahku gak parah-parah amat. gangguan fungsi hepar juga gak parah-parah amat kok bisa diare ... Karena diare gak beres juga, gula darah sudah beres, aku datangi lagi sambil bilang: saya baru pulang dari Indonesia nih, kerja di daerah endemis kolera, tipes, disentri, muntaber, demam berdarah yang pakai mencret pakai darah... Dokternya panik, lalu ngaduk2 buku protokol penanganan diare. Sambil bilang: wah saya gak punya pengalaman dengan penyakit begituan (ya engga, adanya ya di negara tropik). Maka kulanjut, kirim saya ke rumah sakit bagian tropik medisin deh di amsterdam. "Wah gak bisa" "Lho kenapa?" "Karena gak ada darahnya di tinja...." "Lho...kalau tipes itu gak pakai darah! tapi penyakit gawat, gimama..Kolera cuma berak air beras, gimana,...tapi sebentar juga mati,.... ." setelah kuubek juga protokol rujukan diare: dirujuk kalau ada darah dalam tinja... Ooo pantes aja.... diareku sudah tiga bulan cuma disuruh nenggak air doangan....Ampun deh. Malah penyakit lain yang ketemu tapi gak parah-parah amat yang diubek...(sambil utik2 komputer terus.... cari protokol). Enak ya jadi dokter sekarang... masukkan kata kunci penyakit, keluar nama obatnya.. Lha kalau salah diagnosa gara-gara gak pakai anamnesa gini ginama, cuma mengandalkan pemeriksaan lab, yang jadi andalan EBM (evidence based medicine). Berobat di Belanda kalau penyakit degenerasi kayak multipleneurosclerosis, diabetus, atau jantung, atau kanker, cepet banget. Tapi kalau mencret-mencret ya lelet banget... Diatab? Gak ada yang jual boo...
Diluncurkannya film asli Geert Wilders Kamis lalu, sudh menarik perhatian dunia. Negera-negara Eropa sudah menganggarkan dana untuk keamanan jika terjadi demo maupun perang. Sudah ditunggu 24 jam, kok gak ada tanda2 demo, terutama di Belanda. Yang ada dalam kotbah jum a't an di mesjid Belanda cuma ada kotbah yang mengatakan jangan terpancing. Atau komentar organisasi islam bahwa filmnya menyakit hati umat Islam. Sekalipun Wilders mengatakan bahwa ia tidak benci pada muslim, yang ia benci adalah uitwasen van de Islam (limbah kotoran Islam, bukan Islamnya sendiri), dan itu adalah haknya untuk mengeluarkan pendapat secara pribadi. Tapi toh film yang diduga bisa justru menyulut peperangan, (apalagi Bin Ladensudah mengeluarkan maklumat bahwa sekarang ia akan memerangi Eropa, bukan lagi US) cuma berumur sehari doang. server LiveLeak yang menayangkan film 45 menit itu langsung menyegel filmya Wilders. Buat yang di Indonesia gak bisa mbuka, katanya lelet banget. Apa memang diblokir kayak di Pakistan, apa karena server Indo memang lelet gak tahu. Jadi berita demo dari Indo yang ditunggu2 oleh media Belanda juga gak ada. Film yang cuma berumur sehari doangan itu, terus kata Wilders belum selesai lho...ehe ehe...dia masih akan tetap gerak terus... Sekalipun sehari, yang protes juga banyak, terutama tayangan gambar. Filmnya sendiri cuma klipingan doangan, comot sana sini di internet. Jadi yang punya clip nuntut kenapakok gak minta ijin dan minta bayar royalty.... Ada ang tanya, bisa dapet oscar gak? Lha gimana mau dapat oscar, wong klippingan doangan siapa yang mau dapat penghargaan jadi bintang pelemnya? Bintang pelem di bawah ini adalah Mohammed B yang pernah membunuh Theo van Gogh sutradara submission.  Tapi Wilders keliru yang dicomot di internet fotonya penyanyi rapper Salah Edin. Jadi Salah Edin menuntut kenapa mukanya dipakai. Lha muka kok mirip teroris.... Film Fitna yang palsu banyak banget. Yang asli gak bisa dibuka, ini ada yang palsu tapi lucu, jangan ngeri mbukanya, wong cuma John Lenon nyanyi doangan kok.... http://www.youtube.com/watch?v=GbhdeIXGDkE&feature=related
Ujian akhir nasional untuk SD, di Belanda disebut Eindtoets basisonderwijs yang berlangsung tanggal 12-13-14 Februari baru lalu. Buatku menunggu hasilnya, rasanya khawatir juga, sebab aku sudah menyadari pasti ia akan mendapatkan total skor jelek, sekalipun anakku dinyatakan oleh pusat keberbakatan Belanda sebagai anak gifted.
