 Semalam di tivi Belanda ada acara dari Yayasan Peduli Anak di Lombok. http://www.pedulianak.com/index.php?folder_id=20http://www.pedulianak.com/index.php?folder_id=21&file_id=79 Sebetulnya tayangan ini merupakan tayangan mengetuk hati untuk mencari dana sumbangan pendirian rumah penyantunan anak-anak jalanan. Saat aku duduk melihatnya, aku duduk di samping suamiku. Ngelu dan nyeri melihatnya, anak jalanan dalam kemiskinan harus turut mencari uang menyusuri jalan-jalan dan memulung sampah. Seorang anak melarikan diri dari rumah karena harus tinggal dengan bapak tiri yang tak berperikemanusiaan, dan ia menjadi gelandangan di sepanjang jalan raya, meminta-minta. Anak-anak lain harus membantu orang tuanya di atas gundukan sampah yang sedang diaduk aduk buldoser. Mereka berusia antara 10-12 tahun, tak pernah mengenyam pendidikan. Mereka hidup dalam kemiskinan yang paling dalam. Saat film tayangan itu berlangsung, suamiku yang berbadan luarbiasa besar, tinggi dan tegak itu, ternyata pun mengucurkan air mata. Tak heran jika film ini ternyata langsung mendapatkan reaksi luar biasa dari para penonton. Bisa dilihat dalam berbagai komentar yang ada dalam URL ini: http://www.llink.nl/Chaim_Fetter.889.0.html Banyak diantara penonton di Belanda terketuk untuk menjadi sponsor, keluarga-keluarga yang akan mengirim berbagai mainan, buku, pakaian untuk anak-anak itu. Bukan hanya bantuan materi ditawarkan, tetapi bantuan berbagai tenaga, mulai dari tenaga yang bersedia membantu membangun rumah penyantunan, sekolah, dan klinik yang tengah di bangun. Bagiku menarik sekali, siapa di belakang ini? Anak muda idealis Belanda. Chaim Fetter, usianya masih 25 tahun. Ia adalah pengusaha muda di bidang IT di Eindhoven. Saat beberapa tahun lalu ia berlibur ke Bali, ia berkenalan dengan anak-anak jalanan yang mengejar para turis untuk membawakan barang belajaan. Ia berkenalan dengan seorang anak berusia 10-an tahun. Tidak bersekolah. Ia mengambil anak ini dan menitipkannya pada seorang guru, dari Belanda ia membantu mengongkosinya untuk bersekolah. Tahun lalu ia menjual semua asset perusahaan dan mobil mercedesnya, berangkatlah ia ke Lombok. Bersama beberapa kenalan ia membuat survey anak jalan, melakukan interviu ratusan anak jalanan, dan memberinya makan. Untuk kemudian ia mulai mengumpulkan beberapa anak untuk ditampungnya. Kini ia sibuk membangun sebuah panti penampungan yang cukup besar yang terdiri dari asrama, sekolah, dan klinik. Saat ia sibuk membangun, beberapa anak muda Belanda turut terjun bersamanya, terutama Jill seorang gadis cantik yang mempunyai pendidikan sebagai pembimbing anak-anak di rumah penyantunan. Bersama anak-anak muda Lombok lainnya, menjaga dan mengasuh anak-anak itu. Saat itu seorang petugas yang menjadi pengasuh di rumah itu, sempat dipecat oleh Chaim. Karena cara pendekatan yang dilakukan adalah justru mengancam seorang anak 10 tahun, jika tidak menurut, akan dipecat dari sana. Chaim marah luar biasa, menurutnya, si anak perlu perlindungan, bukan hanya fisiknya, tetapi juga perasaannya. Saat-saat ia menangisi hidupnya, rindu dengan keluarganya di jalanan, memprihatinkan adiknya, dan ia masih perlu merubah cara-cara hidupnya dari hidup gentayangan ke cara-cara hidup seorang anak lainnya, maka anak ini memerlukan payung rasa cinta kasih, bukan justru diancam dan mendapatkan kemarahan saat ia bersedih dan menangis. Terhadap pengasuh yang juga seorang laki2 muda itu, Chaim si anak muda Belanda 25 tahun, yang bekerja tanpa pamrih itu mengatakan: I m very disappointed. And Angry. You are not good enough for this job. 
Betapa mulianya sistem kemasyarakatan manusia Indonesia. Modal bangsa yang jangan sampai ludas digiling globalisasi... JM ------------------------------
Penggendong Mayat Ketemu
Supriono si penggendong mayat anaknya di KRL akhirnya ditemukan. Ia mengubur anaknya di Menteng Pulo.
Supriono alias Supri tertangkap basah tengah menggendong putrinya yang sudah jadi mayat, Nur Khaerunisa yang berusia 3 tahun, di Stasiun Tebet pada Minggu (5/6). Mayat itu dibungkus sarung, sementara mukanya ditutupi dengan kaus.
Tiga hari tim Warta Kota menelusuri pangkalan pemulung dari Cikini hingga Manggarai. Perkampungan pemulung di Bogor plus beberapa stasiun juga dijelajah, tapi Supri tak ditemukan, Padahal, banyak pembaca Warta Kota berniat memberikan bantuan kemanusiaan buat Supri.
Berkat bantuan warga Manggarai, Jakarta Selatan, Supri akhirnya bisa ditemukan. Ia menumpang di rumah rumah petak di pinggiran Ciliwung milik Ibu Sri di Manggarai Utara IV, Tebet. Di sanlah, enam tahun lalu, Supri pernah mengontrak sebulan. Info bahwa Supri berada di sana disampaikan oleh salah seorang pelanggan Warta Kota, Ny Anna Purnomo.
Setahun lalu, Surpri cabut dari Manggarai setelah berpisah dengan istrinya, Sariyem. Ia menggelandang sebagai pemulung bersama si kecil Nur Khaerunisa dan Muriski, dengan modal gerobak.
"Saya mangkal di depan Gereja (Isa Almasih) Cikini. Di sana ada halte. Kalau lagi hujan, gerobak saya bawa ke halte, biar anak-anak tidak kehujanan," kata Supri.
Keputusan Supri untuk pergi ke Manggarai muncul tiba-tiba. Sewaktu keluar dari kamar mayat RSCM sekitar pukul 16.10, Supri masih ingin melanjutkan perjalanan ke Bogor untuk mengubur anaknya, dengan menumpang KRL.
Supri berjalan dengan menggendong mayat anaknya, ditemani Muriski, ke Jalan Salemba tepatnya ke lampu merah di seberang St. Carolus. Lama ia termenung karena sudah terlalu sore untuk ke Bogor. "Tiba-tiba terlintas dalam pikirian bahwa saya pernah tinggal di Manggarai. Saya putuskan ke Manggarai, minta tolong warga di sana untuk mengubur anak saya," katanya.
Ia lantas menyetop bajaj dan bayar Rp. 5,000 untuk ke Manggarai. Supri, Muriski, dan mayat si kecil tiba di rumah Ibu Sri di Manggarai pukul 18.15. Rumah mungil itu hanya berjarak dua meter dari bibir Ciliwung. Dia lalu mengetuk pintu rumah yang terbuat dari kayu tersebut.
"Saat itu saya sedang mandi, tiba-tiba anak saya memanggil saya, katanya ada tamu. Ternyata Supri. Saat itu dia menggendong anaknya dengan kain sarung. Kepala anaknya ditutup kaus warna putih, sementara kakinya terjuntai. Dia bilang ke saya katanya 'bu tolong saya'. Karena saya kira dia butuh uang akhirnya saya bergegas mengambil uang," ujar Sri yang mengaku masih mengingat wajah Supri meski sudah setahun pindah dari rumahnya.
Ketika Sri hendak mengambil uang, tiba-tiba Supri mengatakan bahwa anak yang digendongnya telah meninggal. Sri kaget. Setelah berpikir sejenak, Sri memberitahu warga. Dengan cepat, warga berdatangan untuk mengurusi mayak bocah tersebut.
Bendera kuning tanda berkabung dipasang di sudut-sudut jalan. Sementara lapak penjualan motor di tepi Jalan Manggarai Utara VI disekat dengan kain untuk meletakkan jenazah Khaerunisa. Sebab, sudah terlalu malan untuk mengubur jenazah.
Warga RT 08/RW 01 berkumpul. Mereka berbagi tugas, sebagian meminta surat ke RW dan kelurahan untuk keperluan penguburuan. Tapi tetek bengek administrasi baru kelar Senin (7/6) pagi.
"Sebagian mengurus jenazah sperti memandikan dan kasih kain kafan. Sedangkan biaya perizinan hingga penguburan jenazah didapat dari sumbangan sukarela dari warga sekitar yang bersimpati," ujar Jono, warga yang juga bekerja sebagai petugas memandikan mayat di kawasan tersebut.
Menurut Supriatna yang ikut mengurusi jenazah Khaerunisa, biaya yang dibutuhkan untuk menguburan jenazah Khaerunisia kurang lebih Rp. 600,000. Biaya ke Dinas Pemakaman Rp. 350.000 dan biaya lainnya semisal membeli kain kafan dan lain-lain sekitar Rp. 250.000.
Setelah diinapkan semalam, jenazah Khaerunisa dimakamkan di taman pemakaman umum (TPU) Menteng Pulo Blok A5 di Jalan Casablanca, Pal Batu, Tebet, Senin (6/^). "Khaerunisa akhirnya bisa dikubur sekitar pukul 11.00," ujar Supriatna.
Dalam pemakaman itu, kakak Khaerunisa, Nuriski Saleh juga ikut serta. Semula Nuruski belum menyadari bahwa adiknya telah meninggal. Ketika dia melihat adiknya dimasukkan ke liang lahat, Nuriski bertanya kepada ayahnya, mengapa adiknya dikubur. Nuriski baru tahu bahwa adiknya sudah meninggal setelah upacara pemakaman selesai. Saya baru bisa menjelaskan saat pemakaman itu," ujar Supri. (mur/pro)
Bagaimana kita selayaknya menanggapi kisah nyata seperti di bawah ini ? JM -------------
- TEBET - Seorang pemulung panik karena tidak punya uang sewa ambulans untuk mengubur jenazah anak perempuannya yang meninggal karena muntaber. Ia nekat membopong mayat balitanya untuk dimakamkan di Bogor dengan menumpang KRL di Stasiun Tebet Jakarta Selatan, pemulung itu diamankan ke kantor polisi, Minggu siang.
Kisah mengharukan ini menimpa Supriono,38, bapak dua anak. Putri bungsunya yang meninggal dunia pada Minggu pagi (5/6) bernama Nur Khoirun Nisa, berusia 3 tahun 2bulan. Melihat anak kesayangannya meninggal, pria yang biasa mencari barang bekas di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, menjadi sedih. Supriono pun nekat membawa jenazah putrinya untuk dimakamkan didekat rumah temannya di Bogor, tetapi menyewa ambulans atau mobil untuk membawa mereka ke Bogor, juga butuh biaya yang tidak sedikit.
Bersama Nurizki Saleh,6, anak pertamanya, ia memutuskan pergi ke stasiun KA Tebet dengan tujuan Bogor. Tubuh kaku Nur Khoirun Nisa yang memakai kaos bergambar Dora diselimuti lalu digendong pakai kain. Di Stasiun Tebet, calon penumpang yang saat itu sedang menunggu kedatangan kereta api tidak menaruh rasa curiga terhadap Supriono. Heboh pun muncul saat seorang pedagang teh botol yang hendak naik kereta api secara tak sengaja melihat wajah Nur Khoirin Nisa dibalik gendongan kain.
Anak bapak sakit kok ditutupin pakai kain, kata penjual teh botol. Dengan polosnya, Supriono mengaku kalau anaknya sudah meninggal. Mendengar jawaban itu, pedagang teh botol kaget dan ia langsung berteriak mayat, ada orang membawa mayat, dalam waktu singkat, puluhan calon penumpang di Stasiun KA Tebet pun geger.
Seorang warga menghubungi Polsek Tebet, Supriono yang merasa dirinya tidak bersalah akhirnya dimintai keterangan di Polsek Tebet. kepada petugas, duda yang megaku mendapat penghasilan Rp.10.000 per hari dari usahanya memungut barang bekas itu berterus terang bahwa anaknya meninggal karena muntah berak. Tapi saya tidak punya uang untuk menguburnya. Jenazah anak saya mau dimakamkan di Bogor, kata Supriono.
Dijumpai di RSCM, pria in menambahkan, kedua anaknya itu merupakan buah pernikahan dengan Turiyem. Karena tidak kuat hidup miskin, Turiyem mengajukan cerai. Anak-anak ikut sama Supriono. Takdir rupanya berkehendak lain, putri pertamanya meninggal akibat sakit.
http://www.poskota.co.id/poskota/headline_contents.asp?id=5295&file=index
 Seperti biasanya, bila seseorang pindah ke daerah lain, atau Negara lain, ada yang disebut culture shock. Situasi ini bisa disebabkan karena tatacara, nilai-nilai, serta kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan orang-orang setempat berbeda dengan yang biasa kita lakukan. Namun sebelum seseorang mengalami culture schock yang bisa menjadikannya bagai orang Bumi berdiri di planit Mars, atau sebaliknya macam orang Mars berada di planit Bumi, ia akan merasakan kejutan-kejutan yang bisa saja cukup menggelikan atau menjengkelkan. Seperti misalnya sepupu suamiku yang bule asli kusuguhi lemper saat ia berkunjung ke Indonesia. Kupikir kenapa ia anteng-anteng makan netjes mulut terkulum tak ada tanda tanda menelan lemper yang dilahapnya. Ternyata ia sedang susah payah mengunyah daun pisang pembungkus lemper yang tak pernah bisa lembut di mulutnya.
