Kelas Akselerasi dimata saya: TIDAK TEPAT
Terus terang, saya adalah orang yang secara resmi mengusulkan kepada pemerintah untuk merombak sistem pendidikan anak cerdas istimewa dan bakat istimewa Indonesia (gifted and talented). Usulan ini lahir setelah sekian lama, selama hampir 10 tahun turut mengamati, bahkan turut merasa getir terhadap nasib anak-anak cerdas istimewa Indonesia yang selama ini tidak di kenal di Indonesia. Anak-anak itu adalah anak cerdas istimewa yang mengalami disinkronitas perkembangan, dengan segala akibatnya. Disinkronitas perkembangan itu dapat dalam bentuk perkembangan bahasa dan bicara yang tertinggal sebagai akibat perkembangan observasi visual yang luar biasa. Perkembangan emosional yang luar biasa serta tingkat aktivitas yang tinggi. Atau anak-anak itu mengalami ketertinggalan kematangan sosial, bahkan ada yang mengalami ketertinggalan motorik halus. Begitu juga dalam perkembangan kognitif, ada yang lebih dahulu berkembang dalam kemampuan kognitif tinggi ketimbang kogitif rendahnya. Atau ia berkemampuan gestalt yang luar biasa kurang diimbangi dengan kemampuan berpikir sekuensialnya. Akibatnya anak-anak ini dalam tes-tes psikologi untuk melihat struktur inteligensinya, menunjukkan profil yang kurang harmonis, terdapat deskrepansi dimana-mana yang menyebabkan untuk sementara waktu IQ nya belum mencukupi bila harus memenuhi IQ kelas akselerasi, yaitu dia tas 125. Bahkan jika ditotalkan (yang sebenarnya tidak bisa karena profilnya mempunyai deskrepansi yang besar) banyak dari mereka mendapatkan anjuran ke SLB. Setengah populasi anak cerdas istimewa potensinya tidak teraktualisai disebabkan berbagai macam hal, ia mengalami prestasi rendah di sekolah.
Masalah Tumbuh kembang anak cerdas istimewa dapat anda lihat disini.
Beberapa tipe anak gifted dapat dilihat disini
Gaya berpikir anak-anak gifted (cerdas istimewa) juga mempunyai gaya berpikir yang berbeda-beda. Ada anak gifted yang lebih ke arah berpikir sekuensial dan ada yang lebih berpikir ke arah gestalt. Bahkan gaya berpikir gestaltnya sangat kuat yang tidak dapat mengikuti pendidikan dalam kelas-kelas dengan metoda pendidikan konvensional dan klasikal sebagaimana kelas akselerasi. Ada juga kelompok anak gifted yang mempunyai kombinasi kedua gaya berpikir itu secara harmonis.
Bagaimana perbedaan gaya berpikir itu dapat dilihat disini:
Mengapa kelas akselerasi tidak tepat?
Anak cerdas istimewa adalah anak yang mempunyai pola perkembangan khusus, yang polanya berbeda dari anak-anak dengan inteligensia normal. Karena itu dunia pendidikan anak cerdas istimewa di negara-negara maju lebih menekankan pendidikan anak ke arah keharmonisan tumbuh kembang. Bukan lebih mempertajam jurang perkembangan. Terutama saat ia masih di sekolah dasar. Anak cerdas istimewa mempunyai kekuatan dalam area inteligensi yang beragam. Tidak semua anak cerdas istimewa bisa menyabet angka luar biasa di semua bidang. Dengan begitu bagi anak-anak ini juga dibutuhkan materi yang berdiferensiasi. Bentuk klasikal dengan metoda pendidikan konvensional (kelas akselerasi) justru bertentangan dengan gaya berpikir serta bisa menghambat kreativitas yang seharusnya dipupuk.
Pemecahannya adalah, pendidikan anak-anak gifted tetap di dalam kelas reguler tetapi mendapatkan layanan khusus. Bentuk sekolah seperti ini disebut sekolah yang mengetengahkan pendekatan pendidikan yang adaptif, atau bentuk sekolah yang memperhatikan keunikan anak, yang kemudian sering disebut sekolah inklusi.