Jelek, bukan karena ia underachiever karena motivasi dan ketahanan kerjanya jelek sehingga membuat pekerjaannya sembarangan. Bukan. Dalam raportnya selalu tercetak laporan: tempo kerja sangat baik, motvasi kerja sangat baik, kinerja sangat baik, hasilnya? Seharusnya dalam rumusan anak gifted: jika IQ nya tinggi, kemampuan analisa tinggi, motivasi tinggi & komitmen menyelesaikan tugasnya juga tinggi, kreatif, tempo cepat….maka harapannya adalah prestasinya luar biasa. Dalam raportnya sejak kelas satu, ia memang mampu menyabet berbagai angka tinggi, untuk bidang-bidang sains dan matematika, presentasi tugas, tetapi tidak dalam bidang bahasa.
Prestasi kurang memuaskan dalam bidang bahasa, bukan karena ia disleksia, tidak. Hanya satu kelemahannya yaitu pemahaman bahasa (semantik) yang sering mendapatkan angka sedang-sedang saja, bahkan kadang jelek. Sedang dikte (spelling), penggunaan bahasa (pragmatik), mengenal kata dan kalimat (morpologi), penggunaan bahasa mondeling, dan bahasa tulisan, semuanya baik. Tetapi pemahaman bahasa (semantik) kadang kurang memuaskan.
Konon, jika ngoprek lagi buku-buku tentang karakteristik visual spatial learner (bhs Belanda de beelddenkers) maka kelemahannya adalah dalam pemahaman bahasa (kemampuan semantik). Bisa dijelaskan bahwa, pada kelompok seperti ini mempunyai cognitive style yang berbeda dengan sebagian besar manusia lahir. Anak-anak seperti ini lebih didominasi otak sebelah kanan yang lebih banyak berpikir secara konsep, dan cara berpikir yang gestalt (simultan). Cara penerimaan informasi yang sekuensial (membaca) pada kelompok begini akan lebih panjang, yaitu dari membaca kata2 lalu keseluruhan dalam kalimat, lalu harus dirubahnya dalam bentuk cognitive style nya yang gestalt baru melakukan analisa isi, bisa-bisa ia mengalami keterlepasan prosedur. Otomatisasinya selalu diintervensi oleh kerja otak kanan yang selalu menganalisa setiap informasi yang masuk. Akhirnya apa yang dibacanya mempunyai pengertian sendiri baginya, yang bisa berbeda dengan yang dimaksud pembuat teks.
Kembali kepada ujian akhir anakku. Kemarin kuterima laporannya. Skortotal yang disajikan, waaakss….. jauh lebih rendah sebagai syarat masuk sekolah lanjutan untuk anak-anak normal. Artinya ia harus masuk sekolah kejuruan untuk anak anak lambat. Saran yang diberikan oleh komisi ujian (yg pakai komputer) juga demikian, sekolah yang cocok untuknya adalah sekolah kejuruan dasar (basis beroep onderwijs). Hah?! Kelas ini adalah untuk anak anak dengan IQ borderline dan below. Ho ho ho…
Semalam kuamati skor-skor yang diterimanya dalam kertas laporan hasil ujian. Skor bahasa mencapai hanya 14 persentil saja…sedang matematika di persentil paling tinggi, menyusul hampir sama tinggi sains, dan pengetahuan umum. Hehehehe…. Seorang anak yang jagoan dalam computer, presentasi, jago matematika, harus masuk sekolah kejuruan dasar gara-gara jatuh dalam mata ujian bahasa.
“Niet telt het…niet telt het…” begitu teriak anakku, mengikuti kata gurunya. Jelas, jangan diperlakukan begini, ujian akhir untuk anak-anak dengan kemampuan khusus tidak bisa menggunakan ujian akhir nasional. Karena ujian akhir nasional menggunakan kerangka anak normal. Buat anak berkekhususan begini ya dia bisa keok…
Aku harus kembali mengumpulkan semua berkas-berkasnya, kembali menghubungi pusat keberbakatan untuk mendapatkan “penjelasan hitam di atas putih” bahwa ia berada di jalur yang lain, sebagaimana anjuran dari pihak sekolahnya, yaitu kelas khusus untuk anak gifted, yaitu gymnasium/atenium.
Buatku sungguh suatu pengalaman yang luar biasa, yang mungkin jarang dipunyai orang lain. Gifted visual spatial learner, memang selayaknya gak perlu ikut ujian akhir nasional, ia harus diperhitungkan berdasarkan kompetensinya, bukan skor total rata-rata. Disinkronitasnya memerlukan kehati-hatian yang dalam. Masa depannya berada di tangan orang tua dan guru. Salah-salah ia bisa masuk kelas lambat, sekolah kejuruan dasar…. Melipat-lipat lumpia seumur hidupnya…ah!