Belasan tahun lalu pertama kakiku menginjakkan rumah calon keluarga suamiku di Belanda, saya dijemput di Schiphol. Saya bilang: “Saya lapar, saya mau makan pizza dulu”. “Wah di rumah mama sudah siap sedang nunggu, pesta sudah siap..” Hup… setengah jam kemudian saya sudah di depan pintu rumahnya. Saya tidak diberitahu terlebih dahulu jika ada acara menyambut saya dengan pesta keluarga. Cium kiri kanan kiri (tiga kali kecupan), bunga-bunga dan minyak wangi mendarat di tanganku. Saat itu jam 11 pagi. Saya masih plohak plohok karena belum gape betul berbahasa Belanda, sambil menunggu nunggu makan siang pesta yang bayanganku macam pesta di Indonesia, dengan makanan seabrek abrek. Saya menerima kopi panas dua kali dan tart satu potong. Tidak lama tunanganku menanyakan masih mau makan roti gak? Saya menerima sepotong kersttol (roti bulan Desember) yaitu roti manis berisi kismis dan almond lembut. Sampai jam dua siang saya melirik lirik dapur, dimana nyonya rumah menaruh santapan? Oh, barangkali sebentar lagi ada catering datang. Waktu jam empat sore, tamu sudah pulang semua, saya terpaksa ngambek… karena saya lapar setengah mati… he he. Setelah saya hidup beberapa bulan di Belanda, setelah menikah tentunya, saya baru tahu, itulah bentuk pesta keluarga di siang hari, yang biasa diisi dengan sepotong tart dan dua cangkir kopi…
Musim panas tahun berikut setelah menikah, dengan diantar serombongan sanak famili saya diboyong ke Belanda, tinggal di rumah mertua. Saya menikmati rumahnya yang berhalaman belakang luas sekali, banyak bunga, begitu setidaknya, walau diralat suamiku, itu semua rumput. Di hari kedua ada pesta keluarga, lagi lagi menyambut saya yang baru datang. Saya ingin berpartisipasi dengan memeriahkan pesta, membuat buket-buket kecil bunga dari kebun belakang. Tapi buket itu disambut senyam senyum oleh sanak saudara. Rupanya mata dan nilai-nilai yang kutancapkan disetiap untaian buket yang kupandang indah itu, semuanya bunga rumput yang tidak bernilai sebagai bunga bagus, menurut sanak keluarga suamiku. Bunga itu, bunga kuning tapal kuda yang macam herbras, leeuwenbekjes,vergeet me niet, botterbloem si bunga kuning yang bisa ketemui sepanjang jalan, dan bunga putih pakis liar.
Waktu kami pindahan rumah ke rumah sendiri, die pinggiran rumah kutancapkan bunga-bunga yang menurutku cantik, kupungut tumbuhan itu dari hutan hutan kecil. Lagi-lagi aku disenyam senyumi oleh om dan tantenya. Sebab yang kutanam lagi lagi vergeet me niet dan medeliefje. Padahal saya sangat suka dengan vergeet me niet, berupa untaian bunga kecil kecil berwarna biru yang cantik.
Selagi saya ditertawakan karena menyanjung bunga rumput, dan tak bisa lagi membedakan mana bunga rumput dan mana bunga yang biasa dipelihara, eh saya melihat ada enceng gondok dijual di toko bunga dengan nama Water Hyacint, berharga mahal pula. Bukan itu saja pohon jati kecil, pohon kelapa kecil, bahkan pohon pisang juga menjadi kamer planten (tanaman dalam rumah) . Atau bunga ciplukan (bunga lampion) yang di Indonesia biasa hidup di kebun kebun gembur, atau di pematang sawah, buahnya macam buah seri, dijual juga oleh tukang buah.

 Kalau cara ini, wanita pipis berdiri, diusulkan, pasti saya akan diprotes banyak orang: “Husj…. Kalau perempuan sopannya ya pipis duduk”. Begitu paling tidak protesnya. Sebaliknya kalau kita mengajarkan anak laki kita pipis duduk, pastinya akan juga diprotes orang banyak. Artinya adat istidat pipis, atau buang air kecil ini ya begitu, perempuan pipis duduk, laki-laki pipis berdiri.
Tetapi nyatanya adat istidat ini malah menyulitkan wanita sendiri, karena tatacara dan sopan santun ini tidak bisa dilakukan di sembarang tempat. Misalnya saja di WC umum, selain WC nya kotor, bau, maka gak tega deh kita buat menempelkan pantat di kloset basah. Nongkrong di atas WC? Juga ada larangan: dilarang kencing nongkrong di atas WC (maksudnya bisa pecah).
Orang juga ngeri buang air di tempat umum, karena banyak penyakit menular melalui media yang satu ini.
Tapi anda setuju gak, kalau wanita diperbolehkan pipis berdiri di WC umum? Masalahnya bukan boleh apa engga, tapi bisa engga?
Suatu kali saya di Kruidvat, drugstorenya Belanda, ketawa cekikikan sendiri (dalam hati, supaya gak disangka rada gendeng), karena menemukan peralatan wanita agar bisa pipis berdiri, namanya Plastuit.
Plastuit ini merupakan kreasi seorang wanita Belanda yang merasa resek sendiri jika harus pipis duduk di WC umum. Jadi dia sering membuat sendiri alat itu, dan digunakan sendiri. Lama-lama peralatan ini ia perkenalkan pada rekan-rekannya dan diproduksi untuk dijual. Bahan dan bentuknya sederhana. Kita juga bisa membuatnya sendiri. Terdiri dari kartun yang diselipkan di paha dengan bentuk piringan penampung yang formanya disesuaikan dengan lekukan paha. Bagian depannya berbentuk corong. Nah kalau ada yang sudah pernah nyoba, lapor-lapor ya, saya mah belum pernah nyoba… he he

 Musim turis kini sudah dimulai, Belanda selalu penuh dengan turis mancanegara, terutama di bulan Mei, mengejar bunga tulip yang ditanam berhektar-hektar. Jika dilihat dari pesawat terbang mirip karpet warna warni. Sebagai penduduk Belanda, saya sering kedatangan tamu, saudara maupun kenalan dari Indonesia. Sasaran daerah rekreasi selain belanja yang selalu jadi favorit itu, adalah Volendam buat berfoto dengan baju nelayan Volendam, Madurodam taman mininya Belanda, dan Scheveningen (pantai di Den Haag). Soal berfoto dengan baju nelayan di Volendam ini, sampai sampai ada foto studio yang memajang orang-orang bekennya Indonesia, para bintang film, penyanyi, bahkan Gus Dur juga gak ketinggalan. Sebagai istri warga Belanda yang berkulit Jawa, saya juga punya foto itu, saya pajang di ruang tamu. Kurang asemnya, setiap teman suami saya datang, mereka cengar cengir melihat foto kita berpakaian nelayan itu. Kata mereka, baru sekali lihat ada orang Belanda mau-maunya berfoto begitu… Lho?
Herannya, setiap yang baru datang dari Indonesia ditanya ingin lihat apa, jawabnya ingin ke Volendam bikin foto, lalu ke Madurodam. Sebelum mendongeng Madurodam, saya ingin mendongeng saat saya bersama sama 5 kenalan bule Belanda ke Jakarta. Saya ajak mereka ke Taman Mini Indonesia Indah. Tapi mereka menolak, katanya ah engga ah… taman mini, kayak Madurodam saja. Saya bilang, engga, yang ini gedeeee banget, 25 hektar. Mereka tetap gak percaya, jadi selalu saja Taman Mini dilompati langsung berangkat ke Bandung atau Jogja. Nah tamu-tamuku dari Indonesië itu, selalu ingin ngotot ke Madurodam, padahal sumprit saya sudah bosan mengantarnya… hi hi. Karena saya bilang, masih jauh lebih hebat Taman Mini. Herannya lagi sudah saya kasih tahu berkali kali, ya gak mau. Waktu sampai di Volendam, selalu saja bertanya: “Mana Volendamnya?” “Ini!” “Ini? Eh… kirain sebesar Ancol!” Lho, mbandingin pesisir kampung nelayan kok dengan Ancol. Begitu sampai Madurodam, lebih misuh misuh lagi, karena dibandingkan antara Madurodam yang 20.000 meter persegi dengan Taman Mini yang 25 hektar, ya jauuuhhh jooo….Di Madurodam bangunannya memang benar benar mini, imut, seuplik uplik. Hayo, siapa yang sudah ketipu… he he…

 Waktu pagar hidup di kebun belakang dibongkar, kita patungan dengan tetangga mendirikan pagar batu. Supaya gak pakai biaya banyak maka kerjanya gotong royong, suami istri bergantian nemplokin semen dan nyusun bata. Tapi mbongkar pagar hidup itu, wah susah juga, karena akarnya sudah merasuk ngerogoh ke ke dalaman bumi (cieee…). “hop…. Hop….. saya mau cari kaus tangan dan masker dulu! “Si nyonya belakang rumahku tiba-tiba teriak. “Ada apa… ada apa?” suami saya heran. “Ada asbes!” “Ooo… gak papa lah, kerja terus saja” sambung suamiku. “Tapi nanti kita kena kanker!” “Gak!”kata suamiku lagi. Saya juga ikut campur, ah, gak papa lah! Tapi si nyonya itu lari pulang, gak, katanya, saya gak mau kena kanker. Si suaminya cuek saja, kerja. Si nyonya kerja kembali seperti sedang mau mengoperasi sapi sakit, pakai sarung tangan, tutup rambut dan masker. Dia hati-hatiii sekali tidak mau bersinggungan dengan asbes. Sedang asbes yang menggeletak sudah bertahun tahun disana oleh suamiku dimasukkan ke dalam kantong plastik tebal yang sengaja diambil dari kantor kelurahan (kantor gemeente). Kantong ini memang disediakan spesial untuk asbes.
“Jadi gimana, kita lapor Burgemeester (Pak Lurah) gak, kalau di kebun kita ada asbes? “ kata nyonya tadi penasaran terus. “Gak usah, nanti oleh Pak Lurah kita dipanggilkan perusahaan pemusnahan asbes, banyaknya sepasukan, satu kompi! Bayarnya mahal!” jawab suamiku. “Nanti saya yang buang deh ke penampungan asbes,” kata suamiku lagi.
Asbes yang jadi memedi setan menakutkan adalah campuran beberapa mineral alami yang mempunyai struktur serat dicampur dengan sement dan dicetak menjadi lempengan. Ada asbes putih (chrysotiel), asbes coklat (amosiet), dan asbes biru (crosidoliet). Bahan dasar asbes yang mudah didapat di lapisan tanah di mana-mana ini produksinya meledak sejak tahun 50-an. Bahan ini sangat murah dan tahan api. Ia digunakan untuk atap, untuk eternit, pelapis, bahkan untuk pot bunga. Ia juga bisa ditemukan berada di dalam mobil, di dalam hair dryer, dan sebagainya. Waktu saya kecil saya sering gunakan potongan asbes ini untuk main engklek, main dampu, atau main tak umpet dengan cara menedang setumpuk potongan asbes kecil kecil ditanah yang harus dibereskan lagi oleh yang harus jaga dan mencari teman yang ngumpet.
Tapi belakangan sekitar dua puluh tahun lalu diketahui bahwa serat asbes halus bisa menyebabkan kanker dan tumor paru yang disebut asbestosis. Belang si asbes ketahuan saat ternyata ada beberapa pekerja di pabrik asbes yang mengalami pembengkakan kronis di paru-parunya. Rupanya serat yang terhirup hidung langsung masuk paru gak mau keluar lagi. Dia mengiritasi paru dan menyebabkan pembengkakan, kronis, dan berakhir menjadi kanker. Bisa sampai terhirup tentu saja jika potongan potongan asbes menjadi tidak kompak lagi, dalam udara kering, serbuknya terbang kian kemari. Pabrik atau perumahan yang yang menggunakan asbes sebagai atap, eternit atau dinding, mempunyai kans besar dapat menyebarkan serbuk ini. Karena itu masalah bahaya asbes ini juga menjadi pertimbangan pemadam kebakaran.
Saya masih ingat saat penyuluhan pemusnahan asbes di televisi. Pasukan pemusnahnya menggunakan pakain macam astronot akan berangkat ke planet lain. Saat demo di tivi itu, mulanya saya kira ada calon astronot yang sedang latihan, gak tahu demo pengangkutan asbes dari lokasi dan dibawa ke tempat pembuangan. Saya cekikikan melihatnya, karena saya berfikir ke arah, saya yang tolol mencerna penyuluhan, atau pasukan pemusnah ini berlebihan? He he… dasar saya yang gagap teknologi, jelas yang ngangkut tentu ketakutan kena kanker, jadi lebih baik dalam menjalankan pekerjaan yang berrisiko nyawanya ini, ia mati-matian dan maksa diri menggunakan pakaian macam astronot.
