ReviewReviewReviewReviewReviewPenggendong Mayat KetemuJun 9, '05 6:23 AM
for everyone
Category:Other
Betapa mulianya sistem kemasyarakatan manusia Indonesia. Modal bangsa yang jangan sampai ludas digiling globalisasi...
JM
------------------------------

Penggendong Mayat Ketemu

Supriono si penggendong mayat anaknya di KRL akhirnya ditemukan. Ia mengubur
anaknya di Menteng Pulo.

Supriono alias Supri tertangkap basah tengah menggendong putrinya yang sudah jadi mayat, Nur Khaerunisa yang berusia 3 tahun, di Stasiun Tebet pada Minggu (5/6). Mayat itu dibungkus sarung, sementara mukanya ditutupi dengan kaus.

Tiga hari tim Warta Kota menelusuri pangkalan pemulung dari Cikini hingga
Manggarai. Perkampungan pemulung di Bogor plus beberapa stasiun juga
dijelajah, tapi Supri tak ditemukan, Padahal, banyak pembaca Warta Kota
berniat memberikan bantuan kemanusiaan buat Supri.

Berkat bantuan warga Manggarai, Jakarta Selatan, Supri akhirnya bisa
ditemukan. Ia menumpang di rumah rumah petak di pinggiran Ciliwung milik Ibu
Sri di Manggarai Utara IV, Tebet. Di sanlah, enam tahun lalu, Supri pernah
mengontrak sebulan. Info bahwa Supri berada di sana disampaikan oleh salah
seorang pelanggan Warta Kota, Ny Anna Purnomo.

Setahun lalu, Surpri cabut dari Manggarai setelah berpisah dengan istrinya,
Sariyem. Ia menggelandang sebagai pemulung bersama si kecil Nur Khaerunisa dan Muriski, dengan modal gerobak.

"Saya mangkal di depan Gereja (Isa Almasih) Cikini. Di sana ada halte. Kalau
lagi hujan, gerobak saya bawa ke halte, biar anak-anak tidak kehujanan,"
kata Supri.

Keputusan Supri untuk pergi ke Manggarai muncul tiba-tiba. Sewaktu keluar
dari kamar mayat RSCM sekitar pukul 16.10, Supri masih ingin melanjutkan
perjalanan ke Bogor untuk mengubur anaknya, dengan menumpang KRL.

Supri berjalan dengan menggendong mayat anaknya, ditemani Muriski, ke Jalan Salemba tepatnya ke lampu merah di seberang St. Carolus. Lama ia termenung karena sudah terlalu sore untuk ke Bogor. "Tiba-tiba terlintas dalam
pikirian bahwa saya pernah tinggal di Manggarai. Saya putuskan ke Manggarai, minta tolong warga di sana untuk mengubur anak saya," katanya.

Ia lantas menyetop bajaj dan bayar Rp. 5,000 untuk ke Manggarai. Supri,
Muriski, dan mayat si kecil tiba di rumah Ibu Sri di Manggarai pukul 18.15.
Rumah mungil itu hanya berjarak dua meter dari bibir Ciliwung. Dia lalu
mengetuk pintu rumah yang terbuat dari kayu tersebut.

"Saat itu saya sedang mandi, tiba-tiba anak saya memanggil saya, katanya ada tamu. Ternyata Supri. Saat itu dia menggendong anaknya dengan kain sarung. Kepala anaknya ditutup kaus warna putih, sementara kakinya terjuntai. Dia bilang ke saya katanya 'bu tolong saya'. Karena saya kira dia butuh uang akhirnya saya bergegas mengambil uang," ujar Sri yang mengaku masih mengingat wajah Supri meski sudah setahun pindah dari rumahnya.

Ketika Sri hendak mengambil uang, tiba-tiba Supri mengatakan bahwa anak yang digendongnya telah meninggal. Sri kaget. Setelah berpikir sejenak, Sri
memberitahu warga. Dengan cepat, warga berdatangan untuk mengurusi mayak bocah tersebut.

