Catatan: tulisan di bawah ini adalah tanggapanku dalam webnya Lita
http://lita.inirumahku.com/general/lita/tanggapan-unilever-tentang-formaldehid-dalam-produknya/
Apa bisa Free-Formaldehyde ?
Rasanya agak lucu juga membaca di milis-milis ada yang sedang histeris fobi terhadap formalin yang tersebar di masyarakat sebagai bahan pengawet mayat lalu menjadi pengawet makanan. Jadilah isyu formalin yang sudah lumayan lama mencuat lagi, saat ada berita barang untuk kehidupan sehari-hari seperti sampo, sabun mandi, bahkan pasta gigi pun menggunakan formaldehyde. Dikeluarkan oleh pabrik multinasional pula. Uaaahhh..... sampai ada yang menuding sebagai perusahaan yang melakukan pembohongan terhadap publik (sekalipun jelas-jelas sudah tercantum dalam ingridientnya).
Formalin itu apa sih?
Formalin sudah dipakai lebih dari seratus tahun lalu sebagai bahan pengawet jelasnya fiksasi protein, jadi digunakan selain untuk fiksasi spesimen lab biologi, juga digunakan untuk mengawetkan mayat. Tetapi formalin mempunyai efek antiseptik juga, jadi juga digunakan untuk membunuh jazad renik (germicida). Lalu ia masuk ke dalam kelompok biocida.
Eit.... jangan dipikir bahwa formalin cuma ada untuk bahan-bahan itu saja. Engga. Sebab pada dasarnya formalin ada dimana-mana, secara alami pula.
Formalin sendiri adalah nama pasaran buat formaldehyde 37-40 persen yang larut dalam air plus metanol 10 persen. Formaldehyde sebetulnya bentuknya gas, maka jika ingin digunakan dilarutkan dulu dimasukkan dalam air plus methanol, baru bisa dipakai. Ia mempunyai sifat fisik larut dalam air atau metanol itu.
Mengapa ada di alam? Ya ada, karena pada dasarnya dimana-mana ada gas methane yang jika teroksidasi akan menjadi formaldehyde.
Contohnya ada dimana? Ada di daun-daun busuk, sampah, gas buangan septik tank, kayu basah, emisi kendaran bermotor, di dapur, asap rokok, bahkan di kentut orang. Artinya di alam juga ada formaldehyde, baik di dalam rumah, di luar rumah, maupun di danau dan sungai.
Formaldehyde sendiri bukan produk akhir, ia produk intermediate karena masih bisa pecah lagi menjadi bahan lain. Jadi kalau masuk ke tubuh ya gak bisa mengalami kumulasi kayak logam berat tea. Di dalam tubuh dalam metabolisme akan terhidrolisa menjadi asam formiat, air, dan carbonmonoksida. Lalu keluar liwat urin.
Tapi kenapa sekarang ribut?
Karena media sudah mendramatisir, katanya formalin atau formaldehyde dapat menyebabkan kematian, kanker (sebagai bahan carsinogenik), dan alergi. Lho kok mau-maunya mendramatisir? Lalu orang pun, di Indonesia tersundut untuk ikut ramai-ramai anti produk ber formalin atau berformaldehyde, menuntut sebagai konsumen hidup sehat. Menginginkan hidup bebas formaldehyde. Apa mungkin ? Yang engga engga aja sih.
Lho kok yang engga-engga tuntutannya, padahal menurut LKJ (Lembaga Konsumen Jakarta)
Disini: http://www.surya.co.id/web/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=17583
Formalin adalah bahan berbahaya dan menuntut BPOM menarik peredaran semua barang berformalin. Lha yang bilang saja LKJ.
Kalau boleh dibilang LKJ ini gerakannya kayak lembaga2 kacau balau saja, malah membuat masyarakat kacau balau. Lho iya lho, wong yang namanya berbahaya itu kalau diluar ambang batas. Orang bisa mengalami kanker yang diakibatkan oleh formalin, kalau misalnya kerja di pabrik formalin atau pabrik yang menggunakan formalin banyak2, lalu ia menghisap gas formaldehyde yang sifatnya memang iritatif. Yang gak tahan ya bisa alergi juga. Kalau ngisap terus terusan bahan iritatif ya jelas saja lama-lama ya kanker. Makanya sering disebut jenis kankernya kanker nasopharings. Karena itu ada peraturan pembatasan ambang toleranansinya.
Kenapa kok sekarang ributnya, gak dari dulu saja.
Itu mulainya dari Jerman, yang mau memproteksi air sungai sebagai sumber air minumnya. Karena sungainya datang dari negara-negara lain, maka Jerman mengajukan usul ke Eropa Unie agar diadakan kampanye free formaldehyde. Tapi free nya ini bukan lalu free seratus persen sampai segala macam bahan gak ada formaldehydenya, atau eropa bebas formaldehydenya. Lha ya mana bisa, wong ngentut aja ngeluarkan methane yang teroksidasi jadi formaldehyde kok. Memangnya ngentut harus diberantas? Apalagi sekarang lagi ramai-ramainya penggunakan pupuk bio dari tahi ternak.
Maksudnya free formaldehyde adalah hasil produk tidak boleh melebihi ambang batas, dan harus ada waste water treatment – treatment limbah pabrik sebelum nyemplung ke sungai. Ini mah memang sudah tahu dari dulu. Tapi ... sekarang ini industri semakin hebat, semuanya menggunakan formaldehyde sebagai bahan polimer (pelarut), misalnya industri cat, plastik, tekstil, fiber, composite resin, vinyl, linoleum, melamin, dlsb. Apalagi sekarang barang-barang cenderung terbuat dari bahan plastik2an gitu, yang justru menggunakan formaldehyde. Jadi penggunakan formaldehyde ini di eropa sudah dianggap gila oleh Jerman. Karena itu harus ada undang-undang baru, dan kampanye lagi.
Jadi kalau mau ribut, tahu dulu duduk perkaranya lah....Baru boleh ribut, ketimbang jadi pahlawan kesiangan....
Tambahan:
Ini ada links ttg formaldehyde bagus dibaca
http://www.formacare.org/Q___A_on_formaldehyde.130.0.html#410 Isinya Q & A ttg formaldehyde.
Biocides directive, segala peraturan ttg biosida
http://greenburialcouncil.org/files/biocides.pdf
Informasi ttg formalin
http://www.biogenex.com/doc/msds/931-HK752-EN.pdf