Ternyata yang takut asbes ini bukan hanya masyarakat umum dan tukang angkut asbes, tetapi saat pasukan Belanda, atau Dutch Bat menjadi tentara PBB guna membantu pengungsi perang Balkan di daerah Albania beberapa tahun lalu, para tentara yang muda muda sekali itu, protes pada pemerintah karena baraknya menggunakan atap asbes. Mereka minta pulang. Dalam harian terbesar Belanda NRC ditayangkan sebuah gambar dimana mereka sampai mau mandi saja masih menggunakan masker anti gas beracun…. Perkara atap berasbes ini ternyata tidak berhenti sampai disana, tentara yang kembali tetap menuntut pemerintah jika dirinya bisa terkena kanker. Kembali dari daerah perang, semua anggota tentara dilakukan pemeriksaan habis habisan, mulai pemeriksaan rontgen, darah, urin, kulit, dlsb, tapi tak ditemukan satupun yang mengalami asbestosis.
Saya sering ngeledek saudara-saudaraku yang menjadi tentara di Indonesia, saya bilang: pengen perang dengan tentara Belanda? Lempari saja dengan potongan asbes, pasti mereka minta pulang…..

 Heboh ditemukannya dua nenek berkudis di rumah jompo, cepat menjalar dalam segala rumpian di kota kecilku di bilangan Noord Holland Negeri Belanda. Sebab berita dua nenek itu masuk beberapa koran lokal, berulang-ulang, bahkan dilaporkan pula jalannya acara pemberantasan penyakit kudis (scabies) yang dilakukan lebih dari seminggu di satu rumah jompo. Padahal rumah jompo yang tersebar cukup banyak, dan semua kini ditutup untuk umum, penghuninya tidak boleh dijenguk kecuali hanya oleh keluarga terdekat. Dengan kata lain mereka betul betul dilokalisasi, dan ini akan berlangsung hingga sebulan lamanya.
Pengumuman berulang ulang bagaimana menanggulangi kudis, penyuluhan kepada masyarakat, sarat dengan pesan, bahkan berkesan, penyakit ini harus mendapatkan perhatian sama hebatsnya dengan penyakit menular lainnya. Hanya bedanya, yang terserang kudis tidak akan bisa mati, cuma garuk garuk saja. Meski cuma garuk garuk saja, tetapi toh pemerintah cq departemen kesehatan juga mengeluarkan panduan tatalaksana pemberantasan kudis, yang disusun dalam sebuah buku berjudul: Draaiboek, scabies – schruft in (zorg)instellingen, dikeluarkan oleh Landelijke Informatiestructuur Infectieziektebestrijding http://www.infectieziekten.info/bestanden/protocollen/drb_scabies.pdf yang isinya menjelaskan berbagai hal tentang penyakit kudis ini.
Kudis (scabies) penyakit yang bukan asing bagi kita, setidaknya bagi saya, karena selama saya bekerja di berbagai pedesaan maupun pedalaman di Indonesia, penyakit ini merupakan penyakit yang akrab dengan masyarakat, apalagi masyarakat yang susah air, jarang mandi, dengan hygiene lingkungan yang tidak memadai alias jorok. Tudingan pada si kudis adalah penyakit jorok, memang. Penyebabnya kutu Sarvoptes scabiei. yang kuiciiiil banget dan demen hidup di selip-selipan atau lipatan kulit yang lembab. Si tuma ini nembus kulit dan demen nangkring di bawah kulit dengan jalan hilir mudik membuat terowongan sambil kawin. Rupanya gak kaya manusia, yang bisa hidup berkeluarga sampai kakek kakek, si tuma ini begitu habis kawin, jantannya kehabisan tenaga sampai akhirnya mati muda. Jandanya bertelur banyak banyak yang bisa membuat kapling rumah baru di kulit orang lain melalui sentuhan.
Sekalipun tidak menimbulkan kematian tetapi si penderita garuk garuk terus sampai kulit menebal , seringkali saking enaknya garuk garuk sampai luka-luka menyonyos dan akhirnya bernanah. Di Indonesia biasa diobati dengan salep anti kudis yang bisa beli bebas di warung warung.
Balik ke pemberantasan kudis yang kudongengkan di rumah jompo di atas. Waktu kubaca pengumuman bahwa semua rumah jompo di bilangan kotaku itu ditutup untuk umum, aku menanyakan pada suamiku, jadi bagaimana kita mau menjenguk Mama (mertuaku) ? Karena setiap dua tiga hari kami menjenguknya sekalipun ia tak mengenal namaku. Ia biasa menyebutku sebagai vrauwtje (perempuan), dan anakku dipanggilnya Koko (nama anjingnya). Ia mengalami alzhaemer berat, sehingga harus tinggal di gesloten afdeeling (bagian yang tertutup). Pintunya selalu dikunci. Di bagian itu tinggal kira-kira 30 kakek dan nenek yang dengan keadaan dementia yang berat sekali, dengan berbagai kesulitan, seperti tak bisa jalan lagi, atau hanya bisa mengomel sepanjang hari, atau memanggil anaknya terus menerus sambil berteriak teriak: “Jaaannnn…. Ik doe niks!”(Jannnn, …. Saya gak bisa apa-apa!” Dan zuzter di dapur menyauti, Yaaa…. Ik kom er aan (Yaa… saya datang)…. Tapi gak datang datang juga. Atau si zuzter akan menjawab: Jan is in de koekepan….
Rupanya saya dan anakku gak boleh menjenguknya untuk sementara, sebulan lamanya. Karena sekalipun rumah jompo ini tidak dilaporkan ada yang terjangkit kudis, tetapi seluruh penghuninya diperiksa habis habisan, sprei dan bajunya masuk wasserij semua, kamar dicuci. Operasi ini dilakukan oleh sebuah tim besar sebesar satu kompi pasukan yang dibentuk oleh dinas kesehatan kota..Dan kita sekeluarga karena selalu berkontak dengan rumah jompo, harus ke dokter keluarga, diperiksa….. Sekalipun dinyatakan bebas tak ada kudis, kita pun masih mendapatkan perintah, mandi dengan sabun karbooolll….. Setiap suamiku pergi menjenguk ibunya, bajunya harus segera dicuci dengan air panas. Weh, repotnya ya? Sesuai dengan panduan tatalaksana pemberantasan yang dikeluarkan oleh kementerian kesehatan. Ampuuun!

Saat pertama saya menginjakkan kaki di tanah Belanda, saya melihat di lengan kiri ada setitik putih. Hmh… ini pasti panu deh ya. Saya amati dengan kaca pembesar, betul, panu. Supaya tidak membesar maka saya segera ke apotik minta acidum salisilicum (asam salisilat) yang biasa untuk obat panu termurah. Pelayan apotik sangat heran, mengapa saya membutuhkan bahan itu . Sambil alisnya masih mengerenyit ia memanggil supervisornya. Ibu apotheker yang cantik manis ayu alus berkaca mata bening itu menyapa saya, dan menanyakan untuk apa acidum salicilicum itu? Oo… untuk ini…. Sambil kutunjukkan bintik putih di kulitku. Apa itu? Panu…. Tinea versicolor! Dari mana anda tahu bahwa itu Tinea versicolor? Tanyanya. Ya tahu dong hidupku kan dikelilingi oleh barang beginian?
Ibu cantik itu menggeleng geleng, katanya bisa saja nanti penyakit lain. Menurutnya, lebih baik saya pergi ke dokter keluarga (huisarts) menanyakan bintik putih itu apa. Ya sudah kalau gak dikasih asam salisilatnya saya minta selsun blue saja, obat ketombe. Gak ada katanya.
Segera kita hubungi huisarts dan mendapatkan perjanjian kapan bisa berkunjung. Esoknya saya kesana, seperti biasanya huisarts membukakan pintu untuk kita, tersenyum memberi tangan bersalaman sambil mengucap: goeden middag, dan menyilahkan masuk. Keramahan seperti ini tidak selalu dilakukannya. Kutanya suamiku kenapa ada pasien yang dipanggil perawatnya, dan ada yang diundang masuk olehnya sendiri. Oo… menurut suaminya, yang dipanggil perawat itu pasien yang mendapat subsidi kesehatan, yang dibukakan pintu sendiri oleh dokter, itu pasien asuransi partikelir. Weh… pikirku, kok diskriminasi juga. Hmh… caranya barangkali memang begitu, sebab waktu melahirkan di RS, yang mendapatkan subsidi kesehatan hanya bayar 48 gulden (waktu itu), dan kami harus membayar 10.000 gulden (tetapi diganti asuransi). Tetapi kami mendapatkan kamar hanya dengan satu tempat tidur, sedang pasien dengan subsidi kesehatan mendapatkan kamar di barak.
Zegt het maar…. Kata huisarts. Kutunjukkan lenganku. Dia bertanya, apa itu? Lho kok tanya, dalam hatiku. Ini panu, pak dokter…. Dia senyum lebar… wah saya tidak tahu, jawabnya… Weh… ya pastinya dokter Eropa pasti gak tahu penyakit tropis yang mblekethek begini. Saya jadi ingat waktu masih menjadi mahasiswa dan harus co-schap di Serpong dahuluuuu sekali. Saat itu ada peledakan penyakit muntaber, dan semua mahasiswa siang malam dikerahkan untuk vaksinasi. Kebetulan bersama kami ada mahasiswa tropical medicine dari Belanda yang juga ikut serta. Saya lihat si dokter muda calon ahli penyakit tropis ini, secara serampangan memegang lengan lengan penduduk yang kebetulan punya kurap, kadas dan kudis. Temanku berteriak teriak… weit… weit…. Kalau pegang lihat-lihat ya…. Ini semua penyakit kulit…
Lalu pada huisartsku tadi kutanyakan, jadi bagaimana nih, saya dikasih acidum salicilicum gak? Engga, katanya. Lho? Anda musti ke rumah sakit Amsterdam dahulu, periksa disana, itu penyakit kulit apa bukan, kalau iya benarkah penyakit kulit tropic, dan kalau penyakit tropic jenisnya apa? Ah… ah … ah… Eta mah panooo pak dokter kok repooott amat?.
Ke Amsterdam? Tanya suamiku, saat sudah di mobil. Gak… saya mau ke toko Cina saja. Saya beli sepotong laos, dan di rumah saya hangatkan di atas api kompor, getah yang keluar saya oles-oleskan. Sorenya, suamiku bertanya: mana opornya? Lho kok opor? Tadi kan beli bumbu. Iya, tapi bukan buat opor, buat panu! Dan Woalaaa…. Beberapa hari kemudian panuku sudah nonaktif…
 Binatang secuil ini di Indonesia sangat terkenal, kutu nggremet di kepala bisa loncat ke kepala orang lain. Di kampung jika sedang senggang para ibu saling mencari kutu di beranda rumah. Rambut diurai, kaki njegang, cuma pakai kutang. Kalau si kutu biang bandel, kutu rambut “dihajar”juga dengan de-de-te….(DDT) obat semprot pemberantas nyamuk.
Tapi sepanjang yang kutahu, soal kutu rambut yang namanya Pediculus Humanus Capitis ini gak pernah ada yang dimasukkan rumah sakit. Waktu saya kerja di puskesmas baik di desa maupun di Jakarta, gak pernah ada warga desa yang dimasukkan rumah sakit gara-gara di kepalanya ada kutu rambut. Jangankan puskesmas punya pasien kutu rambut, kutu rambut mah gak diurus petugas kesehatan….
Tapi pengumuman dan selebaran yang saya terima di sekolah anakku saat plegrup dulu (di Belanda), menganjurkan anak yang mempunyai kutu rambut harus dibawa ke rumah sakit bagian anak-anak untuk diisolasi beberapa hari, sampai kutu rambutnya habis. Sedang anak lain juga harus dibawa ke rumah sakit dan diperiksa oleh tenaga ahli kutu rambut. Sedang rumahnya akan dikunjungi oleh pasukan anti kutu rambut dari dinas kesehatan kota (GGD). Kamar harus dikosongkan, semua pakaian dan selimut dicuci pakai air panas, dan kasur harus dijemur.
Setiap menjelang musim panas biasanya petugas penyuluhan ini keliling sekolah sekolah dasar, memberikan penyuluhan dan membagikan leaflet. Begitu hebohnya dongeng penanggulangan kutu rambut ini, sampai sampai binatang kecil ini terpandang sangat aib dimata para orang tua. Jangan sampai anaknya mempunyai kutu rambut yang sungguh sangat memalukan itu. Sampai saking malunya, menurut laporan banyak orang tua, kalau anaknya terlihat ada kutu rambutnya cepat cepat ditanggulangi sendiri jangan sampai sekolah tahu, nanti malah membuat heboh satu sekolah.