Bendera kuning tanda berkabung dipasang di sudut-sudut jalan. Sementara
lapak penjualan motor di tepi Jalan Manggarai Utara VI disekat dengan kain
untuk meletakkan jenazah Khaerunisa. Sebab, sudah terlalu malan untuk
mengubur jenazah.

Warga RT 08/RW 01 berkumpul. Mereka berbagi tugas, sebagian meminta surat ke RW dan kelurahan untuk keperluan penguburuan. Tapi tetek bengek administrasi baru kelar Senin (7/6) pagi.

"Sebagian mengurus jenazah sperti memandikan dan kasih kain kafan. Sedangkan biaya perizinan hingga penguburan jenazah didapat dari sumbangan sukarela dari warga sekitar yang bersimpati," ujar Jono, warga yang juga bekerja sebagai petugas memandikan mayat di kawasan tersebut.

Menurut Supriatna yang ikut mengurusi jenazah Khaerunisa, biaya yang
dibutuhkan untuk menguburan jenazah Khaerunisia kurang lebih Rp. 600,000.
Biaya ke Dinas Pemakaman Rp. 350.000 dan biaya lainnya semisal membeli kain kafan dan lain-lain sekitar Rp. 250.000.

Setelah diinapkan semalam, jenazah Khaerunisa dimakamkan di taman pemakaman umum (TPU) Menteng Pulo Blok A5 di Jalan Casablanca, Pal Batu, Tebet, Senin (6/^). "Khaerunisa akhirnya bisa dikubur sekitar pukul 11.00," ujar Supriatna.

Dalam pemakaman itu, kakak Khaerunisa, Nuriski Saleh juga ikut serta. Semula Nuruski belum menyadari bahwa adiknya telah meninggal. Ketika dia melihat adiknya dimasukkan ke liang lahat, Nuriski bertanya kepada ayahnya, mengapa adiknya dikubur. Nuriski baru tahu bahwa adiknya sudah meninggal setelah upacara pemakaman selesai. Saya baru bisa menjelaskan saat pemakaman itu," ujar Supri. (mur/pro)




13 CommentsChronological   Reverse   Threaded
bambangpriantono wrote on Jun 9, '05
Syukur alhamdulillah Mbak...
jonru wrote on Jun 9, '05
Syukur alhamdulillah juga...

Terlepas dari masalah pak supriono ini, sebenarnya saya heran banget.. kenapa orang yang ditimpa musibah kematian masih harus membayar segala macam biaya? Biaya pemakaman, biaya ambulans, dst. Seharusnya mereka justru dibantu.

Mungkin kita perlu membuat semacam sistem (seperti asuransi, arisan, dst), yang menyebabkan kita tidak perlu lagi mengeluarkan uang kalau ada saudara yang meninggal.
imazahra wrote on Jun 9, '05
Alhamdulilllah, akhirnya malah warga biasa yang menolong beliau. Bukan pejabat atau bangsawan. Bangsa kita memang sedang 'sakit parah'.
brawijaya2 wrote on Jun 9, '05
Iya jadi ingat responsenya mbak Mamiek di MP nya mbak Helvy, lagi apa ya kita waktu Pak Supri kebingungan cari uang untuk biaya penguburan anaknya. Masih sedih terus ingat ini.
juliavantiel wrote on Jun 9, '05
ReviewReviewReviewReviewReview
jonru said
Terlepas dari masalah pak supriono ini, sebenarnya saya heran banget.. kenapa orang yang ditimpa musibah kematian masih harus membayar segala macam biaya? Biaya pemakaman, biaya ambulans, dst. Seharusnya mereka justru dibantu.
Saya juga heran sendiri, pikiran saya melayang kepada departemen sosial, kok engga ada pos pos paling bawah yang mampu menjadi tempat darurat? Apa kalau ada masalah begini musti ada seminar dulu ya?