Tentang Eindtoets bisa dilihat disini
PROBLEM BASED LEARNING untuk GIFTED CHILD?
Minggu-minggu ini kami sibuk hunting sekolah lanjutan untuk Entong anakku semata wayang.
Sebelum kuceritakan lebih lanjut model sekolah gifted untuk sekolah lanjutan di Belanda ini, kuceritakan dahulu model pendekatan pendidikan anak-anak gifted SD.Pendidikan sekolah dasar di Belanda menganut dua system, yaitu sekolah regular – dan sekolah khusus (SLB).
Sekolah reguler Belanda menganut sistem pendidikan dengan pendekatan adaptif, yaitu memberikan perhatian pada keunikan setiap anak dan tawaran pendidikan harus sesuai dengan kebutuhan anak. Dengan demkikian ia melayani pendidikan inklusi, yaitu menerima anak-anak special needs belajar bersama dengan anak-anak “normal” lainnya. Special needs yang diterima si SD reguler ini adalah: ADHD, Austime spectrum disorder, Gifted, dan Disleksia. Sekalipun ke empat bentuk special needs itu sudah ada UU nya bahwa ia boleh masuk dalam sekolah reguler, pihak sekolah juga masih menerima anak-anak Down Syndrom, cacat primer seperti tuli ( yang sudah terlatih dengan hearing aids) dan gangguan penglihatan. Juga anak-anak dengan inteligensia borderline.
Mereka yang special needs akan mendapatkan metoda pendidikan khusus dan layanan kebutuhan pembelajaran khusus. Misalnya yang disleksia akan mendapatkan remedial teaching, kompensasi waktu (lebih lama) dan fasilitas lain seperti pita rekaman saat harus membaca, reading pen, dan komputer.
Bagi yang mengalami gangguan motorik halus tidak bisa menulis dengan baik, maka ia boleh menggunakan komputer. Bagi anak yang mengalami gangguan cacat primer seperti gangguan pendengaran dan penglihatan, juga diberi kemudahan fasilitas.
Untuk anak-anak gifted juga dilayani giftednessnya dengan memberikan pengkayaan, percepatan, dan pendalaman.Semua anak dalam sekolah reguler ini haruslah mempunyai inteligensia normal ke atas.
Pendekatan pendidikan yang diutamakan adalah pendekatan keharmonisan tumbuh kembang. Karena itu untuk anak-anak gifted lebih diutamakan masuk ke sekolah reguler bukan sekolah khusus anak gifted. Kelak saat di sekolah lanjutan anak-anak ini akan masuk ke dalam sekolah khusus.
Walaupun begitu ada tiga bentuk sekolah untuk anak-anak gifted ini di tingkatan sekolah lanjutan.
1) Model sekolah yang menempatkan anak-anak gifted bersama anak-anak lain hingga dua tahun lamanya (dg pendekatan inklusi), baru di tahun ke tiga ia dipisahkan masuk sekolah khusus (gymansium & athenium). Bentuk sekolah bersama-sama sampai dua tahun disebut brugklas (kelas jembatan).
2) Model sekolah yang langsung dari sekolah dasar masuk ke sekolah khusus gifted, disebut gymnasium dan athenium. (Gymnasium menekankan pada bahasa dan ilmu2 sosial, athenium menekankan pada sains dan matematika). Atau kombinasi keduanya.
3) Model sekolah khusus gifted Xtra. Bentuk ini adalah model baru yang tengah dikembangkan oleh pemerintah Belanda, dengan pendekatan teori multifactor dari Kurt Heller (lihat: TEORI GIFTEDNESS ) .
Artinya ada delapan bidang ketrampilan yang perlu pengolahan. Mana yang terkuat dikembangkan, mana yang lemah dibantu agar bisa juga berkembang. Karena setiap anak dianggap mempunyai keunikan individu, maka dalam satu kelas dibuka system pendidikan yang sangat berdiferensiasi dalam materi.
Untuk masuk kesini ditutut anak-anak dengan kecepatan pikir, kreativitas dan ketahanan yang tinggi.Pelajaran diberikan secara mandiri, individual, dan menggunakan pendekatan problem based learning.Problem based learning di Belanda dikenal sebagai pendidikan dengan pendekatan projek (project onderwijs).