Temanku dari Indonesia yang juga punya anak sebesar anakku, nggrundel: “Aduh…. Ngapain sih kok ngurus kutu rambut sampai heboh gitu, emangnya bisa nularin penyakit segala macam ya? Nularin AIDS?” Kalau membaca berbagai brosur yang dikeluarkan oleh dinas kesehatan sih engga pernah tuh menyinggung bahwa kutu rambut mampu menularkan penyakit berbahaya dari satu anak ke anak lain. “Iya…. Memangnya kenapa?” “Auk….” Jawabku.
Penyuluhan di televisi oleh tenaga ahli kutu rambut menjelaskan bagaimana caranya memberantas sendiri kutu rambut tersebut dengan sisir serit, dengan shampoo, dan dengan anti kutu rambut. Dengan antusias, dan engga tahu, kutu rambut di Negara kita ditelan sebagai obat penyakit kuning.

 Awalnya masyarakat eropa adalah pemakan gandum, kentang datang kemudian setelah ditemukannya kentang dari daerah Amerika Latin, terutama dari daerah dataran tinggi Peru dan Bolivia. Sekitar tahun 1500-an oleh bangsa Spanyol kentang ini dibawa ke negeri Spanyol, dan akhirnya menyebar ke daratan Eropa. Pada akhirnya di abad 19 kentang merupakan komoditas sangat penting. Padahal di awal abad 18 pernah terjadi kelaparan yang menimpa penduduk Eropa yang disebabkan karena munculnya penyakit yang menyerang tanaman kentang dan menghancurkan bibit-bibit kentang yang ada. Keadaan inilah yang menyababkan terjadinya transmigrasi besar-besaran penduduk Eropa ke Amerika.
Gandum yang sudah menjadi makanan pokok penduduk Eropa sejak awal mempunyai berbagai jenis, yaitu ada gandum lembut dan ada gandum keras. Ada yang kaya dengan gluten ada yang lebih sedikit mengandung gluten. Perbedaan jenis gandum ini juga antara lain karena sifat tumbuhan ini ada yang hidup di musim dingin, dan ada yang hanya bisa tumbuh di musim panas. Masing-masing daerah mempunyai keistimewaannya sendiri, misalnya ada jenis gandum yang hanya bisa digunakan untuk membuat pasta, mie atau spaghety, dan ada yang hanya bisa digunakan untuk membuat roti.
Gandum Belanda, biasa disebut tarwe, tepungnya disebut tarwebloem, mempunyai kekhususan merupakan tepung yang lembut, dan kaya akan gluten. Pengalaman di jaman dahulu orang mengetahui bahwa tepung yang kaya akan gluten ini merupakan makanan yang sangat baik bagi perkembangan otak, karena itu anak-anak yang mengalami retardasi mental selalu diberi roti tarwe (disebut broeder ) dengan harapan ia akan mengalami perkembangan otak yang baik.
Berbagai jenis gandum-ganduman ini ada yang berkoral besar, ada yang kecil, dan dengan warna bermacam-macam. Orang sering juga mencampur berbagai jenis gandum ini untuk mendapatkan rasa dan tekstur roti tertentu.
Sedang pannenkoek, yang merupakan makanan khas Belanda yang sangat terkenal itu, menurut sejarah adalah bentuk makanan pokok yang pertama-tama pernah dibuat oleh masyarakat Eropa di jaman prahistori. Awalnya dahulu dengan bantuan batu, gandum ditumbuk sampai menjadi lembut, ditambah air menjadi adonan macam bubur, dan disiramkan di atas batu panas atau peralatan yang datar. Hasilnya berbentuk lempengan macam pie, demikianlah roti di jaman awal itu. Saat itu orang selalu membuat “roti” ini dengan bentuk lempengan tipis, sehingga bisa dikeringkan dan tahan lama. Sampai saat ini bentuk roti bulat tipis ini masih dapat kita temukan di daerah-daerah Norwegia, Swedia dan Findlandia, yang disebut knäckebröd.
Lama-lama orang merasakan bahwa jika ditambah telur, susu, gula, garam maka rasanya akan menjadi lebih enak, maka jadilah pannenkoek yang kita kenal saat ini. Pannen artinya panci, koek artinya kue. Lama-lama variasinya juga semakin kaya. Di rumah-rumah makan spesial pannenkoeken, kita dapat memesannya dengan campuran aneka pilihan, misalnya pakai apel, ananas, daging slice (ham), Atau pannenkoeken polos dimakan dengan stroop (gula kental, melase, atau caramel), gula halus, gula pasir, atau aneka jam, slagroom dan buah-buahan.
Di Jerman, pannenkoek disebut kue telor (eirenkoeken). Di Inggris pannenkoeken merupakan bagian dari makanan tradisional saat ada Tuesday-carnaval yang dahulu kala ada hubungannya dengan pembukaan hari puasa makan telur. Di Swedia sendiri, pannenkoeken merupakan makanan tradisional dalam pesta-pesta nasional. Makanan pendamping pannenkoeken adalah appelmoes (bubur apel) dan vossenbessencompote (kompot buah-buahan hutan).
Di Belanda selain pannenkoeken bentuk flensjes seperti di atas ada juga pannenkoeken bentuk lain yang besarnya sebesar telur burung dara, disebut poffertjes. Sedang rakyat Perancis menyebut pannenkoeken dengan sebutan Crêpes. Bentuknya selain sangat tipis juga sangat lebar. Masyarakat Spanyol lebih menyukai rasa yang lebih tajam, adonannya sering ditambah potongan-potongan kentang, bawang bombai dan bawang putih. Kadang dimakannya dalam keadaan dingin. Daerah Austria-Hongaria, bentuk makanan ini lebih tipis dan lebih kecil daripada bentuk yang biasa dibuat rakyat Jerman, seringkali diisi dengan kwark (produk susu asam), saus halus dari kacang, atau coklat hangat. Orang Rusia menghidangkan pannenkoekennya dengan setumpukan kaviar dan room/susu asam yang tebal. Bila anda merasa makanan itu enak, anda tak perlu menjadi Tsaar terlebih dahulu, datanglah ke Rusia, dan dapatkan pannekoeken dengan setumpuk kaviar. Enaakkk hmh…(eh, padahal yang beginian gue juga belum pernah makan... bha!)

HOMEOPATHY SUNGGUH MEMBINGUNGKAN
Homeopathy, akhir akhir ini menjadi populer kembali. Bahkan datangnya kini dari negara-negara Eropa dan Amerika yang notabene standard mediknya justru sangat tinggi. Orang pun sering bertanya, berkhasiatkah homeopathy? Karena datangnya dari negara maju, benarkah tidak berbahaya? Beritanya banyak, simpang siur, secara umum orang mempunyai pengetahuan bahwa homeopathy tidak berbahaya, tetapi mengapa kini Uni Europa meributkan dan membuat keputusan bahwa tahun 2004 semua industri kelompok homeopathy akan ditarik dari peredaran bebas, dan menyusul Amerika tahun 2005. Tidak lagi dibawah kelompok suplemen makanan, tetapi masuk apotik dalam daftar obat dan menggunakan resep dokter. Sampai tahun yang ditetapkan semua industri farmasi yang bergerak dalam suplemen makanan harus dapat menunjukkan hasil uji cobanya untuk mengetahui khasiat, dosis, serta efek sampingnya.
Homeopathy oleh World Health Organization dimasukkan ke dalam kelompok traditional medicine, yang dalam Deklarasi Alma Ata tahun 1978, traditional medicine ini menjadi telaahan sebagai potensi masyarakat di negara-negara berkembang dalam upaya pertama merawat kesehatan diri sendiri sebelum mencari pengobatan kepada fihak profesional. Tetapi homeopathy sebagai tradisional medicine yang bernuansa budaya, kini sangat fleksibel dan bahkan mampu beradaptasi dengan ilmiah moderen, serta ditunjang oleh bioteknologi industri farmasi multinasional. Upaya perdagangannya segera mencuat di segala penjuru dunia, dan dengan segala cara termasuk multilevel marketing (MLM) masuk ke rumah-rumah tangga bagai suatu pengetahuan moderen melaju ke masa depan yang patut dipelajari semua orang yang ingin hidup sehat, bebas penyakit, tidak bisa tua berkat anti aging, bahkan dengan berbagai enzym serta antioksidan yang mampu mengusir radikal bebas bisa sembuh dari segala penyakit mulai flu sampai kanker, sakit jiwa, dan cacat genetik sekalipun. Bahkan dengan suplemen makanan dan terapi nutrisi orang bisa membuat anak menjadi jenius. Smart medication dan wonder theraphy. Homeopathy apakah ini yang tiba- tiba hadir di abad 21 dan sangat hebat pula, sebagai pengobatan alternatif, pencegahan, dan perawatan kesehatan yang mampu mengalahkan ilmu kedokteran? Karena mampu mengatasi berbagai keadaan dan penyakit yang dokter sudah menyerah. Apalah artinya diagnosa, yang penting masalah bisa diatasi, demikian yang sering terdengar diantara slogan- slogannya.
Ilmu pengobatan homeopathy sendiri sudah dikenal oleh masyarakat Eropa sejak berabad-abad lalu. Filosofinya banyak dikembangkan dari filosofi pengobatan Hipocrates dan Galen, terutama gut-brain pathway theory dan hubungan antara body and minds. Sampai pada tahun 1810, Samuel Hahnemann seorang dokter Jerman menerbitkan bukunya berjudul Organon tentang berbagai prinsip pengobatan dan filosofi homeopathy. Buku itu hingga kini masih menjadi pegangan para homeopath klasik, dan sekolah-sekolah homeopathy Hahnemann ini juga kini berdiri di banyak negara. Homeo berasal dari bahasa latin, artinya similar atau bergejala sama, dan pathy berasal dari pathos artinya penyakit. Prinsip ini bertentangan dengan prinsip allopathy yang banyak digunakan oleh dokter sebagai misal dalam pengobatan dengan antibiotika. Karena itu dalam sejarahnya terjadilah pertentangan prinsip antara homeopath klasik dan para dokter.
Prinsip homeopathy Hahnemann yang paling utama adalah penyakit umumnya disebabkan karena infeksi yang disebut psora (itch). Hidup ini mempunyai daya spiritual (vitalism) yang langsung berkaitan dengan proses penyembuhan. Cara pengobatan didapatkan melalui prosedur percobaan (proving) pada manusia menggunakan substansi yang overdosis yang akan memperlihatkan gejala-gejala yang sama dengan gejala suatu penyakit. Dari substansi yang overdosis yang menghasilkan gejala sama itu, maka substansi ini memerlukan pengenceran seencer-encernya untuk mendapatkan kemampuan aktif dari substansi itu yang mampu mengobati si sakit namun efek racunannya telah hilang (law of similia). Pengobatan akan semakin efektif dengan pengenceran yang semakin tinggi (law of infinitesimals), dan akan semakin berpotensi jika menggunakan bidang datar seperti telapak tangan, di bawah lidah dan permukaan kulit (potentizing). Homeopathy Hahnemann juga mengenal penyakit akut dan penyakit kronis yang disebutnya miasms. Preparat yang digunakan kebanyakan diambil dari berbagai tanaman, berbagai bisa binatang dan bahan-bahan kimia seperti mercury, arsen, dan sulfur. Penekanannya adalah membangun sistem pertahanan tubuh dengan merangsang sistem respon imun tubuh manusia. Dengan dosis besar manusia akan keracunan, tetapi dengan dosis sangat kecil diharapkan terbangunlah sistem respon imun manusia. Sebetulnya prinsip ini sudah dikenal ratusan tahun oleh masyarakat Eropa. Raja-raja Eropa di abad-abad pertengahan sering diberi berbagai bisa binatang, mercury, arsen, cyanida, serta racun- racun lain agar jika diracun musuh tubuhnya telah kebal. Prinsip ini pula yang kemudian melahirkan ide vaksinasi cacar di Perancis di abad ke 17, yang dikenal dengan nosodes, namun pada saat itu orang belum mengenal kuman atau virus karena mikroskop belum diketemukan. Tetapi orang sudah mencoba memberi luka dikulit seorang anak dengan darah kuda yang terkena penyakit cacar, yang akhirnya ternyata di jamannya epidemi cacar itu anak-anak tersebut terbebas dari tularan cacar. Begitu populernya Hahnemann, oleh pengikutnya kini ia diumpamakan sebagai Coppernicus, yang temuannya baru ratusan tahun diakui padahal sebelumnya dihujat-hujat.
Kebenaran yang ditegakkan oleh homeopathy berbeda dengan kebenaran dalam medik ilmiah yang perlu dukungan uji klinik double blind study. Kebenaran homeopathy adalah berdasarkan kepuasan penderita, yang disebut testemoni. Apabila percobaan pengobatan belum berhasil, maka bisa mencoba dengan preparat lainnya (menggunakan prinsip trial and error). Karena itu homeopathy sama sekali tidak mengenal statistik sebagaimana kedokteran. Lagipula di jaman Hahnemann, statistik belum umum digunakan. Tetapi homeopathy dengan prinsip trial and errornya itu menyenandungkan slogan mampu mencari obat yang cocok untuk seseorang.