Layanan pendidikan anak cerdas istimewa di kelas reguler/inklusi dengan diferensiasi kurikulum bagi anak gifted dapat dibagi dalam 4 bentuk (Mooij dkk, 2007): 1. Pengkayaan (enrichment): yaitu berupa tawaran ekstra materi pelajaran yang dimaksudkan untuk pendalaman dan perluasan. 2. Pemadatan atau pemampatan (compacting): yaitu berupa pemampatan materi pelajaran reguler. Atau dengan kata lain bahwa pelajaran yang diberikan tidak perlu dilakukan pengulangan-pengulangan yang memang diperlukan sebagai latihan bagi anak-anak normal. 3. Paruh waktu (part-time) dalam kelompok-plus atau kelas-plus (pull-out): dimana dalam kelompok/kelas itu diadakan ekstra aktivitas atau program yang menantang khusus untuk anak-anak gifted. Kegiatan dalam kelompok/kelas plus ini dilakukan beberapa jam dalam satu minggu. Bila anak-anak gifted tersebut membutuhkan kegiatan yang menantang guna memenuhi kebutuhan keberbakatannya, ia dapat sementara waktu keluar dari kelasnya (pull-out), masuk ke dalam kelompok-plus atau kelas-plus tersebut, bersama-sama dengan anakanak gifted lainnya dalam berbagai usia mengerjakan berbagai proyek yang diminatinya. Kelas-kelas seperti ini sering juga disebut Kangaroo-class. 4. Percepatan (acceleration): yaitu berupa lompat kelas (Class skipping). Namun percepatan ini membutuhkan beberapa pertimbangan berupa: - kematangan sosial emosional - kapasitas intelektual - prestasi - adanya lompatan perkembangan didaktik - persetujuan orang tua - penerimaan guru
Kelas akselerasi seperti halnya di Indonesia, di negara lain memang tidak ada.....  | eddyjp wrote on Jul 27, '09, edited on Jul 27, '09 Daku kira yang no 3 adalah pilihan terbaik buat perkembangan psikologis emosional anak yang gifted dengan gangguan perkembangan emosi :)) |
 | hm..saya juga gak begitu setuju dg kelas akselerasi |
 | Jeng, kalo di Indonesia, saya lihat, asal di kelas rangking 1-3, ditawari deh kelas akselerasi....pada perkembangannya malah jadi ajang pamer orangtuanya deh. Saya pribadi memandang, akselerasi, dipercepat 1 tahun, dari 6 tahun ke 5 tahun, yaelah, gak banyak efek positifnya. |
 | bu julia, aku cuma mau minta ijin tulisan ini saya pajang di dinding fesbukku, tentu boleh dong biar makin banyak yang baca tulisan ini jelas penting dan perlu, apalagi diwaktu sekarang dimana para ortu lagi gandrung melihat anaknya dibilang hebat kalau bisa loncat naik kelas. matur nuwun bu julia |
 | Jeng, kalo di Indonesia, saya lihat, asal di kelas rangking 1-3, ditawari deh kelas akselerasi....pada perkembangannya malah jadi ajang pamer orangtuanya deh. Saya pribadi memandang, akselerasi, dipercepat 1 tahun, dari 6 tahun ke 5 tahun, yaelah, gak banyak efek positifnya.  memang iya, wong cuma 6 tahun jadi 5 tahun tetapi hal-hal lain pada diri anak tidak diperhatikan |
 | Sepertinya memang kelas akselerasi atau juga ada model kelas pilihan (maaf lupa istilah resminya) terkadang menjadi beban bagi anak. Ada sekolah yang menjalankan seperti ini dan setahu saya banyak anak yang stress atau bahkan malas masuk ke kelas pilihan itu, tapi biasanya ortu yang mati-matian usaha agar anaknya bisa masuk kelas ini. Atau yang ekstrim lain, anak menjadi sombong. Hanya, kalau mengenai anak berbakat yang spesial saya juga sedang belajar dari bu Julia nih... |
 | bu julia, tahun 2007/2008 lalu, putri saya masuk akselerasi tingkat smp (swasta terkenal di kebayoran baru, jakarta).....suatu keputusan yang tidak saya setujui dari awal pencalonan. satu tahun mengikuti akselerasi, satu tahun yang penuh dengan masalah....kami (saya, suami dan putri saya), memutuskan memindahkan sekolah ke kelas reguler. putri kami amat cepat berangsur pulih dari keterpurukan emosi selama di akselerasi. satu tahun ini di kelas reguler (kelas 8), ia sudah menunjukkan kestabilan emosi, lebih happy, malah mau berorganisasi, berprestasi secara akademik juga. kini ia kelas 9 smp. buat saya yang mengalami memiliki putri masuk kelas akselerasi, sungguh program akselerasi amat banyak yang tidak tepat menangani anak cerdas istimewa. trims bu. (tanti diniyanti-bintaro) |