Kepada anak-anak ini diberi tugas yang harus dipecahkan melalui riset, kepustakaan, dan melaporkannya dalam bentuk makalah. Pokok bahasan, mereka boleh memilih sendiri mana yang menjadi minatannya. Jadi disini juga ditekankan pada konsep kebebasan, kemandirian, tetapi harus bertanggung jawab akan keberhasilan tugas.
Dengan begitu dituntut ketahanan kerja yang tinggi.Secara teoritis pendekatan model seperti ini (no 3) adalah pendekatan yang paling ideal untuk seorang anak gifted yang memang selalu mendahulukan berpikir secara konsep. Ia bisa langsung menyalurkan pemikiran-pemikirannya.
Melihat kenyataan no 3, sebagai orang tua anak-anak gifted, pada awalnya banyak yang tertarik pada pendekatan seperti ini. Ideal.Namun melihat kenyataan lagi, bahwa anak-anak gifted adalah populasi yang beragam, membawa kami memikirkannya lebih mendalam lagi.
Keragaman bisa terjadi sebagai akibat dari banyak hal. Bisa dilihat lagi Konsep giftedness Kurt Heller.Semakin tinggi inteligensia si anak, akan juga terjadi ketidak sinkronan perkembangan. Ada yang perfeksionisme luar biasa akibatnya menekan potensi kreativitasnya. Ada yang sangat kreatif tetapi kurang presisi karena perfeksionismenya dihantam oleh kreativitasnya. Ada yang kadang perfek kadang kreatif sehingga susah ditebak…Ada yang terfokus pada satu masalah, masalah lain tidak digubris.
Berbagai masalah disinkronitas ini akan mewarnai bagaimana ia dapat bekerja dalam sebuah proyek problem based learning, bagaimana reaksi anak-anak ini dalam bekerja? Bisa diperkirakan. Bagaimanapun ia seorang anak gifted tetap membutuhkan bimbingan terstruktur dan kombinasi kekebasan. Menurutku kebebasan dengan menekankan pada tanggung jawab, tetapi tanpa struktur sama sekali ... ah... saya masih tidak tega. Bagaimana dengan masalah adiministrasinya? Sekalipun ada portfolio pasti repot banget...Karena setiap anak mempunyai pekerjaan yang berbeda...
Tiba-tiba masyarakat Belanda dilanda ketakutan terhadap minuman yang setiap hari dipromo meningkatkan kesehatan, yaitu jenis minuman yogurt yang mengandung bacteria L. acidophilus, L. plantarum, L. casei dan B. bifidus. Minuman asam ini terbuat dari susu sapi yang difermentasi menjadi yogurt. Publikasi mengatakan bahwa dengan minum minuman ini maka flora usus akan menjadi lebih baik, karena bakteri jahat dihancurkan oleh para bakteri yang ramah tamah itu. Publikasinya gak kira-kira, segala penyakit dikabarkan dapat disembuhkan, mulai dari diare, bowel syndrome (luka-luka di usus), sembelit, menurunkan kolesterol, meningkatkan imunitas dll. Bahkan konon bisa menyembuhkan berbagai infeksi seperti infeksi paru-paru, dan infeksi pancreas (pancreatitis). Dengan modal penelitian kecil2an yang sudah ada, terutama di sapi dan mencit, maka berangkatlah Universitas Utrecht melakukan penelitian pada 300 patien pacreatitis acut di 15 rumah sakit di seluruh Belanda. Dengan metoda penelitian doble blind, pasien dibagi 2, 150 tanpa probiotic, 150 dengan probiotic yang dimasukkan melalui sonde ke dalam usus pasien. Penelitian dilakukan sejak tahun 2005 – 2007. Dengan double blind study, baik pasien dan dokter tidak tahu siapa yang mendapatkan terapi ini. Cilakanya, harapan yang diharap harap probiotic bisa menyembuhkan orang sakit (jadi gak usah pakai antibiotika) ternyata saat di analisa di akhir penelitian, lho….justru yang meninggal dunia dalam pengobatan sebanyak 4 kali lipat daripada jika tidak diobati. Dari 150 yang mengunakan probiotic meninggal 24 orang, sedang jika tidak menggunakan hanya 7 orang saja. Sewaktu diketahui justru menghasilkan kematian, tetapi sudah terlambat…Penelitian sudah selesai, dan siapa yang menerima dan tidak menerima baru diketahui….Yang tinggal hanyalah kejadian horor yang mengerikan. Hopo tumon, Sang kepala riset berseru….jangan lagi lagi dikerjakan…. Padahal sementara ini promo yogurt untuk bayi sedang gencar, sementara itu flora usus bayi belum baik, daya tahan pun masih rentan…. Beritanya bisa dilihat disini http://www.nrc.nl/binnenland/article905110.ece/Experiment_faalt_24_patienten_overleden
| |