Apakah homeopathy berbahaya? Tentu saja pada prinsipnya tidak, karena homeopathy klasik ini menggunakan prinsip dilution, yaitu pengenceran se encer encernya, dan dosis tunggal. Tetapi homeopathy tetap mempunyai potensi berbahaya karena homeopathy tidak mengenal diagnosa penyakit, tetapi mengenal gejala, dan pengobatannya adalah menyembuhkan gejala. Sehingga tidak membedakan apakah yang tengah dihadapinya itu sekedar hanya biduran apakah alergi cepat disertai syok anafilaktik yang harus segera ditolong dan maut mengancam.
Setelah perang dunia kedua, dengan ditemukannya antibiotika dan semakin majunya kedokteran ilmiah, homeopathy mulai ditinggalkan orang. Filosofi kedokteran juga semakin berkembang, yang kini lebih menggunakan paradigma biopsikososial. Bahwa masalah penyakit bukan hanya masalah biologis tetapi juga masalah psikis dan sosial.
Namun 30 tahun lalu seorang penerima hadial Nobel, ahli kimia dan mekanika dari California bernama Linus Pauling merasa tidak puas dengan kondisi manusia dan penyakit masa kini. Ia merasa bahwa kedokteran telah gagal membawa masyarakat ke arah yang lebih baik. Bahkan penyakit yang ada semakin aneh-aneh semisal AIDS dan berbagai penyakit lain yang intinya adalah kegagalan sistem pertahanan tubuh, atau imun respon yang akhirnya menyebabkan mutasi genetik. Ia mempioniri cara perawatan baru yang lebih menekankan pada perbaikan sistem sel manusia, yaitu menggunakan berbagai megadosis vitamin, mineral, dan zat zat nutrisi, menghindari zat-zat aditif makanan serta kembali pada segala sesuatu yang alami bukan sintetik. Sehingga diharapkan tubuh yang kuat mampu mengatasi sendiri berbagai keadaan sakit. Cara-caranya ini dikenal dengan sebutan orthomolecular medicine. Kini idenya telah merajai pasaran kesehatan di dunia dengan populernya suplemen makanan. Sayangnya idenya ini belum diterima di kalangan kedokteran karena memang belum melalui uji klinik yang merupakan syarat suatu perawatan kesehatan atau terapi yang boleh dikerjakan oleh seorang dokter.
Tetapi pada tahun 1994, President Clinton dari Amerika menanda tangani persetujuan perdagangan suplemen makanan ini guna meningkatkan devisa negara, dengan syarat harus aman penggunaannya. Suplemen makanan yang dimaksud adalah sebagai prevensi penyakit dan perawatan kesehatan, bukan obat, terdiri dari vitamin, mineral, berbagai asam amino atau protein, dan herbal. Bentuknya berupa extrak, konsentrat, metabolit atau kombinasinya. Dikemas berupa kapsul, pil, jus, dlsb. Karena bisa diperoleh secara bebas, pemasarannya pada akhirnya meluncur ke jalur pengobatan alternatif diantaranya homeopathy tadi. Dan terjadilah informasi yang berlebihan tentang suplemen ini, yang antara lain diinformsikan sebagai obat- obatan, serta ditemukannya berbagai suplemen yang isinya ternyata mengandung macam-macam hormon, ephidrin, cocain, atau bahan berbahaya lainnya, yang telah merugikan banyak orang.
Kini banyak dokter medik yang mempelajari homeopathy di klinik-klinik homeopathy yang tersebar di berbagai negara, serta meningkatkan teknologinya dengan teknologi mutahir. Mengkombinasi penggunaan suplemen makanan dengan teknik infus dan injeksi (yang tidak dilakukan oleh homeopath klasik), serta menggunakan angka-angka pemeriksaan laboratorium terhadap darah, tinja, urin, dan rambut, yang disebut biometrik. Homeopathy kelompok ini disebut homeopathy moderen, meski pendekatannya perbaikan biologis guna perbaikan fisik dan psikis serta perilaku dengan manipulasi biokimia, tetapi sebagian prinsipnya masih menggunakan prinsip dari Hahnemann tetapi beradaptasi dengan kedokteran moderen. Antara lain prinsip similia dan dilution, yang berbuntut pada konflik pengunaan vaksin (terutama koktail vaksin) baru-baru ini yang dituding menjadi penyebab terjadinya autisme. Gelegar pembebasan manusia dari vaksinasi, didengungkan terutama oleh kelompok Coalition of Freedom in Health Care dari Amerika, yang mendorong emosi para orang tua anak-anak penderita autisme di seluruh dunia untuk berteriak menentang vaksinasi. Para orang tua didudukkan dengan peran sebagai korban penggunaan preparat kedokteran yang sudah merugikan kehidupan, seperti vaksin, antibiotika, serta obat-obatan lainnya yang dianggap sebagai racun.
Sekalipun menamakan dirinya kedokteran frontier atau tapal batas demi masa depan, lalu menyebut kedokteran medik sebagai kedokteran ortodoks, tetapi kelompok ini pun belum bisa diterima oleh kedokteran, karena berbagai metoda dan "obat-obatnya" masih memerlukan uji klinik terlebih dahulu. Berbagai "teori" baru berbahasa kedokteran yang sangat elit, tentang etiologi dan terapi berbagai penyakit juga makin berserakan terutama di majalah majalah populer, internet, perkumpulan orang tua penderita penyakit tertentu yang tengah mencari pengobatan anaknya, radio, bahkan televisi, dan selebaran selebaran serta brosur-brosur di rumah-rumah obat. Penyakit penyakit yang menjadi sasaran terutama penyakit-penyakit yang belum diketahui penyebabnya sehingga obatnya juga belum tahu, sebagai misal berbagai penyakit jiwa, diabetes, gangguan perkembangan pada anak seperti autisme, borok lambung dan usus, berbagai gangguan alergi dan intoleransi, berbagai kondisi bawaan dan turunan, multiple neuro sclerosis, AIDS, dan kanker.
Bagi seorang dokter tentu saja "teori baru" ini membingungkan terutama jika tengah menghadapi tanya jawab dengan pasien karena tidak terdapat di dalam buku buku teks dan jurnal-jurnal kedokteran. Pasien mengganggap dokternya ketinggalan jaman, sedang dokter mengganggap ilmu itu mengada-ada dan kurang masuk akal, placebo effect, tidak melalui prosedur ilmiah, serta memandang masyarakat kurang bisa menyaring berita-berita itu mana yang benar. Maka terjadilah konflik baik vertikal maupun horizontal. Disatu sisi masyarakat menuntut agar profesi dokter segera mampu menolong keadaannya, tetapi mendapat masukan dari sisi lain berupa berita- berita mutahir yang penuh harapan. Dari sisi kedokteran tuntutan masyarakat ini tidak mungkin bisa terpenuhi, karena banyak penyakit yang memang masih terbungkus misteri. Bahkan dokter telah tertuding sebagai penyebab kondisi penyakit yang semakin ngetrend saat ini, seperti jantung, kanker, AIDS, autisme, ADHD, ADD, ODD, serta gangguan perkembangan pada anak-anak. Konfliknya semakin luas, bukan hanya terjadi antara komunitas rakyat dengan komunitas dokter saja, tetapi juga antara dokter homeopathy moderen dengan dokter medik, antara komunitas rakyat yang percaya pada dokter berhadapan dengan komunitas rakyat yang percaya pada homeopathy. Antara rakyat dan pemerintah, serta antara pemerintah dengan dokter. Masalah ini di berbagai belahan dunia benar-benar panas, bagai suatu revolusi rakyat di seratus tahun lalu yang menuntut jaminan sosial, tetapi kini di bidang kesehatan. Keadaan kini oleh fihak kedokteran sering disebut sebagai masa penuh dengan health care fraudulent. Semakin marak lagi saat berbagai terapi alternatif ikut terjun dalam gelanggang, mulai dari akupuntur, chiropraksi, osteopathy, cranio-sacral therapy, chi-kung, reiki, aroma therapy, dan lain sebagainya. Bahkan kini muncul pula yang menamakan dirinya kedokteran holistik atau integrated medicine yang dipioniri oleh Andrew Weil dari Amerika yang mendirikan sekolah bergelar doktor, dengan pendekatan biopsikososiospiritual. Oleh Amerika, segala bentuk dan kumpulan pengobatan alternatif itu kini diberi istilah Complementary and Alternatif Medicine (CAM).
Bagi negara-negara yang menggunakan sistem asuransi kesehatan, kekacauan ini bisa ditekan dengan jalan menekan masyarakat yang ingin bebas memilih bentuk perawatan kesehatan dan pengobatan sakit, dengan cara tidak akan mendapatkan subsidi pemerintah atau penggantian asuransi selain jika menggunakan cara-cara pengobatan yang ditetapkan pemerintah. Pemerintah dapat menentukan sistem mana yang layak dipakai sebagai sistem yang regular, sesuai dengan petunjuk World Health Organization. Karena itulah timbul pemberontakan suatu kelompok yang menginginkan kebebasan ini, serta menentang birokrasi dalam sistem kesehatan nasional di negara itu.
Perkelahian antara dokter dan "dukun" dalam internet dan media massa tentu saja membawa dampak pada kebingungan masyarakat, siapakah yang benar? Benarkah kelompok dokter telah berbuat begitu banyak kesalahan terhadap kehidupan ini? Apakah pamornya kini tengah sengaja dicoreng dan sengaja dipurukkan? Apakah maksudnya agar kedokteran mundur diganti dengan kedokteran bentuk baru? Jika konflik semacam ini dahulu hanya di tingkat bawah, di pedesaan, kini konflik yang bertaraf dunia ini sungguh memprihatinkan. Apalagi Indonesia yang segalanya masih lemah, baik hukum kesehatan, etika, jaminan asuransi tidak ada, tidak adanya sistem dokter keluarga yang menjadi pagar terdepan, tidak ada lembaga perlindungan anak-anak-orang cacat-dan orang tua, dan seabrek masalah lagi. Sehingga kelompok yang lemah ini mudah menjadi bulan-bulanan tanpa ada yang melindungi. Dan sambil menunggu selesainya tahun 2004 2005 waktu yang ditetapkan oleh Uni Eropa serta Amerika bagi produsen industri suplemen makanan agar selesai melaporkan hasil uji cobanya, maka timbullah pertanyaan besar. Dimana mereka akan melakukan uji coba itu? Di negara majukah? Atau negara berkembang seperti halnya Indonesia? Karena suatu eksperimen obat-obatan pada manusia akan berkaitan dengan etika, hukum dan peraturan; biaya yang besar; emosi para orang eksprimen terutama orang tua bagi anak-anaknya yang akan menjadi kelinci percobaan, maka pastilah menjalankan berbagai percobaan di negara maju tidak bisa seenaknya. Atau riset gelap, yang datang ke negara- negara yang lemah pengawasannya seperti halnya Indonesia, dengan kamuflase bagai sinterklas membawa wonder therapy. Nampaknya hal ini wajib kita simak baik-baik bersama-sama, bukan hanya oleh kelompok kedokteran, tetapi juga para ahli kesehatan masyarakat, antropolog kesehatan, ahli hukum kesehatan, dan masyarakat.
Julia Maria van Tiel, Doktor medical anthropology
Penyembuhan dan pengobatan secara natur
Masih ingat musik Beatles yang memuja Harikrisna sebagai guru spiritualisme sekitar tahun 70-an? Disanalah munculnya sejarah New Age Movement yang selalu mendendangkan make peace, love and not war. Gerakan yang diawali di Inggris ini menyebar ke Amerika dan segera mengglobal masuk ke dalam main stream melalui berbagai musik, buku, dan diskusi, bahkan pengobatan-pengobatan dan penjagaan kesehatan, serta membentuk komune-komune ekslusif, yang mempunyai ritual, simbol, dan ide, yang lebih banyak mengadopsi agama-agama dan tradisi pagan terutama agama-agama Timur seperti Hindu, Budha, dan Tao yang pada akhirnya membentuk suatu kultur baru dalam sebuah komunitas yang lebih luas. Perkembangan ini dari agama lokal Timur berkembang di belahan bumi lain menjadi neo-paganisme. Misalnya yang dikembangkan oleh Deepak Chopra seorang dokter internis dan endokrinolog berdarah India pelopor neo-pagan masa kini. Dengan semangat return to the wholeness, guna mencapai the perfect health dari body,mind and soul, ia mengembangkan perguruannya di California. Chopra menulis banyak buku tentang keseimbangan dan keharmonisan dalam Ayurveda (ilmu pengobatan India) guna mencapai the perfect of the wellbeing dari body, mind and soul yaitu dengan berbagai cara-cara kehidupan (berfikir, bertindak, dan makanan), mengatasi stress, rasa sakit, dan penyakit.
