Semalam di tivi Belanda ada acara dari Yayasan Peduli Anak di Lombok.
http://www.pedulianak.com/index.php?folder_id=20http://www.pedulianak.com/index.php?folder_id=21&file_id=79 Sebetulnya tayangan ini merupakan tayangan mengetuk hati untuk mencari dana sumbangan pendirian rumah penyantunan anak-anak jalanan. Saat aku duduk melihatnya, aku duduk di samping suamiku. Ngelu dan nyeri melihatnya, anak jalanan dalam kemiskinan harus turut mencari uang menyusuri jalan-jalan dan memulung sampah. Seorang anak melarikan diri dari rumah karena harus tinggal dengan bapak tiri yang tak berperikemanusiaan, dan ia menjadi gelandangan di sepanjang jalan raya, meminta-minta. Anak-anak lain harus membantu orang tuanya di atas gundukan sampah yang sedang diaduk aduk buldoser. Mereka berusia antara 10-12 tahun, tak pernah mengenyam pendidikan. Mereka hidup dalam kemiskinan yang paling dalam. Saat film tayangan itu berlangsung, suamiku yang berbadan luarbiasa besar, tinggi dan tegak itu, ternyata pun mengucurkan air mata.
Tak heran jika film ini ternyata langsung mendapatkan reaksi luar biasa dari para penonton. Bisa dilihat dalam berbagai komentar yang ada dalam URL ini:
http://www.llink.nl/Chaim_Fetter.889.0.html Banyak diantara penonton di Belanda terketuk untuk menjadi sponsor, keluarga-keluarga yang akan mengirim berbagai mainan, buku, pakaian untuk anak-anak itu. Bukan hanya bantuan materi ditawarkan, tetapi bantuan berbagai tenaga, mulai dari tenaga yang bersedia membantu membangun rumah penyantunan, sekolah, dan klinik yang tengah di bangun.
Bagiku menarik sekali, siapa di belakang ini? Anak muda idealis Belanda. Chaim Fetter, usianya masih 25 tahun. Ia adalah pengusaha muda di bidang IT di Eindhoven. Saat beberapa tahun lalu ia berlibur ke Bali, ia berkenalan dengan anak-anak jalanan yang mengejar para turis untuk membawakan barang belajaan. Ia berkenalan dengan seorang anak berusia 10-an tahun. Tidak bersekolah. Ia mengambil anak ini dan menitipkannya pada seorang guru, dari Belanda ia membantu mengongkosinya untuk bersekolah. Tahun lalu ia menjual semua asset perusahaan dan mobil mercedesnya, berangkatlah ia ke Lombok. Bersama beberapa kenalan ia membuat survey anak jalan, melakukan interviu ratusan anak jalanan, dan memberinya makan. Untuk kemudian ia mulai mengumpulkan beberapa anak untuk ditampungnya.
Kini ia sibuk membangun sebuah panti penampungan yang cukup besar yang terdiri dari asrama, sekolah, dan klinik. Saat ia sibuk membangun, beberapa anak muda Belanda turut terjun bersamanya, terutama Jill seorang gadis cantik yang mempunyai pendidikan sebagai pembimbing anak-anak di rumah penyantunan. Bersama anak-anak muda Lombok lainnya, menjaga dan mengasuh anak-anak itu.
Saat itu seorang petugas yang menjadi pengasuh di rumah itu, sempat dipecat oleh Chaim. Karena cara pendekatan yang dilakukan adalah justru mengancam seorang anak 10 tahun, jika tidak menurut, akan dipecat dari sana. Chaim marah luar biasa, menurutnya, si anak perlu perlindungan, bukan hanya fisiknya, tetapi juga perasaannya. Saat-saat ia menangisi hidupnya, rindu dengan keluarganya di jalanan, memprihatinkan adiknya, dan ia masih perlu merubah cara-cara hidupnya dari hidup gentayangan ke cara-cara hidup seorang anak lainnya, maka anak ini memerlukan payung rasa cinta kasih, bukan justru diancam dan mendapatkan kemarahan saat ia bersedih dan menangis. Terhadap pengasuh yang juga seorang laki2 muda itu, Chaim si anak muda Belanda 25 tahun, yang bekerja tanpa pamrih itu mengatakan: I m very disappointed. And Angry. You are not good enough for this job.