 | Dari buku kisah Toto Chan....saya berangan2 klw saja ada sekolah yang guru2 dan kepalasekolah2 seperti kepala sekolahnya si TotoChan di sekolah "kereta api"nya, wow... aku mau sekolahkan anakku disitu deh... |
 | selamat malam bu... bagaimana kabarnya semoga sehat selalu ya... bu... saya butuh sekali nih wejangan dari ibu.. hehe.. anak didik saya sekarang sudah bubbling2... dan terkadang mengeluarkan bahasa2 iklan... sesekali sudah mau berekspresif.. seperti mama makan,minum,pipis, bu kapan ya anak2 seperti ini bisa ngomong seperti anak2 lainnya.. umurnya sekarang 3tahun10 bulan, membacanya lancar sekali,sekarang lagi sering mengotak-atik uang... dari yg 1000 sampai100000 anak ini tau.. emosinya masih sering meledak2.. bila sedang marah suka menjerit keras sekali... sekarang ini anak semakin lasak bu.. apa ya faktor yang bisa membuat anak ini super lasak.. bu sama saya mau tanya tentang pola makannya bu... sampai kapan bu anak2 seperti ini selalu pilih2 makanan... bu dimana bisa saya dapatkan materi pelajaran untuk anak gifted disinkronisasi usia balita? tolong saya ya bu... terimakasih atas kebaikan ibu... selamat malam... semoga ibu dan kelurga selalu dalam lindungan yang maha kuasa... |
 | maaf bu..
kira2 klo disatuin sama anak2 reguler n mereka lompat kelas apa ga menimbulkan masalah psikologis buat anak reguler...??
malah yg akan bermasalah psikologisnya makin banyak, secara anak2 reguler lebih banyak di banding anak2 gifted..
oh ya bu, klo emank bener spt apa yg ibu bilang, saya mau donk liat data penelitian yg seperti ibu jelaskan, klo bisa jg nanti di upload lg ky gini.. data ibu benar2 benrmanfaat buat saya..?? sehubungan judul skripsi saya yg mmbahas efektifitas program kelas akselerasi..
bedankt..
anggriawan pranata |
 | bu julia, tahun 2007/2008 lalu, putri saya masuk akselerasi tingkat smp (swasta terkenal di kebayoran baru, jakarta).....suatu keputusan yang tidak saya setujui dari awal pencalonan. satu tahun mengikuti akselerasi, satu tahun yang penuh dengan masalah....kami (saya, suami dan putri saya), memutuskan memindahkan sekolah ke kelas reguler. putri kami amat cepat berangsur pulih dari keterpurukan emosi selama di akselerasi. satu tahun ini di kelas reguler (kelas 8), ia sudah menunjukkan kestabilan emosi, lebih happy, malah mau berorganisasi, berprestasi secara akademik juga. kini ia kelas 9 smp. buat saya yang mengalami memiliki putri masuk kelas akselerasi, sungguh program akselerasi amat banyak yang tidak tepat menangani anak cerdas istimewa. trims bu. (tanti diniyanti-bintaro)  sorry bu njawabnya kok setahun... saya lama gak bisa buka MP
semoga pengalaman ananda bisa memberikan gambaran bagaimana memperbaikinya bu...thanks syeringnya. |
 | bu Julia, si Fai kemarin dapat tawaran akselerasi juga. Dengan IQ 144 dan nilai rata2 diatas 8. Tapi Fai-nya sendiri waktu di telp bilang "saya menolak ikut akselerasi karena mau menikmati masa2 SMA". Beruntunglah Fai karena kita2 termasuk penentang akselerasi. Yang kasihan ceweknya Fai (sekarang sudah punya cewek nih...hahaha). Dia dipaksa ikut sama ortunya walaupun sudah ngotot gak mau. Waktu SD dia juga sudah ikut akselerasi, jadi sekarang ini umur 13+ masuk SMA. Kira2 umur 15+ nanti lulus SMA. Kasihan dia kehilangan masa remajanya. Tapi itu hak ortunya. Dia kehilangan aspek sosialnya |
| |