Filsafat New Age sendiri dikemas dalam berbagai buku dan disebarkan oleh David Spangler berkebangsaan Amerika, seorang theosof intelektual, dosen filsafat spriritualisme, personal development, future studies dan community development, yang mempelajari pemikiran kelompok kecil Inggris yang tengah sarat dengan pemikiran mencari kembali makna kehidupan. David Spangler hingga kini masih menulis berbagai buku antara lain buku-buku tentang New Age yang merupakan teori dasar theosofinya, yaitu The Birth of The New Age (1976),dan Emergency, The Rebirth of the Sacred (1984). New Ager lain yang cukup terkenal antara lain: Alice Bailey, Alvin Toffler, Dr. Barbara Ray, Benyamin Crème, Levi Dowling, George Trevelyan, Fritjof Capra, Abaraham Maslow, Barbara Marx Hubbaerd, Ruth Montgomery, Shirley Mclaine, JZ Knight, Merilyb Ferguson, Jeremy Rifkin, Norman Cousind, Elizabeth Clare Prophet, John Denver, George Lucas, dan Norman Lear.
New Age berasal dari kata Age of Aquarius (spirituality) dalam astrology. Dari Dictionary of New Age Terminology (The Perilous Time, Sep/Okt 2001) : “Para astrolog mempercayai bahwa evolusi akan berjalan melalui berbagai sinyal dalam zodiac, paling tidak antara 2000 hingga 2400 tahun. Menurut New Age, bahwa kita kini bergerak dari siklus yang disosiasikan dengan simbol Pisces ke simbol lain yaitu Aquarius. Bentuk Aquariaus Age akan ditunjukkan dengan karakteristik adanya tingkatan tinggi dalam consciousness (kesadaran) atau cosmic consciousness”.
Simbol Pisces adalah simbol dari rasionalitas. Dengan begitu menurut para new ager bahwa abad millenium ini adalah abad munculnya era baru dalam spiritualitas dimana era dengan ke Tuhanan sang kreator sebagai personal akan berganti dengan era Consciousnes (kesadaran) manusia yang memiliki inner enerji sebagai kekuatan. Konsep rasionalitas juga akan menyublim. Dengan begitu juga terjadi bahwa manusia akan denial terhadap kebenaran rasional dan kebenaran scientific (sientific truth).
Paradigma New Age tentang keTuhanan kembali ke dalam agama –agama Timur (Hindu, Budha, Tao) yang lebih kepada pengertian inner enerji yang mempunyai kekuatan spiritual, enerji yang mampu membuat perubahan, enerji yang merupakan enerji universe, yang dimiliki oleh setiap individu sebagai potensi kekuatan yang disebut chi atau kundalini (the hidden energy). Artinya One in all, and all in one, menuju pada one world, unity, oneness yang menjadikan dunia dalam keadaan seimbang dan harmonis. Dengan kata lain artinya bahwa Tuhan berada dalam setiap individu, dan Tuhan sebagai creator berada di dalam setiap individu. Perubahan di tingkat paradigma ini nampak bagai suatu revolusi perubahan visi manusia dalam memandang kehidupan, nilai-nilai, norma, penjagaan perdamaian, sistem politik, sistem kemasyarakatan, sistem pendidikan, sistem ilmu pengetahuan, kesenian, perawatan kesehatan, mengatasi kesulitan, rasa sakit dan penyakit, harapan hidup, masalah kematian dan kehidupan sesudah mati. Perubahan paradigma dari era bahwa Tuhan Allah sebagai sang pencipta, kreator alam raya, manusia hanya sebagai pemeran dalam kehidupan, berubah menjadi bahwa manusia sebagai kumpulan kekuatan yang mampu membawa perubahan sebagai konsekwensi dari adanya konsep Tuhan yang impersonal. New Age tidak mengenal konsep dosa, neraka, setan, demon, malaikat, nabi dan orang-orang suci, tetapi mengenal kosmologi positip dan negatip dalam enerji yang berada dalam diri manusia (inner) yang mampu mempengaruhi kehidupan, tidak mengenal berhentinya kehidupan dengan sebuah kematian di bumi, namun lebih mengenal adanya reinkarnasi. New Age lebih mengenal kelahiran kembali, atau rebirth yang antara lain juga rebirth spiritual saat mana manusia setelah menjalani inisiasi pembukaan atau pembebasan inner enerji yang masih tersembunyi di dalam dirinya. New age tidak mengenal konsep nabi dan imam tetapi lebih mengenal konsep master dan guru spiritual, menekankan bimbingan pada self consciousness untuk menemukan the inner energy, manusia adalah bagian dari kosmik. Tuhan sebagai inner enerji berada dalam diri setiap individu, maka setiap manusia akan memiliki self-consciousness yang tanpa batas.
Lingkaran utuh atau bulat merupakan simbol oneness, one-world sebagai keseimbangan, keharmonisan yang merupakan order yang harus dicapai untuk mendapatkan peace, love, and not war. Oneness of reality oleh New Ager diibaratkan sebagai suatu hologram karena adanya interseksi dimensi self-consciuosness manusia.
New Age muncul sebagai akibat manusia merasa stagnasi terhadap agama-agama Tuhan terutama Kristen di belahan Eropa, saat mana manusia merasa bahwa agama Kristen tidak lagi mampu mengatasi kesulitan hidup, kekerasan, penindasan dan peperangan, terjadinya revolusi sosial yang berakhir pada sekularisme pemerintahan negara-negara di Eropa di akhir abad ke 18 dan 19. Saat mana manusia di belahan Eropa secara berbondong menjadi agnostic dan ateis, kemudian mengisinya kembali dengan filosofi New Age yang segera menjadi gerakan yang mengglobal dan sudah semakin terasa di belahan dunia bagian Timur sendiri dan juga Indonesia, yaitu semakin populernya mistisisme dalam Indigo children bersorban biru yang tengah ditunggu sebagai leader dimasa depan (Gatra 2004-04-02), kekuatan the sixth sense, mata ketiga, dan kepekaan lebih dalam melihat dunia lain, melihat masa depan, dan melihat berbagai kejadian masa lampau, telepati, hipnotisme, trance- channelling, cristalogy, iridology, pembukaan (awakening) tenaga (chi) Chakra (meridian), Kundalini, Prana, dalam Yoga, Reiki, Tai-chi, dan Chi-kung. Ilmu-ilmu pengobatan dengan menggunakan inner enerji ini kini semakin meluas dan dicari-cari orang terutama untuk menjaga kesehatan dan penyembuhan berbagai penyakit yang belum dapat disembuhkan dalam terapi medik.
NEW AGE MOVEMENT ATAU OLD OCCULT DAN SINKRETIK?
Dalam lintasan waktu dan sejarah, New Age Movement bergulir ke segala penjuru dunia dan beradaptasi dengan religi dan kepercayaan setempat. New Age Movement menjadi begitu sangat terbuka terhadap setiap individu dengan religi dan kepercayaan masing-masing. Akhirnya New Age menjadi sebuah kumpulan berbagai religi dan kepercayaan dan akibatnya pengertian New Age menjadi sangat luas. Dengan demikian bentuk praktek New Age bisa ditemukan sangat beragam, tidak ada payung organisasi, dan bebas berkembang di dalam berbagai komunitas.
Sampai batas tertentu New Age Movement juga sangat adaptif terhadap dunia scientific meski terasa adanya sikap denial yang ditunjukkan terhadap scientific truth. Pada akhirnya adaptasi New Age menjadikan ilmu-ilmu yang dikembangkannya hanya sampai ke dalam pseudoscientific. Hal ini bisa dimengerti karena banyak hal dibangun dengan teori ‘science’ New Age yang tidak bisa dibuktikan melalui scientific truth. Pseudoscience New Age dalam praktek sehari-hari, sulit diruntuhkan karena kebenarannya tidak bisa tunduk pada scientific truth sebab inner enerji ditanggapi sebagai kebenaran yang paling tinggi. Hal ini secara antropologis akan dapat difahami, karena perilaku pengobatan yang mempunyai kaitan dengan sistem kepercayaan dan religi akan mempunyai sistem nilai dengan integrasi yang sangat kuat. Kekuatan supranatural ditanggapi sebagai kekuatan tanpa batas dan absolut.
Adaptasi sistem kepercayaan lokal di perkotaan di Indonesia dengan New Age menjadikan New Age berkembang bagai sebuah bentuk okultisme baru, dimana kepercayaan terhadap amulet (jimat), benda-benda sakral yang dipercaya mempunyai kekuatan, dan praktek shamanisme (perdukunan) mengalami pembaharuan baju. Ia tidak lagi hanya berada dalam indigenous culture di masyarakt tribal ataupun pastoral, tetapi mampu berdiri di tengah-tengah masyarakat moderen dan masyarakat industri di desa dan di kota, tanpa risih masuk ke dalam berbagai media seperti majalah populer, radio dan televisi, serta internet. Acara tentang roh halus, setan, gendruwo, dan wewe gombel juga sarat di televisi Indonesia. Bila dibandingkan dengan media televisi Eropa seperti BBC, TV Nederland, TV Jerman, umumnya media televisi ini sekalipun kini acara seperti ini lebih banyak muncul bila dibanding dekade lalu, mereka lebih menyiarkan tentang pengalaman mendekati kematian, pengalaman mati dan hidup kembali, pengalaman mendapatkan suara-suara gaib, medium, pengalaman pergi ke waktu atau ke tempat lain. Kekuatan enerji digambarkan lebih sebagai bentuk yang nonmateri dan impersonal, berbeda dengan penggambaran di media Indonesia dimana kekuatan enerji digambarkan dalam bentuk materi dan personal. Media sirkus Eropa bagai tidak mengenal adanya wujud setan, demon, gendruwo, wewe gombel, maupun kuntilanak.
New Age pun mampu menjadi bentuk sinkretik dengan agama-agama Tuhan seperti Kristen dan Islam. Oleh kelompok New Age Islam sinkretik, inner enerji direinterpretasi sebagai Nur Ilahi maupun kuasa Ilahi, dan oleh New Age Kristen sinkretik diinterpretasi sebagai Roh Kudus, atau juga enerji Jesus. Berbagai testemoni tentang keberhasilan pengobatan melalui dzikir dan wirid untuk berbagai penyakit yang tak terobati bahkan dapat menimbulkan kematian, seperti kanker misalnya, menjadi meluas. Publikasi tentang hal ini bisa kita baca dalam berbagai publikasi dalam dan luar negeri di majalah-majalah atau buku-buku, dan lihat di televisi maupun internet. Dengan begitu kita bisa menemukan berbagai publikasi yang campur aduk nampak bagai sesuatu yang ilmiah berbahasa scientific, namun membicarakan kekuatan inner enerji, gangguan roh jahat, setan, dan sekaligus membicarakan kekuatan Tuhan Allah. Bentuk folk medicine ini menjadi bentuk mulai dari yang naturalistik sampai yang supranaturalistik. Terapinya bisa mulai dari aroma therapy, light candles, Bach flower remedies, polarity therapy, "electromagnetic" atau computerized devices, Interro and Vega machines, zappers, homeopathy, acupuncture, Touch for health, Therapeutic Touch, irrodology, kinesiology dan muscle response testing, biofeedback, ear coning, palmistry, craniosacral adjustment, brain gym (yang berasal dari gerakan-gerakan Tai Chi), crystals, reflexology, aura reading, psychic readings, seat lodges, pendulums, color therapy, Yoga, Reiki, Qi Kung, Tai Chi, Ayurveda, naturopathy, nutritional counseling and herbalism, energy balancing, massage therapies, chelation, cancer “cures” , Greek Cancer Cure, Gerson's diet, Burzynski's "antieoplstons," detoxification, colonic irrigation dan intestinal cleansing, biomedical treatment, orthomolecular medicine, Terapi Nur Syifa, Terapi Nur Ilahi, dan masih banyak lagi.
Umumnya terapinya memberikan petunjuk bahwa terapi tersebut bisa menyembuhkan, mengobati bahkan memberantas berbagai macam penyakit tanpa ada batasan. Mulai dari pencegahan sampai pengobatan, tanpa perlu operasi. Berbeda dengan pengetahuan pengobatan pada ilmu kedokteran atau biomedicine yang lebih pada pendekatan drop of choice, indikasi yang jelas untuk penyakit tertentu, berdasarkan hasil riset ilmiah maupun uji klinik double-blind study dan placebo efek. Prinsip terapi dalam New Age Medicine lebih pada pendekatan hubungan antara body-mind-soul (spirit). Bila enerji dalam body dalam kosmologi negatip dan positip seimbang, (misalnya kosmologi yin-yang atau panas dan dingin yang dipercaya dalam budaya pengobatan Cina, keseimbangan cairan tubuh dalam teori patologi humoral dalam teori pengobatan Junani tua atau daerah Arab) maka kesimbangan dalam body ini akan mempengaruhi mind dan spirit. Atau sebaliknya mind yang seimbang akan mempengaruhi body, dan spirit yang seimbang akan juga mempengaruhi body and mind. Karena itu dalam berbagai terapi New Age Medicine selalu menekankan penjagaan kesehatan melalui keseimbangan sistem yang berada dalam badan, seperti misalnya pada orthomolecular medicine, naturopathy dan homeopathy yang menekankan pada keseimbangan guna membangkitkan sistem imun tubuh agar mind juga mendapatkan pengaruh yang positip. Keseimbangan spiritual adalah dengan melakukan meditasi dan mengontrol the inner energy (kundalini) dalam keseimbangan. Inner enerji yang negatip akan justru menyebabkan gangguan penyakit baik penyakit kejiwaan maupun penyakit-penyakit fisik.
