Giardia lamblia? Lah ya kalau binatang bersel satu (protozoa) yang jadi parasit usus buat orang Indonesia ya jarang banget menyebabkan mencret. Tapi konon laporan dari lembaga mikrobiologinya Belanda, 65 persen pelancong dari Belanda ke negara tropik kayak Indonesia pulang bawa penyakit mencret disebabkan parasit ini. Ia sebagai penyebab pertama.
Gak keren banget penyebabnya, berarti badanku sudah kolokan amat. Masak gara-gara parasit ini saja bisa sakit luar biasa kayak sakit tipes…kekekekk… Lagipula suspect yang diletakkan oleh dokter internisku ya Tipes dengan diagnosa pembandingnya Tropische Sprue.
Bisa dimengertilah jika dokter puskemasku eh maksudku dokter keluargaku yang sampai 5 orang sudah kutanyai itu gak menduga ke arah ini, karena di Belanda memang gak dikenal sebagai penyakit manusia. Umumnya yang sakit mencret begini ya cuma kucing atau anjing yang memang jorok.
Di Indonesia mencret karena parasit ini memang gak diobati biasanya akan mereda sendiri. Paling banter ditelankan Attapulgite (misalnya Enterostop) yang akan mengeraskan tinja. Makanya waktu kuceritakan pada dokter internisku di rumah sakit Amsterdam bahwa aku punya attapulgite di rumah, dia katakan gak kenal obat itu. Ya gak kenal wong attapulgite di Belanda cuma dipakai untuk kucing mencret. Sedang di Indonesia bisa beli di warung buat orang.
Giardia lamblia, parasit usus ini ternyata susaaaahhhnya nyarinya. Tergantung kepiawaian pegawai lab dalam mengudaknya. Lagipula ia cepat sekali wafat meninggal dunia karena perubahan temperatur. Karena itu begitu tinja keluar dari dubur langsung harus difiksasi. Caranya, tinja langsung ditampung di sendok steril yang disediakan lab dan langsung dimasukkan ke tabung fiksasi yang kubawa dari rumah sakit. Fiksasi ini dilakukan tiga hari berturut-turut, selama itu yang sudah ditampung harus disimpan di temperatur kamar yang stabil. Duh susah gak tuh…kekekek, kusimpan di lemari yang cukup dingin, gak panas/anget dan gak deket heater, juga bukan di lemari es…(emangnya enak nyimpen tinja di kulkas? Kekekekek). Makanya kok pemeriksaan di rumah sakit di kotaku gagal, ternyata banyak ceritanya, terutama kepiawaian sang laboran.
Jorok, atau kata-kata halusnya: higiene dan sanitasi tak memadai. Itu penyebabnya. Terutama minuman jajanan pakai es batu sembarangan, cuci sayuran buat salade dengan air sembarangan, cuci piring …gado-gado…. Es teller… nah itu dia enak tapi isinya bisa luar biasa banyak.
Cara penyebarannya oral-rectal (mulut-pantat) istilahnya, maksudnya yang keluar dari pantat masuk ke mulut melalui media air. Waterborn disease gitulah. Jadi bisa diperkirakan bahwa daku ke Indo sampai diare dua kali asumsinya daku sudah menelan air tinja…..kekekekek… duh sedih amat…
Obatnya? Daku mendapatkan tablet metronidazol megadosis, 2000 mg sekali telan selama tiga hari. Di bom? Iya. Lho kok ngebom? Ketimbang kumat lagi. Selanjutnya negara dengan sistem medik yang berdasarkan bukti (Evidence Based Medicine) ini repot amat sih. Saat kuminta print out apa saja yang sudah diperiksa, aku menerima tiga lembar …wuik banyaknya. Sang dokter mengajakku membaca satu persatu….semua beres…. Gak ada gangguan apa-apa, gak ada anemia, juga kondisi usus baik, enzym, dan sistem pencernaan jadi gak bisa disebut Tropische Sprue karena kondisinya masih prima. kecuali ada nilai fungsi hepar sedikit naik – ooo tapi gak papa katanya, itu terlalu minim untuk diambil kesimpulan.
Tapi… tapi… daku masih harus mengikuti protocol lagi… jadi masih musti pereksa-pereksa selama sebulan dengan durasi 2 mingguan, mulai tinja lagi, darah lagi, dan…. USG perut terutama hepar… busyet maaakkk. Gak praktis amat… Tapi protokol joo…evaluasi pengobatan juga musti evidence based…dan ini teaching hospital, di depan saat di meja terima tamu sudah dikasih selebaran bahwa hasil pemeriksaan akan digunakan sebagai data penelitian….