Saya juga tadinya berfikir, bahwa mestinya di kamar mayat RSCM ada orang yang berbaik hati membantu, eh kok malah dilepas begitu saja.

Saya juga tadinya berfikir, bahwa kalau dia masuk kampung di depan salemba raya sana, pak RTnya akan mencarikan surat miskin dari kelurahan.

Saya juga sampai membayangkan alternatif, bahwa Pak Supri sementara meninggalkan anaknya di kamar mayat, dia jalan ke mesjid UI minta bantuan, kan banyak tuh anak mejid di sana yang bisa dimintain bantuannya.

Saya juga membayangkan, bahwa tergeraklah senat fakultas kedokteran dan kedokteran gigi membantu...atau organisasi organisasi kemahasiswaan lainnya.

ah tapi ternyata bayangan saya tidak sama dengan realita, Pak Supri keluar kamar mayat dan jalan sendiri ke depan mencari bajaj, harus bayar pula.

Apakah situasi seperti ini sudah kejadian sehari hari di negara yang pernah dijuluki jambrud katulistiwa gemah ripah lohjinawi, sehingga kita kehilangan kepekaan sosial kita?

Kayaknya peristiwa ini perlu dijadikan suatu monumen, agar kita mempunyai kesempatan melihat kepekaan sosial kita kembali.

tiaraelscot wrote on Jun 9, '05, edited on Jun 9, '05
Alhamdulillah..saya sempat di kirimin email dari temen saya di Indonesia dg forward berita ini..waktu itu saya betul2 menangis tersentuh..dan marah karena beritanya waktu itu sehabis dari RSCM , pak Supriono ini langsung disuruh pergi..dan waktu itu cuma dibantu seadanya..
reaksi saya waktu baca email temen saya itu.. koq pak polisi itu gak tergerak sih membantu dg suka rela mengantar-kan pak supriono ini. apa lagi .dia menggendong mayit dan menggandeng anak kecil..
Anyway..Alhamdulillah ..ternyata masih ada juga yg berhati mulia dan menolong dg ikhlas..Terimah kasih dari saya yg hopeless ini kepada Warga RT 08/RW 01 Manggarai..yg dg rela dan bergotong royong membantu Pak Supriono..
Semoga komentar saya tidak kepanjangan ( sambil nyengir malu )):P
mbot wrote on Jun 9, '05
ReviewReviewReviewReviewReview
Alhamdulillah, ternyata masyarakat Indonesia masih punya hati nurani. Justru ketulusan datang dari orang2 biasa.

Kali ini gue bangga jadi orang Indonesia
myshant wrote on Jun 9, '05
Alhamdulillah, akhirnya Khaerunissa dapat dikuburkan dengan layak
Semoga masih banyak orang2 yg peduli spt warga Manggarai tsb.
btw, mahal juga ya ...mengurus orang meninggal di Jkt.
ckckckck ...600rb untuk seorang pemulung ??
dafira wrote on Jun 9, '05
Alhamdulillah ...
Ketulusan datang dari orang-orang yang mempunyai hati yang putih dan tidak serakah ... orang-orang yang serakah tidak mempunyai hati nurani .... Semoga ketulusan warga Manggarai dibalas oleh Allah SWT. Amin.
wahyu25 wrote on Jun 9, '05
alhamdulillah, semoga allah membalas kebaikan orang-orang itu, amien
nadnuts wrote on Jun 10, '05
Alhamdulillah...
Semoga tidak ada lagi Khaerunnisa2 lainnya...
AMIN
mamieksyamil wrote on Jun 10, '05
Ikut legaa...tapi apakah hanya sampai di sini?? Mudah-mudahan saya tidak cuman lega terus ngacir...
izzahlaila wrote on Jan 12, '07
Dari Abu Hurairah "Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutup aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba-Nya itu suka menolong saudaranya. ...... H.R. Muslim

Bayangkan bila itu terjadi pada diri dan anak2 kita... duh.. sedihnya
Add a Comment
How would you rate this thing? (optional)
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help