Membuat keseimbangan cairan tubuh, diperlukan makanan membersihkan darah, New Age Diet, food combining, food rotation, yang diupayakan agar terjadi kesimbangan cairan tubuh, keseimbangan panas dan dingin, dan keseimbangan efek positip dan negatip makanan
Kegiatan penjagaan kesehatan dan pengobatan (body-mind- and spirit) dapat dikategorikan dalam bentuk: body movement, pernafasan, meditasi, nutrisi, dan obat-obat natur (misalnya herbal).
God’s Super Food dan Mythos
Berbagai terapi New Age juga banyak didasari pada mytologi tentang makanan atau binatang yang dipercaya mempunyai kekuatan supranatural. Ambil contoh Blue Green Algae (spirulina, chlorella), yaitu vegetasi awal kehidupan di dunia, vegetasi tertua dan mampu survive hingga saat ini. Seringkali algae ini dalam perdagangan ditawarkan sebagai makanan kesehatan sekaligus sebagai obat berbagai penyakit, mulai dari sakit kepala, badan lemah hingga gangguan kandungan dan kesulitan mendapatkan anak, gangguan otak, hingga penyakit kanker. Kemampuan survival yang hebat dan dipercaya mempunyai kekuatan supranatural ini (dalam mytologi rakyat Jepang), sampai sampai Blue Green Algae disebut God’s Super Food dalam perdagangan food supplement dari Amerika. Super, karena kura-kura hijau pun yang selalu makan Blue Green Algae yang dalam mythos dijelaskan bahwa ia kemudian bermutasi menjadi ninja yang kini menjadi tokoh dalam film anak-anak Ninja Turtle dan Mutant Ninja Turtles.
Terapi Lumba-lumba yang kini populer bagi anak-anak autisme, diawali dari mytologi lumba-lumba yang banyak dipercaya kelompok Melanesia di lautan Pasifik, misalnya penduduk Hawaii. Lumba-lumba dipercaya sebagai mahluk yang datang dari planet lain datang ke bumi untuk menolong seseorang yang tengah mengalami kesulitan di lautan, menuntunnya untuk menyelamatkan diri. Lumba-lumba dipercaya sebagai binatang jelmaan dari binatang lain (reinkarnasi) yang mempunyai kekuatan (enerji) yang dapat menyelamatkan manusaia. Enerji itu kini direinterpretasi sebagai tenaga sonar yang dimilikinya.
HOLISTIK TREATMENT DALAM NEW AGE MEDICINE
Beradaptasinya New Age dengan sains menjadikan bentuk baru ilmu kedokteran komplementer, atau modern traditional medicine yang sering juga disebut pengobatan holistik atau integrated health medicine. Salah seorang pionir di bidang ini adalah Andrew Weil seorang direktur program integrative medicine di University of Arizona, USA. Ia banyak menulis buku tentang penyembuhan dari dalam diri sendiri. Pendekatannya disebutnya secara holistik, body-mind-spirit. Ia menggunakan berbagai teknologi kedokteran moderen, tetapi juga pendekatan traditional medicine, baik naturalistik maupun supranaturalistik . Alasan yang sering digunakan adalah pendekatan teknologi kedokteran saja masih belum cukup, karena masih banyak berbagai penyakit yang belum bisa ditanggulangi melalui teknologi kedokteran. Pendekatan dokter terhadap pasien dirasakan sebagai mengahadapi mesin, sedangkan Andrew Weil mengklaim pendekatannya menekankan pada masalah sosial, spiritual, psikologis, dan biologis penderita. Inilah yang memberinya inspirasi tentang cara-caranya dalam pengobatan dengan menggunakan pendekatan holistik.
Pendekatan holistik semacam ini kini banyak menyebar di berbagai bagian dunia, di mana dokter medik juga mempelajari berbagai tehnik tehnik pengobatan tradisional dan melakukan praktek secara holistik. Atau sebaliknya banyak pengobat non medik yang tertarik untuk melakukan praktek secara holistik dapat mengikutinya di berbagai institut pendidikan holistic medicine dan keluar dengan menyandang gelar misalnya N.M.D (Naturopathy Medical Doctor). Pendekatan holistik yang dilakukan oleh dokter dengan juga melakukan pendekatan spiritual, meditasi, dan meningkatkan inner enerji lebih banyak digunakan oleh para psikiater untuk mengobati pasien-pasien gangguan mental dan psikologis.
KONFLIK, PERBEDAAN PENDEKATAN dan CHAOS
New Age Medicine sebagai folk medicine mempunyai kaitan dengan berbagai sistem lainnya dalam sistem kebudayaan. Berbagai perilaku pengobatan, perawatan, dan penyembuhan rasa sakit dan penyakit merupakan wujud dari makna-makna kognitif yang dikembangkan oleh komunitas. Sekalipun demikian New Age Medicine yang merupakan gejala perkembangan folk medicine di abad ini, bukan lagi merupakan perilaku yang dikembangkan oleh indigenous culture (kebudayaan lokal), ia bukan saja import dari budaya lain, namun juga merupakan kebudayaan lokal Timur yang pernah diexport ke Barat dan kembali lagi ke Timur, dan sudah beradaptasi dengan berbagai kebudayaan pengobatan lain, misalnya kebudayaan pengobatan Amerika Latin. Atau New Age merupakan kebudayaan lokal yang kemudian diperbaharui serta beradaptasi dengan kebudayaan pengobatan lain.
Karena begitu terbuka dan luasnya pengertiannya, menjadikan New Age Medicine tidak lagi mempunyai patokan-patokan yang bisa dipegang sebagai karakteristik yang utuh darinya. Setiap pelaku pengobatan New Age mempunyai cara-cara dan makna yang dikembangkannya sendiri. Sehingga nampak jelas bahwa nilai-nilai yang dikembangkan berujung pada nilai-nilai yang tiada batasnya, beragam nilai, dan sangat relatif. Bahkan menimbulkan berbagai konflik dalam menanggapi suatu fenomena, baik di dalam kelompoknya sendiri maupun terhadap kelompok lainnya.
Contoh yang bisa diambil adalah dalam menanggapi the inner energy (Kundalini), bisa jadi satu kelompok (misalnya new age sinkretik) mengatakan bahwa kundalini merupakan gift dari Tuhan dan hanya orang-orang tertentu yang mendapatkan, tetapi kelompok lain mengatakan bahwa setiap orang mempunyai potensi nature namun masih tersembunyi dan memerlukan pembukaan (inisiasi) untuk mengaktifkannya. Sehingga nampak bahwa kedua pendapat ini saling bertentangan jika diamati dari paradigma religi yang dianutnya. Kundalini sebagai inner enerji (Tuhan yang impersonal) dalam sejarahnya berasal dari kebudayaan kepercayaan dan filsafat agama-agama Timur (Hindu, Budha dan Tao). Religi ini belum mengenal Tuhan sebagai yang nonpersonal.
Antara sistem pengobatan biomedik (kedokteran) juga akan mengalami konflik dengan pengobatan New Age misalnya dalam menanggapi efek meditasi dalam ritus inisiasi pengaktifan kundalini yang membawa dampak berupa rasa pusing, mual, lemah, jatung berdebar, rasa sakit dan panas di dada, nafas sesak, bergerak gerak sendiri, rasa kesemutan di bagian tangan dan kaki, kejang-kejang, mendengar suara-suara atau melihat sesuatu yang orang lain tidak bisa. Lemah fisik dan psikis ini bisa berdurasi beberapa menit, sampai beberapa bulan. Para New Ager akan mengatakan bahwa hal ini biasa terjadi pada pemraktek kundalini, karena bangkitnya kundalini yang tidak terkontrol sehingga enerji negatip justru akan merusak badan. Pengobat New Ager akan mengatakan bahwa keadaan ini tidak bisa diobati oleh dokter, hanya bisa dimengerti dan ditangani oleh para pengobat New Age sendiri. Sementara itu pengobat New Age yang beradaptasi dengan Islam, atau sebaliknya Islam yang beradaptasi dengan New Age, akan mengartikan sebagai kondisi kesurupan karena kemasukan roh akibat aura yang melindungi manusia menjadi terbuka. Kundalini perlu dinonaktifkan kembali, ditutup, dan penderita perlu mendapatkan perlindungan dengan Nur Ilahi yang kemudian dilakukan ritus inisiasi membuat perlindungan dengan Nur Ilahi yang juga berupa enerji. Sementara biomedik (kedokteran) akan menjelaskan bahwa gejala-gejala sesak nafas, jantung berdebar, dada terasa sakit lebih dikatakan sebagai gejala hiperventilasi dan angina pectoris. Rasa pusing, mual, halusinasi, sakit kepala, sebagai akibat hypoxia (kekurangan oksigen dalam otak) yang dapat menyebabkan brain damage pada akhirnya akan menimbulkan gejala lanjutan berbagai gangguan fisik dan psikologis, serta menurunnya daya ingatan dan epilepsi, yang tentu saja dianggap sebagai kegiatan perawatan kesehatan yang justru membahayakan. Gejala-gejala di atas kini sering disebut kundalini syndrome, yang oleh para New Ager sering dinyatakan sebagai bangkitnya kundalini secara sengaja maupun tidak sengaja dan tidak membahayakan karena hal tersebut dianggap sebagai kejadian yang alamiah.
Perbedaan pendekatan paradigma pengobatan antara holistic medicine dengan biomedicine yang paling utama adalah bahwa biomedicine tetap menghomati filsafat ilmu dimana kebenaran imiah harus bisa diuji melalui pendekatan uji empirik (evidence base), sementara holistic medicine lebih melakukan pendekatan bahwa yang terpenting adalah pasien percaya bahwa hal ini akan memberikan kesembuhan. Hal ini berkaitan dengan apa yang digunakan dalam pengobatan mempunyai enerji penyembuhan yang mempunyai power tanpa batas. Sehingga konflik yang selalu terjadi dalam kedua kelompok ini adalah, holistic medicine dianggap tidak rasional. Tanggung jawab hasil pengobatan dan kesembuhan juga tidak pada si pengobat, sebagaimana yang terjadi pada dokter. Karena yang menyebabkan kesembuhan adalah bukan hanya berbagai obat yang diberikan oleh pengobat holistic medicine, tetapi yang sangat berperanan adalah the inner energy. Penderita mempunyai tanggung jawab untuk mengolah sendiri tubuhnya agar mendapatkan kesembuhan.
Konflik seperti ini mengakibatkan di banyak negara tumbuhnya lembaga-lembaga watch atau konsil yang mengawasi penipuan pengobatan karena dalam hukum kesehatan selalu menunjuk pada sesuatu seperti obat atau kegiatan yang dipublikasi dapat menyembuhkan, namun jika secara scientific kedokteran (rasional) menunjukkan bahan/obat itu tidak mempunyai efek terapuitik dapat dinyatakan sebagai penipuan. Praktek hukum kesehatan juga mendasarkan kebenarannya pada kebenaran scientific, rasionalitas dan sekuler. Gerakan ini bertujuan untuk menjamin perlindungan keamanan masyarakat dari bahaya penggunaan obat-obatan yang justru membahayakan terutama disebabkan karena sistem teori pengobatan yang ditegakkan dianggap keliru dari sudut pandang biomedik. Pengalaman penggunaan obat-obat tradisional yang lintas budaya juga menyebabkan minimnya pengetahuan masyarakat terhadap cara penggunaan obat-obat tradisional dari budaya lain yang baru dikenalnya itu.
Konflik antara biomedicine dan new age medicine sering ditanggapi oleh kelompok New Age sebagai upaya-upaya lembaga-lembaga yang berlindung pada kebenaran ilmiah adalah bentuk penolakan cita-cita oneness, one world, peace, love, and not war; atau suatu bentuk permusuhan yang semakin meruncing antara pengobatan medik dan non medik, yang bisa jadi dampak kondisi ini menyebabkan pengetahuan masyarakat tentang perawatan kesehatan dan pengobatan justru menjadi chaos, tidak tahu lagi mana yang benar.
Julia Maria van Tiel (antropolog kesehatan) Heiloo - Nederland, Vrijdag 6 Agustus 2004.
Beberapa links yang berhubungan. http://www.contenderministries.org/newage.php http://www.tf.itb.ac.id/~eryan/FreeArticles/NewAge.html http://www.rapidnet.com/~jbeard/bdm/Cults/newage.htm http://www.cbsnews.com/stories/2004/07/13/health/main629332.shtml http://pengobatan.com/pendahuluan/nur_illahi.html http://www.virtualcs.com/se/dxtx/types/kundalini.html http://www.drweilselfhealing.com/ http://www.integrativemedicine.arizona.edu/ http://www.ubudsari.com/totaltissue2.html http://newsletters.cephasministry.com/yinyang7.99.html. http://www.geocities.com/Area51/Cavern/3736/tdalam1.htm http://www.geocities.com/Area51/Cavern/3736/index.html http://www.thepeacefamily.force9.co.uk/dolphins.html http://www.indomedia.com/intisari/1999/maret/stres.htm http://www.indomedia.com/intisari/2001/Agt/khas_terawang.htm
 Minggu lalu adalah hari pesta ulang tahun anakku yang duduk di sekolah dasar. Seperti biasanya pesta ulang tahun menjadi acara sosial pertemuan keluarga dan teman-teman. Sebagai keluarga perkawinan campuran, pesta di rumahku selalu unik, karena pasti disukai kedua kelompok, orang Indonesia maupun orang Belanda. Lagi-lagi karena makanan yang kusediakan selalu beraneka macam makanan dengan cita rasa asli Indonesia. Bagi orang Indonesia, adalah melepas rindu akan tanah air. Bagi orang Belanda, Indische rijst tafel nyaris bagai makanan pujaan yang mewah dan eksotis, selain juga sebagai kenangan kepada het Indische moederland bagi masyarakat Belanda yang pernah menetap di Indonesia di jaman kolonial dahulu. Gezellig en lekker genieten , santai dan nikmat, mereka bilang. Perbedaan budaya makan kedua Negara ini nampaknya begitu jauh berbeda. Pesta Indonesia sangat santai, karena berupa lopende buffet, prasmanan boleh mengambil sendiri. Berapa kali menyendok makanan dan berapa ronde mengelilingi meja makan, tidak menjadi masalah. Dan jika kehabisan, ya apa boleh buat, jangan kecewa, tuan rumah pun tak perlu malu. Tidak ada aturan harus kapan menyantap sup, boleh terlebih dahulu, boleh dicampur nasi. Camilan kecil di meja tamu, kapan saja boleh diganyang, tidak perlu tunggu perintah kapan boleh menghabiskannya. Budaya makan Indonesia sangat ramah, begitu selalu laporan suamiku yang asli Belanda kepada famili dan teman-temannya. Anda tak perlu malu-malu, sebagai famili, sahabat dan kenalan baik jika bertandang saat makan malam, anda boleh duduk bersama, dan langsung makan bersama-sama tanpa harus membuat perjanjian terlebih dahulu.
Budaya makanan masyarakat Belanda nampaknya masih terpengaruh sisa-sisa budaya semasa krisis jaman perang dunia pertama dan kedua, yaitu menggunakan prinsip keadilan dan hemat. Semua mendapatkan jatah yang sama dan tidak berlebihan, justru sangat bertolak belakang dengan budaya kita, yang menghormati tamu dengan suguhan hidangan istimewa berlimpah-limpah. Dalam acara bertamu, kita harus melalui afspraak maken (janjian) dan waktunya pun tertentu. Koffie drinken, acara minum kopi (walaupun bisa saja nanti minumnya teh) pagi hari antara jam 10.30 – 12.00. Sore jam 4.30 – 06.00. Saat datang, kita harus persis tepat waktu dan jika kurang 10-15 menit maka kita bisa menunggu dulu di dalam mobil atau berdiri agak jauh dari rumahnya, karena biasanya si empunya rumah tengah sibuk menata ruangan atau sedang mandi. Persis jam 12.00 atau jam 06.00 kita harus segera keluar dari rumahnya, karena si empunya rumah segera akan makan siang atau makan malam, dan tepat waktu pula. Dalam acara ini anda akan diberi sajian secangkir kopi atau teh sebanyak dua kali. Satu potong gebak (misalnya sepotong tart, sebuah gevulde koekje, appel kanyer, appel bol, appelflap dlsb) satu kali di saat minum kopi pertama. Pada acara minum kopi kedua, anda akan menerima satu buah kue kecil atau satu potong coklat. Jika kue atau coklat sudah diedarkan dan para tamu sudah mengambilnya masing-masing satu buah, maka dos kue dan coklat segera disimpan kembali ke dalam lemari. Acara seperti ini juga berlangsung dalam acara ulang tahun yang biasa dihadiri famili dan sahabat dekat, sambil membawa hadiah ulang tahun. Umumnya memberi hadiah bukanlah harganya, tetapi unsur perhatian lebih dipentingkan, yang paling sering adalah sabun mandi atau shampo.
Masyarakat Belanda dapat dikatakan hampir tidak pernah mengundang makan berat seperti halnya masyarakat Indonesia dengan rijst tafel-nya yang mewah (sambil kita mengatakan makan apa adanya, sederhana). Acara makan bersama hanya dilaksanakan dalam keluarga dekat, atau kerabat melalui perjanjian, sekalipun hal itu adalah pesta perkawinan. Makan berat biasa disebut warme eten (makan hangat) lebih sering terdiri dari sup dan roti lalu dilanjut dengan cocktail dari buah kalengan, es krim, atau buah-buahan segar. Warme eten yang lebih berat adalah terdiri dari sup, salade sayur, kentang rebus atau kentang puree, sayuran rebus dan sepotong daging biefstuk dengan sausnya. Selesai acara makan berat ini dilanjutkan dengan minum kopi, minuman ringan, minuman keras dan berbagai jenis kacang-kacangan serta chips, potongan keju, bon-bon, atau potongan worst. Acara santai bisa berlangsung hingga pukul 11-12 malam. Dalam acara berkunjung ini para tamu biasa membawa buah tangan, yaitu bunga hidup atau bunga potong segar. Tetapi bukan membawa makanan seperti halnya masyarakat Indonesia, karena membawa makanan bisa diterima dengan perasaan kurang menghargai makanan si empunya rumah. Membawa jenis makanan yang menyenangkan adalah sekotak coklat, bon-bon (kembang gula), atau sebotol anggur.
Dalam jamuan makan resmi misalnya di kantor, universitas ataupun seminar umumnya terdiri dari beberapa potong sandwich berupa broodbolletjes (roti bulat) berisi daging iris atau keju, satu buah apel, dan jus jeruk atau susu. Menu lain yaitu berupa roti potong dengan beleg (isi) kroket, atau broodje gezond (roti sehat) yaitu roti baguette kecil yang disebut pistolet dengan beleg daging iris atau keju dan sajuran (tomat, timun dan daun salade). Bagi masyarakat Indonesia yang belum pernah menghadiri acara makan seperti ini seringkali agak bingung menghadapinya karena seringkali bertanya-tanya dimana acara makannya? Sebab makan siang ini menunya mirip dengan acara makan pagi. Main traktir-traktiran sesama teman juga kurang dikenal, yang ada makan bersama dan bayar sendiri-sendiri. Makanan jajanan yang biasa disantap di teras teras restoran saat musim panas berkisar pada minum kopi, teh, atau minuman ringan dan sepotong appeltaart berhias slaagroom di atasnya, vlaai (pie), poffertjes dan pannenkoekken (panekuk). Jika sedang jalan-jalan santai di kota, makanan yang bisa kita santap sambil jalan selain berbagai macam roti, kita juga bisa menyantap makanan Belanda yang sangat terkenal ini, yaitu oliebol, dan pattat met mayonaise (kentang goreng dengan saus mayones), atau pattat oorlog (pattat perang), yaitu kentang goreng dengan saus kacang. Di daerah-daerah turis biasanya ada gerobak penjual ikan haring, ikan haring bertabur potongan bawang bombai yang dimakan mentah-mentah. Atau berbagai ikan laut goreng yang bisa kita makan hangat-hangat. Dari hari ke hari budaya makan masayarakat Belanda mulai berubah dari makanan yang dibuat sendiri yaitu stamppot (kentang dan sayuran yang dimasak hingga lunak sekali lalu diaduk di dalam panci) yang dimakan dengan sepotong daging ditambah sausnya, ke bentuk makanan kant en klaar (siap dimasak ataupun siap saji) yang kini semakin banyak di supermarket. Dari bentuk-bentuk stamppot dan lauknya serta bentuk hartigetaart (tart gurih berisi sayuran, daging, dan keju) sebagai makanan asli Belanda, bergeser ke arah cita rasa yang datang dari mancanegara masuk ke rumah-rumah tangga sebagai makanan sehari-hari. Sehingga generasi mudanya kini tidak lagi begitu menyukai stamppot. Stamppot kini lebih dipandang sebagai makanan nenek-nenek atau makanan orang sakit. Pengaruh terbesar adalah dari Italia dengan spaghetty dan pizza-nya, kemudian disusul pengaruh dari Eropa Timur berupa nasi dengan goulash dan chaccee-nya berisi daging sapi berbumbu paprika dan bawang bombai. Perancis memberi pengaruh pada seni penataan sajian serta aneka rasa sup yang dimakan bersama baguetbrood (roti pentungan) yang dipotong agak tipis. Sisa -sisa berbagai jenis makanan Indonesia yang dibawa ke Belanda saat sebelum Belanda meninggalkan Indonesia bisa ditemui di restoran-restoran Chinnesche-Indische Restorant dengan sajian babi panggang, pecel, sate ayam, nasi goreng, dan kerupuk. Makanan siap santap Indonesia masa kini bisa kita temui di Indonesische afhaal centrum . Sisa makanan kecil Indonesia sebelum perang masih bisa kita temui, misalnya kokoskoekjes (kue-kue kelapa) yang rasanya mirip dengan wingko babat, hanya saja diolah seperti kue kering. Taai-taai adalah roti yang alot sesuai dengan artinya, taai-taai berarti alot atau liat, terbuat dari campuran tepung beras, tepung teriga, gula kelapa dan rempah-rempah Indonesia seperti kayu manis dan di atasnya kadang ditaburi dengan biji wijen (sesam). Tai-tai lebih mirip dengan roti gambang-nya Indonesia. Konon taai-taai merupakan roti-rotian yang menjadi bekal di kapal VOC. Indische gehakballetjes adalah bola-bola daging cincang dengan berbagai rempah dari Indonesia. Sedang perkedel yang biasa kita kenal di Indonesia berasal dari kata frikandel yaitu daging cincang halus seperti susis yang digoreng. Berbagai rasa dengan bumbu kacang sering disebut-sebut sebagai sate, misalnya satekroket, yaitu kroket dengan isi pakai bumbu kacang. Mencari makanan Indonesia di Belanda tidak sulit, di supermarket juga banyak, seperti misalnya kecap, sambel oelek (uleg), kerupuk udang, kerupuk singkong, santan kelapa, bumbu sate, terasi udang, atjar campoer (acar campur), tahu, tempe, dan berbagai bumbu-bumbuan jadi. Semua produksi Belanda dari berbagai pabrik, hanya saja cita rasanya sudah disesuaikan dengan lidah Eropa. Untuk mencari makanan dengan cita rasa asli Indonesia kita harus berbelandja di Toko China. Boleh dikata makanan Belanda bagaikan makanan dengan cita rasa yang standar, dimana-mana kita akan menemukan rasa satu jenis makanan yang tidak banyak bedanya, walaupun dikeluarkan oleh pabrik yang berbeda. Seperti misalnya kroket yang bisa kita beli dengan menggunakan koin di kafe. Soal harga jangan dikurs ke dalam angka rupiah, yang bisa menyebabkan kita tidak berani jajan mencicipinya. Satu cangkir kopi bisa seharga sekitar 2,5 euro (kira-kira 30.000 rupiah), dan satu buah kroket 1,25 euro (15.000,- rupiah).
Belanda yang kita kenal melalui orang tua kita bahwa para ibu rumah tangganya pandai membuat kue tart, kini tak bisa kita temui lagi, apalagi bahan pelembut seperti TBM dan ovalet yang banyak dijual di Indonesia tidak bisa kita dapatkan. Jika kita mengikuti kursus menghias kue tart, maka penyelenggara kursus tidak diperbolehkan memberi kursus membuat cake-nya. Hal ini adalah monopoli para bakkerij. Dengan tersedianya makanan kant en klaar di supermarket, kegiatan memasak bukanlah pilihan hobby yang banyak digandrungi orang. Apalagi tidak adanya kebudayaan mengundang makan bersama seperti di Indonesia (sambil memamerkan menu kreasi baru) dengan berbagai acara pesta (kawinan, ulang tahun, syukuran, arisan, halal bil halal, dsb), keadaan ini juga menyebabkan kurang berkembangannya kebudayaan makan dan masak di antara generasi muda, sehingga makanan asli Belanda sendiri hampir tidak terlihat, tertutup dengan datangnya berbagai jenis makanan dari Negara lain, kecuali keju tentunya yang semakin hari cita rasanya bisa berkembang menjadi berbagai macam rasa dengan cara dicampur berbagai macam rempah, paprika, kacang-kacangan, buah-buah kering, liquer dan madu.
Sekalipun kebudayaan masak mulai berkurang, namun dapur adalah salah satu sudut yang selalu menjadi kebanggan, selain WC dan kamar mandi yang selalu sangat bersih dan harum. Dalam kegiatan bertamu ke keluarga-keluarga Belanda, seringkali kita akan diajak berkeliling melihat-lihat segala sudut rumahnya, selain ruang tamu, ruang tidur, juga termasuk WC dan kamar mandi yang menyenangkan. Tidak ketinggalan pula ruang dapur yang sekalipun mungil tetapi berisi peralatan yang semakin moderen, dengan disain yang semakin menarik, yang tentu saja setiap saat selalu digosok mengkilat. Masyarakat Belanda yang sangat terkenal dengan kebersihannya, dapurnya tidak pernah kelihatan ada sisa-sisa minyak dan hitam angus baik di panci maupun di kompornya.

| |